Pendopo

Terhampar seluruh getar hati dalam setiap kata dan maknanya. Terdendang sebuah kisah yang sempat tertoreh di seperempat waktu. Kebahagiaan terasa hanya beberapa kejap dari usia yang tak lagi dihitung oleh hitungan tahun tetapi oleh kedalaman rasa. Maka, di atas sajadah kata ini, ku berusaha memetik dawai hati, nyanyikan kidung sunyi yang rindukan buaian mimpi. Tak usah membuka telinga, belalakkan mata, apalagi memaksa batu bicara pada takdir. Bukan pula penulis, tetapi tetap mencoba menulis.

HUMANISASI METODE PEMBELAJARAN


Judul Buku : Cooperative Learning, Teori dan Aplikasi PAIKEM
Penulis : Agus Suprijono
Penerbit : Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Cetakan : November 2009
Tebal : xvi + 189 halaman
Peresensi : Anwar Nuris *


Education is not a preparation for life, education is life itself.

Pendidikan bukanlah persiapan untuk kehidupan, pendidikan adalah kehidupan itu sendiri. (John Dewey)

 

Apa yang dikhawatirkan oleh dua tokoh pendidikan, Paolo Freire dan Ivan Illich, bahwa pendidikan sekolah lebih sering menjadi alat legitimasi oleh sekelompok elit sosial politik untuk menjinakkan kesadaran kritis masyarakat, mendekati kebenarannya. Ivan Illich melalui Deschooling Society-nya mengungkapkan bahwa anggapan mengenai sekolah sebagai satu-satunya lembaga pendidikan adalah bias dari kehidupan kapitalis yang telah merasuk dalam kesadaran masyarakat. Menurutnya, sekolah adalah fenomena modern yang lahir seiring dengan perkembangan masyarakat industri kapitalis. Konspirasi terselubung antara pendidikan dan kapitalisme menurutnya juga tak lepas dari dukungan pemerintah (kekuasaan), sehingga daya hegemonik yang diciptakannya menjadi massif.

Sedangkan bagi Paolo Freire sendiri, ada dua pandangan dunia (world view) yang mempersepsikan manusia kepada dunianya. Pertama, melihat manusia sebagai objek yang dapat dibentuk dan disesuaikan. Dalam konsep ini manusia berdiam diri, kalaupun melakukan tindakan hanya bersifat pasif atau patuh tanpa ada waktu untuk merefleksikan diri. Pola pendidikan yang berdasarkan pandangan pertama ini diterapkan untuk melanggengkan status quo karena proses belajar hanya sebatas proses transfer pengetahuan sehingga manusia hanya menampung pengetahuan tersebut atau lebih dikenal dengan “gaya bank”.

Kedua, melihat manusia sebagai subyek, makhluk yang bebas dan mampu melampaui dunia. Pendidikan diarahkan agar manusia bisa berpikir untuk diri sendiri dan dapat berintegrasi di dunianya melalui aksi dan refleksi. Cara pandang yang melihat manusia sebagai subjek, pada gilirannya melahirkan pendidikan hadap masalah. Gaya pendidikan hadap masalah bukan bertujuan membentuk manusia yang hanya mampu beradaptasi, tetapi manusia harus mampu berintegrasi dengan lingkungannya dan melakukan perubahan.

Namun dalam konteks pendidikan di Indonesia, terdapat kejanggalan mengenai proses yang diterapkan. Hal ini bisa kita lihat dengan adanya disparitas antara pencapaian academic standard dan performance standard. Faktanya, banyak peserta didik mampu menyajikan tingkat hafalan yang baik terhadap materi ajar yang diterimanya, namun pada kenyataannya mereka tidak memahaminya. Mayoritas peserta didik tidak mampu menghubungkan antara apa yang mereka pelajari dengan bagaimana pengetahuan tersebut akan dipergunakan.

Disparitas terjadi karena pembelajaran selama ini hanyalah suatu proses pengkondisian-pengkondisian yang tidak menyentuh realitas alami. Pembelajaran berlatar realitas arti fisial. Aktifitas kegiatan belajar mengajar selama ini merupakan pseudo pembelajaran. Terdapat jarak cukup jauh antara materi yang dipelajari dengan peserta didik sebagai insan yang mempelajarinya.

Sebagai medium pendekat antara materi dan peserta didik pada pembelajaran arti fisial adalah aktifitas mental berupa hafalan. Pembelajaran lebih menekankan memorisasi terhadap materi yang dipelajari dari pada struktur yang terdapat di dalam materi itu. Pembelajaran ini melelahkan dan membosankan. Belajar bukan manifestasi kesadaran dan partisipasi, melainkan keterpaksaan dan mobilisasi. Dampak psikis ini tentu kontra produktif dengan hakikat pendidikan itu sendiri yaitu memanusiakan manusia atas seluruh potensi kemanusiaan yang dimiliki secara kodrati.

Pembelajaran menunjuk pada proses belajar yang menempatkan peserta didik sebagai center stage performance. Pembelajaran lebih menekankan bahwa peserta didik sebagai makhluk yang berkesadaran memahami arti penting interaksi dirinya dengan lingkungan yang menghasilkan pengalaman. Yaitu dalam mengembangkan seluruh potensi kemanusiaan yang dimilikinya.

Buku Cooperative Learning ini hadir sebagai implikasi kerisauan penulis atas sistem pembelajaran yang masih kaku, dan masih banyak diterapkan di lembaga pendidikan di Indonesia. Buku ini bermaksud merenovasi pembelajaran bagi peserta didik untuk menuju pembelajaran yang berkualitas, humanis, organis, dinamis, dan konstruktif. Yaitu dengan pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAIKEM).

Pondasi kritis dan rasional PAIKEM adalah filsafat konstruktifisme. Berdasarkan konstruktifisme pembelajaran ini merupakan proses konstruksi pengetahuan, bukan duplikasi pengetahuan. Pengetahuan di konstruk pada latar kenyataannya, bukan seharusnya. Pengetahuan yang di pelajari dan disetting berdasarkan autentisitasnya, bukan arti fisialnya. PAIKEM sebagai proses learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to live together mendorong terciptanya kebermaknaan belajar bagi peserta didik. (hal. 31).

Nilai plus buku setebal 189 ini adalah di samping menjelaskan kerangka teori yang meliputi arti belajar, dukungan teoritis, model pembelajaran, dan pembelajaran kontekstual, juga mengulas bagaimana mempraktikkan metode-metode PAIKEM; mulai dari metode jigsaw hingga metode student teams-achievement divisions. Karena itu, dalam proses belajar mengajar, apa, mengapa, dan bagaimana PAIKEM merupakan rumusan-rumusan yang harus dijawab guru dan jawaban tersebut merupakan pengetahuan deklaratif, struktural, dan prosedural yang hampir semuanya tersaji dalam buku ini. Aspek pengetahuan-pengetahuan tersebut penting sebagai landasan bagi guru maupun calon guru dalam berpikir logis dan bertindak professional atas profesinya.

Dus, pembelajaran sebagai key word pendidikan seyogyanya mengajari bagaimana caranya belajar dan bukan memberikan instruksi tentang suatu pelajaran tertentu. Apa yang harus dipelajari tidaklah benar-benar penting. Yang penting adalah bagaimana cara mempelajarinya. Implementasi berbagai metode pembelajaran yang disajikan buku ini, niscaya proses pembelajaran akan lebih manusiawi.

 

Anwar Nuris, kontributor Pondok Budaya IKON Surabaya. Tulisan ini sudah di muat di Harian Radar Surabaya, Minngu, 10 Januari 2010

read more “HUMANISASI METODE PEMBELAJARAN”

DESAKRALISASI TEKS AL-QUR’AN


Judul Buku : Metodologi Studi Al-Qur’an
Penulis : Abd. Moqsith Ghazali, dkk.
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan : I; November 2009
Tebal : xxvi + 176 halaman
Peresensi : Anwar Nuris *

Sejak Edward Said melakukan serangan terhadap orientalisme, studi kritis tentang sejarah pembentukan Islam menjadi sebuah anatema (sesuatu yang kurang disukai). Sarjana Muslim yang hendak melakukan studi kritis terhadap Al-Qur’an, Hadis maupun sejarah Nabi Muhammad, akan ragu, karena mereka khawatir disamakan dengan para orientalis yang memang memiliki citra sangat buruk di dunia Islam.
Dengan beban psikologis seperti itu, studi kritis terhadap sumber-sumber Islam klasik tak bisa lagi dilakukan secara bebas. Para sarjana Islam yang mencoba melakukan kritik terhadap tradisi Islam klasik merasa perlu terlebih dahulu melakukan disclaimer bahwa mereka bukanlah orientalis, dan apa yang mereka lakukan sesungguhnya demi kebaikan peradaban Islam, dan bukan karena membela kepentingan Barat atau orientalisme.
Beban psikologis itu tentu amat mengganggu, menguras energi dan waktu. Alih-alih memfokuskan diri kepada pokok pembahasan, para sarjana Muslim sibuk berdebat tentang hal-hal yang sama sekali tidak pokok. Padahal, kalau mereka langsung masuk ke pangkal permasalahan tanpa terlalu mempersoalkan dari mana sebuah metode ilmu didapat, maka akan banyak hal yang bisa dihasilkan dengan segera.
Begitu juga yang terjadi pada proses pemahaman terhadap Al-Qur’an sebagai wahyu Ilahi yang berisi nilai-nilai universal. Sebagaimana dimafhum bersama, nilai-nilai dasar Al-Qur’an mencakup berbagai aspek kehidupan manusia secara utuh dan komprehensif (Q.S. al-An῾am: 37). Tema-tema pokoknya mencakup aspek ketuhanan, manusia sebagai individu dan anggota masyarakat, alam semesta, kenabian, wahyu, eskatologi, serta makhluk spiritual. Eksistensi, orisinalitas, dan kebenaran ajarannya dapat dibuktikan oleh sains modern (Q.S. al-Hujurat: 9), sedang tuntunan-tuntunannya adalah rahmat bagi semesta alam (Q.S. al-Furqan: 1).
Namun demikian, Islam sendiri bukanlah suatu creatio ex nihilo, ciptaan yang meloncat begitu saja dari ruang kosong. Begitu juga Al-Qur’an yang tidak lepas dari historisitas-sosiologisnya. Al-Qur’an tidak boleh ditonjolkan sebagai kitab (teks) antik yang harus dimitoskan maupun dikultuskan, karena hal tersebut bisa menciptakan jarak antara Al-Qur’an dengan realitas sosial. Al-Qur’an di satu pihak diidealisasi sebagai sistem nilai sakral dan transendental, sementara di pihak lain realitas sosial yang harus dibimbingnya begitu pragmatis, rasional, dan materialistis.
Nashr Hamid Abu Zayd dalam salah satu karyanya; Mafhum al-Nash; Dirasat fi Ulum al-Qur’an menegaskan bahwa peradaban Arab-Islam adalah peradaban teks. Artinya perlu adanya penakwilan dan reinterpretasi teks-teks keagamaan untuk menyemangati nilai-nilai kemanusiaan. Karena yang berkembang selama ini hanya penafsiran yang mengunggulkan aspek transendensi dan sakralitas, tapi mengenyampingkan aspek historisitas-sosiologis yang menyapa realitas kemanusian dengan santun dan elegan. Seperti yang dilakukan oleh kaum fundamentalis dengan pemahaman agama yang bersifat literalis-skripturalistik dan bibliolatrik menyebabkan supremasi teks yang berlebihan, dimensi manusia (ghayah al-insan) hilang dari modus keberagamaan, serta pengasingan manusia dari pengalaman spiritualnya sendiri.
Fenomena ambiguitas seputar teks di atas membuat para pemikir muda merasa galau dan risau. Adalah Abd. Moqsith Ghazali, Luthfi Assyaukanie, dan Ulil Abshar Abdalla yang mencoba menarik napas kegalauan dan memuntahkannya dalam sebuah karya brilian, Studi Metodologi al-Qur’an. Mereka yang dilahirkan dari rahim kaum tradisional-liberal (baca: Nahdlatul Ulama/NU), mampu melakukan terobosan pemikiran yang melampaui khazanah tradisionalismenya. Buku ini menjadi bukti otoritas keilmuannya dalam membedah diskursus metodologi yang tertancap dalam kitab suci Al-Quran.
Mereka melakukan penjelajahan khazanah keilmuan Al-Quran, sehingga menghasilkan sintesis pemikiran yang memukau: alternatif metodologi atau wajah baru pemahaman Al-Quran sebagai kitab yang tidak lepas dari kerangka historisitasnya. Penjelajahannya dalam samudera keilmuan metodologi studi Al-Quran bisa terlihat dari pembacaan kritisnya atas al-Itqan fi Ulum al-Quran karya Jalal al-Din al-Suyuthi dan al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an karya al-Qurthubi.
Buku Metodologi studi Al-Qur’an yang di tulis oleh tiga intelektual muslim generasi baru yang paham khazahah klasik dan khazanah modern ini pasti akan mendorong diskusi sehat dan dewasa di kalangan umat Islam di Indonesia yang semakin cerdas. Penulis menyorot proses penulisan wahyu yang notabene sebagai domain iman yang berada di seberang ranah ilmu pengetahuan. Begitu juga bagaimana misalnya kompleksitas penulisan dan kodifikasi Al-Qur’an berlangsung hingga bagaimana cara memaknai dan menafsirkan Al-Qur’an dalam konteks sekarang.
Buku setebal 176 halaman ini bermaksud memberikan pemaknaan terhadap Al-Qur’an dari sudut normatif sekaligus historisnya. Di samping memiliki nilai partikular yang historis-tarikhi, tak bisa disembunyikan bahwa dalam Al-Qur’an juga terkandung nilai universal yang meta-historis-all tarikhi. Posisi Al-Qur’an yang selalu berada di antara dua ketegangan (kesementaraan dan keabadian, partikularitas dan universalitas, ushuliyyat dan furu’iyyat) menyebabkan Al-Qur’an sebagai kitab suci selalu menarik untuk dikaji dan ditelaah.
Tidak seperti umumnya buku-buku tentang Al-Qur’an yang suka menenggelamkan kritik historisnya, buku ini sengaja menyingkap tirai (kasyf al-mahjub) kesejarahan Al-Qur’an secara dingin dan objektif. Oleh karena itu, lebih bijaksana jika tidak di hadapi dengan anarkisme intelektual bagi mereka yang tidak setuju dengan pemikiran para penulis buku ini.


* Anwar Nuris, Mahasiswa semester bonus Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya, sekarang nyantri di Pondok Budaya IKON Surabaya. Tulisan ini sudah di muat di Harian Duta Masyarakat, Ahad, 27 Desember 2009.
read more “DESAKRALISASI TEKS AL-QUR’AN”

GERAKAN PENA KAUM SARUNGAN


Judul Buku : Jalan Terjal Santri Menjadi Penulis
Penulis : Rizal Mumazziq Zionis, dkk.
Editor : Tsanin A. Zuhairi, S,Hi, M.Si.
Prolog : Prof. Dr. H. Nur Syam, M.Si
Penerbit : Muara Progresif, Surabaya
Cetakan : I; 2009
Tebal : vii + 224 halaman
Peresensi : Anwar Nuris *

Verba volant, scripta manent
(kata-kata akan sirna, tulisan akan membuatnya abadi)

Di tengah maraknya santri pesantren saat ini yang syndrom jejaring sosial semacam Facebook sebagai media sharing dan menulis, terdapat anekdot menarik yang berkembang dikalangan mereka. Seorang santri yang tidak mau dan mampu menulis, ibarat burung bersayap satu. Burung itu hanya mampu meloncat dari satu dahan ke dahan yang lain, atau terbang pendek dari satu pohon ke pohon lain yang jaraknya sangat dekat. Santri yang tidak mau menulis hanya mampu mengaji dan mengkaji dari satu halaqah ke halaqah yang lain. Santri yang mau menulis akan mampu mengembangkan pemikiran dan ilmu mereka lebih luas, tanpa dibatasi oleh sekat apapun, terlebih di era digital seperti sekarang ini.
Mereka (santri) sepertinya tersihir oleh lembar sejarah kepenulisan para pendahulunya. Aviecena (Ibnu Sina) yang dikenal karena kepakarannya di bidang kedokteran. Buah karyanya berjudul al-Qanuun fi al-Thibb menjadi rujukan beberapa fakultas kedokteran di Barat. Bahkan dengan karyanya itu, ia dinobatkan sebagai bapak kedokteran dunia. Selain itu ada Imam al-Ghazali dengan magnum opus-nya Ihya’ Ulumiddin yang konon menjadi rujukan negeri Barat dan Eropa selama lebih kurang 7 abad lamanya. Al-Khawarizmi, Omar Khayyam, Nashir Al-Din Thusi sang profesor Matematika, Ibnu Al-Haytam yang ahli Eksprimentalis, Al-Biruni sang pegiat Fisika, Ar-Razi yang menggeluti ilmu Kimia, dan masih banyak yang lainnya.
Buah pemikiran cendikiawan yang dituangkan dalam bentuk tulisan tersebut telah merubah peradaban dunia hingga seperti sekarang. Berkat buku yang di dalamnya terdapat banyak ilmu pengetahuan telah menjadikan dunia lebih berwarna. Alam tidak lagi gelap karena Thomas Alfa Edison yang telah menemukan listrik. Manusia bisa bepergian cepat sampai tujuan dengan sarana kereta api berkat mesin uap yang ditemukan James Watt. Karya-karya mereka lah yang membuat mereka dikenal. Karya yang tidak lapuk oleh waktu, karena ditulis dalam sebuah media bernama buku atau kitab, sehingga bisa dinikmati oleh generasi yang jauh di bawahnya.
Dalam konteks Indonesia, Tradisi kepenulisan juga amat kuat. Banyak cendekiawan Islam di negeri ini yang menulis buku, kitab, atau pun karya tulis yang lain. Mayoritas dari mereka dididik dan dibesarkan oleh lingkungan pesantren.
Sebagaimana kita ketahui, pesantren memiliki tradisi unik dan unggul yang jarang didapat pada lembaga lain. Dan salah satu keunikan tersebut adalah tradisinya dalam mengembangkan warisan keilmuan ulama salaf (al-salaf al-shaleh). Pola gerakan yang dilakukan ulama salaf untuk memperoleh dan mentransformasikan keilmuannya tidak hanya membaca dan mengkaji, tetapi berkontemplasi dan kemudian menerjemahkan pemikirannya dalam bentuk tulisan.
Mereka (ulama salaf) mampu melahirkan dan mewariskan karya-karya tulis yang ternyata masih dipelajari oleh berbagai pondok pesantren atau sekolah sampai sekarang. Tidak sedikit pula dari karya ulama atau kiai Indonesia yang dikenal luas di berbagai belahan bumi. Syekh Nawawi Al-Bantani, Syekh Mahfudz Al-Tirmasi, atau Syekh Yasin Al-Fadani Al-Makky adalah di antara para punggawa pesantren di Indonesia yang karyanya telah melabuhi pemikiran intelektual Islam di berbagai Negara.
Selain mereka, “santri Indonesia” yang lain juga banyak menelorkan karya-karya yang bagus dan monumental. Beberapa nama yang dapat disebut di antaranya adalah KH. Ma’shum Ali dengan al-Amtsilatut Tashrifiyah, KH. Hasyim Asy’ari dengan Adab al-Alim wa al-Muta’allim, KH Bisri Mustofa dengan Tafsir al-Ibriz dan KH. Sahal Mahfudz dengan Thariqah al-Ushul ala al-Ghayah al-Ushul. Rata-rata tulisan mereka tetap di baca saat ini bahkan menjadi referensi utama dalam setiap kajian maupun pengajian dilingkungan pesantren.
Dus, santri sebagai salah satu elemen pesantren tidak hanya ta’dzim terhadap pemikiran gurunya, tetapi juga patuh dan meniru dalam usaha mendapatkan pemikiran kreatif. Kreatifitas menulis yang dikembangkan kaum santri akan menjadi media dakwah sejati bagi umat Islam dan untuk generasi mendatang nanti. Pesantren tidak akan disebut lembaga eksklusif bila mampu melahirkan pemikiran kreatif serta ide-ide cerdas demi pengembangan dan dakwah Islam sesuai dengan visi dan misi pesantren.
Oleh karena itu, persepsi yang berkembang bahwa tradisi menulis di kalangan santri kini lengang dan seakan mati suri itu tidak benar adanya. Buku Jalan Terjal Santri menjadi Penulis ini hadir sebagai bukti bahwa kaum santri intelektual (pesantren) telah "berusaha" mengikuti gerakan pena para pendahulunya meskipun hanya sebatas tulisan pendek (opini, artikel, antologi sastra, kolom, dan lain-lain) yang tersebar di media massa maupun elektronik.
Buku ini juga sebagai antitesa terhadap anggapan mayoritas masyarakat bahwa menulis itu adalah bakat. Faktanya, menulis dapat dipelajari asal ada kemauan, keberanian, dan ketekunan berlatih. Dengan kemauan kuat, setiap orang akan mahir menulis. Membaca teori saja tidak pernah cukup. Ibarat orang belajar berenang, kalau hanya membaca teori tanpa pernah mempraktikkan, tentu dia tidak akan bisa berenang. (hal. 20-21).
Buku setebal 224 halaman ini merupakan kumpulan tulisan (curhat) tentang lika-liku penulis pemula maupun yang sudah agak tua dalam upaya menyuratkan ide yang tersirat. Mereka yang mayoritas santri asli Jawa Timur ini sebagian besar telah menempuh Perguruan Tinggi. Mereka aktif diberbagai kajian dan aktivitas yang tak jauh dari minat mereka. Adalah Rijal Mumazziq Zionis, Noviana Herliyanti, Nur Faishal, Mohammad Suhaidi RB, Ach. Syaiful A’la, Azizah Hefni, Ahmad Muchlish Amrin, Salman Rusydi Anwar, Muhammadun AS, Ana FM, Ahmad Khotib, Fathorrahman JM, dan Hana Al-Ithriyah.
Dengan menulis mereka dapat mengatasi rasa amarah, iri, kelemahan diri, dan kebencian yang ada di hati. Menulis jelas sangat membantu mereka untuk mengatasi rasa sok tahu. Menulis dapat membuat diri lebih berhati-hati dalam memutuskan sesuatu.
Dari tulisan-tulisan mereka dalam buku ini dapat diketahui bahwa jalan terjal yang dimaksud yaitu; memelihara keinginan dan semangat yang kuat, manajemen waktu yang mapan, banyak membaca dan berfikir, optimistis, komitmen dan idealisme yang tinggi, membebaskan diri dari keterikatan rasa salah, serta mencari dan menemukan tanpa menunggu berpangku tangan.
Sebuah buku yang melelahkan namun mata tak mau terpejam.

* Anwar Nuris, Alumnus Pondok Pesantren Nasy-atul Muta’allimin Gapura Sumenep Madura, sekarang nyantri di Pondok Budaya IKON Surabaya. Tulisan ini sudah di muat di Media Elektronik NU Online, PBNU.


read more “GERAKAN PENA KAUM SARUNGAN”

MEMBUMIKAN MANAJEMEN DALAM DUNIA PENDIDIKAN


Judul Buku : Education Management; Analisis Teori dan Praktik
Penulis : Veithzal Rivai & Sylviana Murni
Penerbit : Rajawali Pers, Jakarta
Cetakan : I, 2009
Tebal : xxii + 916 halaman
Peresensi : Anwar Nuris *
Management is doing things right; leadership is doing the right things
(Peter Drucker)

Bertolak dari asumsi bahwa life is education and education is life dalam arti pendidikan sebagai persoalan hidup dan kehidupan maka diskursus seputar pendidikan merupakan salah satu topik yang selalu menarik. Setidaknya ada dua alasan yang dapat diidentifikasi sehingga pendidikan tetap up to date untuk dikaji. Pertama, kebutuhan akan pendidikan memang pada hakikatnya krusial karena bertautan langsung dengan ranah hidup dan kehidupan manusia. Membincangkan pendidikan berarti berbicara kebutuhan primer manusia. Kedua, pendidikan juga merupakan wahana strategis bagi upaya perbaikan mutu kehidupan manusia, yang ditandai dengan meningkatnya level kesejahteraan, menurunnya derajat kemiskinan dan terbukanya berbagai alternatif opsi dan peluang mengaktualisasikan diri di masa depan.
Dalam tataran nilai, pendidikan mempunyai peran vital sebagai pendorong individu dan warga masyarakat untuk meraih progresivitas pada semua lini kehidupan. Di samping itu, pendidikan dapat menjadi determinan penting bagi proses transformasi personal maupun sosial. Dan sesungguhnya inilah idealisme pendidikan yang mensyaratkan adanya pemberdayaan.
Namun dalam tataran ideal, pergeseran paradigma yang awalnya memandang lembaga pendidikan sebagai lembaga sosial, kini dipandang sebagai suatu lahan bisnis basah yang mengindikasikan perlunya perubahan pengelolaan. Perubahan pengelolaan tersebut harus seirama dengan tuntutan zaman.
Situasi, kondisi dan tuntutan pasca booming-nya era reformasi membawa konsekuensi kepada pengelola pendidikan untuk melihat kebutuhan kehidupan di masa depan. Maka merupakan hal yang logis ketika pengelola pendidikan mengambil langkah antisipatif untuk mempersiapkan diri bertahan pada zamannya. Mempertahankan diri dengan tetap mengacu pada pembenahan total mutu pendidikan berkaitan erat dengan manajemen pendidikan adalah sebuah keniscayaan. 
Pembenahan secara total meliputi segala aspek. Jika ini dilakukan maka akan membentuk sebuah jaringan yang kuat yang secara serentak melaju mencapai tujuan/sasaran. Dengan demikian maka sebuah lembaga pendidikan akan tetap eksis dan terus berkembang dalam kancah persaingan global.
Kepekaan melihat kondisi global yang bergulir dan peluang masa depan menjadi modal utama untuk mengadakan perubahan paradigma dalam manajemen pendidikan. Modal ini akan dapat menjadi pijakan yang kuat untuk mengembangkan pendidikan. Pada titik inilah diperlukan berbagai komitmen untuk perbaikan kualitas. Manakala tahu melihat peluang, dan peluang itu dijadikan modal, kemudian modal menjadi pijakan untuk mengembangkan pendidikan yang disertai komitmen yang tinggi, maka secara otomatis akan terjadi sebuah efek domino (positif) dalam pengelolaan organisasi, strategi, SDM, pendidikan dan pengajaran, biaya, marketing pendidikan.
Untuk menuju point education change (perubahan pendidikan) di atas secara menyeluruh, maka manajemen pendidikan adalah hal yang harus diprioritaskan untuk kelangsungan pendidikan sehingga menghasilkan out-put yang diinginkan. Walaupun masih terdapat institusi pendidikan yang belum memiliki manajemen yang bagus dalam pengelolaan pendidikannya. Manajemen yang digunakan masih konvensional, sehingga kurang bisa menjawab tantangan zaman dan terkesan tertinggal dari modernitas. (hal. 633)
Dengan semangat education changes, pertanyaan lain kemudian muncul, mau dikemanakan arah pendidikan di Indonesia saat ini?. Pertanyaan ini dilatarbelakangi oleh ketidakjelasan arah pendidikan di negeri ini; setiap ganti kepemimpinan, ganti kebijakannya. Seolah-olah pendidikan di Indonesia tidak memiliki blue print yang jelas. Belum pada tingkat yang lebih rendah, misalnya, dalam kaitan teknis pendidikan, banyak sekali instiotusi pendidikan (baik pada tataran sekolah hingga perguruan tinggi) pengelolaannya tidak profesional. Mulai perencanaan, sistem pendidikan, sarana-prasarana, Sumber Daya Manusia (SDM), hingga sistem manajemennya.
Kalau manajemen pendidikannya sudah tertata dengan baik dan membumi, niscaya tidak akan lagi terdengar tentang pelayanan sekolah yang buruk, minimnya profesionalisme tenaga pengajar, sarana-prasarana tidak memadai, pungutan liar, hingga kekerasan dalam pendidikan. (Hal. 47)
Hal ini mengakibatkan sasaran-sasaran ideal pendidikan yang seharusnya bisa dipenuhi ternyata tidak bisa diwujudkan. Parahnya terkadang para pengelola pendidikan tidak menyadari akan hal tersebut. Oleh karena itu, buku Education Management; Analisis Teori Dan Praktik ini secara mendetail sistematis mengulas teori-teori paling mendasar dalam dunia kependidikan, sehingga dapat digunakan sebagai pijakan menanggapi setiap problematika negatif yang mengancam keberlangsungan pendidikan yang ideal. Selain itu juga sebagai counter balances akan isu-isu yang berkaitan dengan manajemen pendidikan dalam wilayah praksis dan riil.
Buku setebal 916 halaman ini memberikan ruang diskursus lebih mendalam, tidak hanya teori tetapi juga wilayah praktiknya. Yang agak berbeda dengan buku manajemen pendidikan lainnya, buku yang ditulis oleh Veithzal Rivai dan Sylviana Murni ini berangkat dari pengembangan unsur terpenting pendidikan (Sumber Daya Manusia), yaitu gagasan dasar pendidikan sebagai proses di mana seseorang memperoleh pengetahuan (knowledge acquisition), mengembangkan kemampuan/keterampilan (skills developments) sikap atau mengubah sikap (attitute change). Pendidikan adalah suatu proses transformasi anak didik agar mencapai hal-hal tertentu sebagai akibat proses pendidikan yang diikutinya.
Buku ini juga berangkat dari asumsi dasar teori manajemen, bahwa manajemen pendidikan dalam perkembangannya memerlukan apa yang dikenal dengan Good Management Practice untuk pengelolaannya. Buku ini hadir tepat pada waktunya, yaitu ketika praktek Good management practice dalam pendidikan masih merupakan suatu hal yang elusif. Banyak penyelenggara pendidikan yang beranggapan bahwa manajemen pendidikan bukanlah suatu hal yang penting, karena kesalahan persepsi yang menganggap bahwa domain manajemen adalah bisnis.
Dengan bahasa yang mudah dipahami, buku ini mampu menjelaskan teori-teori manajemen yang rumit; education change, total quality management, hingga management by objective. Sebuah oase deskriptif pendidikan yang melelahkan.

* Mahasiswa Semester Bonus Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya, dan Nyantri di Padepokan IKMAS (Ikatan Mahasiswa Sumenep) di Surabaya. Tulisan ini sudah di muat di Harian Duta Masyarakat, Edisi Minggu 16 Agustus 2009.


read more “MEMBUMIKAN MANAJEMEN DALAM DUNIA PENDIDIKAN”

ILMU FILSAFAT VERSUS FILSAFAT ILMU


(Kajian Etimologis-terminologis)

A. HANTARAN
Ada yang mengasumsikan bahwa filsafat itu sulit, sulit dalam artian bukan karena tidak adanya definisi apa itu filsafat, melainkan karena terlalu banyaknya definisi yang di introdusir oleh para tokoh filsafat. Filsafat sudah menjadi disiplin ilmu yang berdiri sendiri, mempunyai ruang definisi-perspektif masing-masing, baik dalam kerangka ontologism, epistimologis, dan aksiologis, layaknya disiplin ilmu pengetahuan yang yang lain. 
Salah satu cara untuk mempermudah memahami filsafat adalah mengetahui filsafat dalam bingkai histories-geneologis, artinya filsafat harus diketahui dari proses sejarah pemikiran, aliran dan tokoh filsafat yang bersangkutan. hal ini dimungkinkan dapat mengetahui dan mampu mengidentifikasi kerangka ontologism, epistimologi, dan aksiologis disiplin ilmu ini.
Dus, perlu ada semacam pengkajian awal terhadap preodisasi yang (dalam hal ini adalah filsafat barat) dibuat oleh para ahli filsafat. Secara umum, periodisasi pemikiran filsafat barat itu dapat di bedakan dan di klasifikasikan sebagai berikut;

B. DESKRIPSI
1. Zaman Yunani Kuno (5 SM – 2 M)
Pada masa ini filsafat lebih bercorak Kosmosentris, artinya para filsuf pada waktu itu mengarahkan perhatian mereka terhadap masalah-masalah yang berkaitan dengan asal mula terjadinya alam semesta. Mereka berupaya mencari jawaban tentang prinsip pertama (arkhe) dari alam semesta, oleh karena itu mereka lebih dikenal dengan julukan “filsuf-filsuf alam”. Tokoh yang termasyhur pada zaman ini antara lain; Thales, Anaximandros, Anaximenes, dan lain-lain. 
2. Zaman Klasik Yunani (5 SM – 2 M)
Pada masa ini filsafat lebih bercorak Antroposentris, artinya para filsuf dalam periode ini menjadikan manusia (antropos) sebagi objek pemikiran filsafat mereka. Mereka berupaya mencari jawaban tentang masalah etika (filsafat tingkah laku) dan juga tentang hakikat manusia. Tokoh kesohor pada masa ini antara lain; Socrates, Plato, Aristoteles. Mereka di juluki filsuf klasik, karena ide-ide mereka tetap aktual.
3. Abad Pertengahan (2 - M)
Pada masa ini filsafat lebih bercorak Theosentris, artinya para filsuf dalam periode ini menjadikan filsafat sebagai abdi agama atau filsafat diarahkan pada masalah ketuhanan. Suatu karya filsafat dinilai benar sejauh tidak menyimpang dari ajaran agama (Christiany). Tokoh yang paling piawai pada masa ini antara lain; Agustinus dan Thomas Aquines.
4. Zaman Renaissance (14 – 16 M)
Pada masa ini para ahli fakir berupaya melepaskan diri dari dogma-dogma agama. Bagi mereka citra filsafat yang paling bergengsi adalah zaman klasik Yunani. Oleh karena itu mereka mendambakan kelahiran kembali filsafat yang bebas, radikal, tidak terikat pada ajaran agama. Cita-cita ini terwujud dengan baik karena ditunjang oleh factor penyebab sebagai berikut;
a. Pudarnya kewibawaan dewan gereja yang dianggap terlalu banyak mencampuri kegiatan ilmiyah. Misalnya saja yang terjadi pada seorang filsuf, bruno, lantaran kegiatan ilmiyahnya dianggap tidak sesuai dengan ajaran agama.
b. Orang tidak lagi mempercayai nilai universalisme yang dianggap terlalu abstrak. Orang lebih mendambakan nilai-nilai individualisme yang bersifat konkret dan lebih banyak memberikan kesempatan untuk menggunakan akal piker secara bebas.
5. Abad Modern (16 – 19 M)
Corak pemikiran filsafat pada masa ini kembali pada masalah Antroposentris, serupa dengan masa klasik Yunani, namun lebih mengagungkan kemampuan akal piker manusia. Tokoh yang termasyhur pada masa ini antara lain; Rene Descartes, David Hume, Immanuel Kant, Wilhem Frederick Hegel, dan August Comte. Pendewaan terhadap akal pikir manusia itu tampak jelas dalam semboyan Descartes, Cogito Ergo Sum.
6. Abad Keduapuluh
Meskipun sulit untuk menentukan corak pemikiran filsafat yang khas pada masa ini, namun banyak ahli filsafat yang bercorak Logosentris, lebih dominan dari yang lain. Logosentris artinya, mayoritas filsuf pada masa ini melihat bahasa sebagai objek terpenting pemikiran mereka. Tokoh yang paling piawai pada masa ini antara lain; G. E Moore, Bethrand Russell, Wittgenstein, Ryle, Austin, dan lain sebagainya.

C. FILSAFAT; TITIK TOLAK KEHAUSAN BERFIKIR
Lahirnya filsafat yaitu bermula dari aktivitas berpikir manusia. Berpikir yang dapat disebut berfilsafat adalah berpikir yang radikal (mendasar, mendalam, sampai ke akar), sistematis (teratur, logis dan tidak serampangan) dan universal (umum, terintegral). Yang pada akhirnya tujuan berfilsafat adalah memperoleh pengetahuan yang menyangkut kebenaran.
Bertrand Russel (1946) dalam bukunya “History of Western Philosophy” mengatakan munculnyafilsafat di Yunani akibat kemahiran bangsa Yunani di dalam merajut dan menyempurnakan peradaban besar lainnya pada saat itu, Mesir dan Mesopotamia. Tesis B. Russel tersebut nampaknya sejalan dengan pandangan Van Peursen yang paling tidak memiliki tiga ciri perkembangan yang khas, yaitu; mistis, ontologis dan fungsional.
Hambatan-hambatan yang terjadi sebelum filsafat muncul, masyarakat Yunani masih menggantungkan diri kepada mitos, legenda, kepercayaan dan agama untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tentang kehidupan mereka. Akan tetapi sekitar abad ke-7 SM di Yunani mulailah berkembang suatu pendekatan yang berlainan disbanding masa-masa sebelumnya, yaitu melalui pendekatan filsafat. Dari sinilah peradaban Yunani mengalami titik balik peradaban yang cukup menakjubkan. Sebab, pada saat itu orang-orang mulai berpikir dan berdiskusi tentang keadaan alam, dunia dan lingkungan sekitar dengan tidak lagi menggantungkan diri kepada mitos, legenda, kepercayaan dan agama. Tetapi, mereka mulai menggunakan rasio dan akal sehat dalam rangka untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kehidupan.
Thales adalah seorang filosof pertama yang berjasa melahirkan gagasan-gagasan kritis mengenai semua kehidupan ini yang kata Thales berawal dari Air. Lalu, tesis tersebut mengundang perdebatan hingga sampai saat ini dan melahirkan banyak aliran pemikir, ilmuwan dan pemikir besar dunia.
Peristiwa munculnya filsafat di Yunani terbilang sebagai peristiwa unik dan ajaib (The Greek Miracle). Ahli filsafat K. Bertens (1990) menyebutkan ada tiga factor, yaitu :
• Mitos bangsa Yunani. Layaknya pada bangsa-bangsa besar lainnya, Yunani juga memiliki mitologi. Mitologi tersebut dapat dianggap sebagai perintis yang mendahului filsafat pasalnya, mite-mite sudah menjadi percobaan untuk mengerti (processing to know).
• Kesusastraan Yunani. Dua karya puisi Homeros (Iliyas dan Odyssea) mempunyai kedudukan istimewa. Syair-syair dalam karya tersebut telah lama digunakan sebagai semacam buku pendidikan untuk rakyat Yunani.
• Pengaruh ilmu pengetahuan. Pada bangsa Yunanilah di dapatkan ilmu-ilmu pengetahuan yang bercorak dan sungguh-sungguh ilmiah.
Secara etimologi filsafat berasal dari bahasa yunani philosophia yang berarti “love of wisdom” atau cinta kebijaksanaan, cinta keareifan, cinta pengetahuan, yang menurut sejarah istilah philosophia pertama kali digunakan oleh Pythagoras sekitar abad ke-6 SM.
Secara terminologi, banyak definisi tentang pengertian filsafat, yang dari situlah menunjukkan bahwa manusia memiliki sebuah kebebasan untuk memilih sudut pandang dalam berfilsafat seperti definisi dari beberapa filosof dan ahli filsafat, yaitu :
1. Para Filosof Pra-Socrates
Filsafat adalah ilmu yang berupaya untuk memahami hakikat alam dan realitas dengan mengandalkan akal.
2. Plato (427-347 SM)
Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berusaha meraih kebenaran yang asli dan murni
3. Aristoteles (384-322 SM)
Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang senantiasa berupaya mencari prinsip-prinsip dan penyebab-penyebab dari realitas yang ada
4. Rene Descrates (1596-1650)
Filsafat adalah himpunan dari segala pengetahuan yang pangkal penyelidikannya adalah mengenai Tuhan, alam dan manusia
5. William James (1842-1910)
Filsafat adalah suatu upaya yang luar biasa hebat untuk berpikir yang jelas dan terang
6. R.F Beerling
Filsafat adalah mempertanyakan tentang kenyataan seluruhnya atau tentang hakikat, asas, prisip dari kenyataan
7. Louis O. Kattsoff
Filsafat adalah suatu analisa secara hati-hati terhadap penalaran-penalaran mengenai suatu masalah, dan penyusunan secara sengaja serta sistematis suatu sudut pandang yang menjadi dasar suatu tindakan.
8. Harold H. Titus
Filsafat adalah sekumpulan sikap dan kepercayaan terhadap kehidupan. Filsafat adalah kumpulan masalah yang mendapat perhatian manusia dan diberikan jawaban oleh ahli filsafat
9. Poedjawijatno
Filsafat adalah ilmu yang menyelidiki ketyerangan atau sebab yang sedalam-dalamnya.
10. Sidi Gazalba
Filsafat adalah system kebenaran tentang segala sesuatu yang dipersoalkan sebagai hasil dari berpikir secara radikal, sistematis dan universal.
11. Lorens Bagus
Filsafat adalah upaya spekulatif untuk menyajikan suatu pandangan sistematik serta lengkap tentang seluruh realitas.
Filsafat adalah disiplin ilmu yang berupaya untuk membantu manusia melihat apa yang dikatakan dan mengatakan apa yang manusia lihat.
Definisi tentang filsafat yang ada dapat dipahami behwa filsafat sangat erat hubungannya dengan kegiatan pemikiran atau berpikir yang dilakukan manusia, yang sasaran pemikirannya mengarah pada segala sesuatu yang ada secara keseluruhan. Adanya interaksi dan saling berhubungan antara ilmu dan filsafat. Banyak persoalan filsafat yang memerlukan lanjutan dasar pada pengetahuan ilmuah apabila pembahasannya tidak ingin keliru.
Ilmu khusus memiliki konsep dan asumsi yang tidak perlu dipersoalkan. Terhadap ilmu khusus filsafat, secara kritis menganalisis konsep-konsep dan memeriksa asumsi-asumsi dari ilmu- ilmu untuk memperoleh arti dan validitasnya.
Jadi, filsafat berusaha untuk mengatur hasil-hasil dari berbagai ilmu-ilmu khusus ke dalam suatu pandangan hidup dan dunia yang tersatupadukan, komprehensif dan konsisten.

DAFTAR PUSTAKA

Moh. Hatta, Alam Fikiran Yunani, 5-12.
K. Bertens, Ringkasan Sejarah Filsafat, 18-26.
Hamersma, Tokoh-tokoh Filsafat Barat Modern, 141.
Bertrand Russel, History of Western Philosophy, (London: George A. & Unwin Ltd., 1946), 3.
Louis O. Kattsoff, Element of Philosophy, Terj. Soejono (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1995), 4.
Poedjawijatno, Pebimbing ke Arah Alam Filsafat (Jakarta: Bina Aksara, 1986), 8.
Sidi Gazalba, Sistematika Filsafat, (Jakarta: Bulan Bintang, 1992), 24.
Lorens Bagus, Kamus Filsafat, (Jakarta: P.T Gramedia Pustaka Utama, 2000), 242.

Disampaikan dalam Local Discussion Komunitas Sastrawan Intelektualis SENJANUARI Surabaya, Bidang Kurikulum “Filsafat; introdusir-hegemonic sejarah masa lalu’, Sabtu, 30 Maret 2008.


read more “ILMU FILSAFAT VERSUS FILSAFAT ILMU”

EVOLUSI IDEOLOGI


Anwar Nuris *
 
“Tanpa definisi, kita tidak akan pernah bisa sampai pada konsep” (Ibnu Sina)
 
Ideologi perspektif etimologi berasal dari kata idea = pikiran, dan logos = ilmu. Jadi secara terminologi, ideologi berarti studi tentang gagasan, pengetahuan kolektif, pemahaman-pemahaman, pendapat-pendapat, nilai-nilai, prakonsepsi-prakonsepsi, pengalaman-pengalaman, dan atau ingatan tentang informasi sebuah kebudayaan dan juga rakyat individual. Filsuf Perancis, Antoine Destutt de Tracy (1754-1836), yang pertama kali menciptakan istilah Ideologi pada 1796, mendefinisikan ideologi sebagai ilmu tentang pikiran manusia (sama seperti biologi dan zoologi yang merupakan ilmu tentang spesies) yang mampu menunjukkan jalan yang benar menuju masa depan.
D.D. Raphael mengatakan, ideologi biasanya dimaknai sebagai sebuah doktrin yang bersifat preskriptif yang tidak didukung oleh argumentasi rasional. Ilmu mengenai ide yang semula merupakan filsafat akal yang memperoleh ide atau gagasan dari akal (sebagai lawan dari metafisika), dari bahasa francis ideologie, studi atau ilmu mengenai ide-ide. 
Beberapa kalangan lain mendefinisikan istilah ideologi sebagai sebuah doktrin yang ingin mengubah dunia. Ada juga yang mengualifikasikan ideologi sebagai sesuatu yang visioner tapi, lebih banyak lagi mengualifikasikannya sebagai sesuatu yang bersifat hipotetis, tak terkatakan, dan tidak realistis, bahkan lebih dari itu, adalah sebuah penipuan kolektif oleh seseorang atau yang lain, yang mengarah pada pembenaran atau melegitimasi subordinasi satu kelompok oleh kelompok lain, dengan jalan manipulasi sehingga menyebabkan ketidaknyamanan yang berhubungan dengan kekerasan sistematik dan teror yang kemudian berujung pada imperialisme, perang, dan pembersihan etnis.
Dalam literature Arab, istilah ideologi adalah Mabda’ yang secara etimologis berasal dari mashdar mimi dari kata bada’a-yabda u-bad’an wa mabda’an yang berarti permulaan. Secara terminologis berarti pemikiran mendasar yang dibangun diatas pemikiran-pemikiran (cabang )
Dalam Al-Mausu’ah al-Falsafiyah, di sana disebutkan Al-Mabda’ (ideologi) adalah pemikiran mendasar (fikrah raisiyah) dan patokan asasi (al-qaidah al-asasiyah) tingkah laku. Dari segi logika, al-mabda’ adalah pemahaman mendasar dan asas setiap peraturan.
Selain definisi di atas, berikut ada beberapa definisi lain tentang ideologi:
 Ideologi adalah kumpulan ide atau gagasan atau aqidah 'aqliyyah (akidah yang sampai melalui proses berpikir) yang melahirkan aturan-aturan dalam kehidupan.
 Ideologi adalah studi terhadap ide – ide/pemikiran tertentu (Destutt de Tracy).
 Ideologi adalah inti dari semua pemikiran manusia (Rene Descartes).
 Ideologi adalah sistem perlindungan kekuasaan yang dimiliki oleh penguasa (Machiavelli).
 Ideologi adalah suatu cara untuk melindungi kekuasaan pemerintah agar dapat bertahan dan mengatur rakyatnya (Thomas H).
 Ideologi adalah sintesa pemikiran mendasar dari suatu konsep hidup (Francis Bacon).
 Ideologi merupakan alat untuk mencapai kesetaraan dan kesejahteraan bersama dalam masyarakat (Karl Marx).
 Ideologi keseluruhan pemikiran politik dari rival–rivalnya (Napoleon Bonaparte).
 Ideologi (Mabda’) adalah Al-Fikru al-asasi al-ladzi hubna Qablahu Fikrun Akhar, pemikiran mendasar yang sama sekali tidak dibangun (disandarkan) di atas pemikiran pemikiran yang lain. Pemikiran mendasar ini merupakan akumulasi jawaban atas pertanyaan dari mana, untuk apa dan mau kemana alam, manusia dan kehidupan ini yang dihubungkan dengan asal muasal penciptaannya dan kehidupan setelahnya (Muhammad Muhammad Ismail).
 Ideologi adalah sebuah pemikiran yang mempunyai ide berupa konsepsi rasional (aqidah aqliyah), yang meliputi akidah dan solusi atas seluruh problem kehidupan manusia. Pemikiran tersebut harus mempunyai metode, yang meliputi metode untuk mengaktualisasikan ide dan solusi tersebut, metode mempertahankannya, serta metode menyebarkannya ke seluruh dunia (Dr. Hafidh Shaleh).
 Mabda’ adalah suatu aqidah aqliyah yang melahirkan peraturan. Yang dimaksud aqidah adalah pemikiran yang menyeluruh tentang alam semesta, manusia, dan hidup, serta tentang apa yang ada sebelum dan setelah kehidupan, di samping hubungannya dengan Zat yang ada sebelum dan sesudah alam kehidupan di dunia ini. Atau Mabda’ adalah suatu ide dasar yang menyeluruh mengenai alam semesta, manusia, dan hidup. Mencakup dua bagian yaitu, fikrah dan thariqah (Taqiyuddin An-Nabhani).
Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa Ideologi (mabda’) adalah pemikiran yang mencakup konsepsi mendasar tentang kehidupan dan memiliki metode untuk merasionalisasikan pemikiran tersebut berupa fakta, metode menjaga pemikiran tersebut agar tidak menjadi absurd dari pemikiran-pemikiran yang lain dan metode untuk menyebarkannya.
Pada prinsipnya terdapat tiga arti utama dari kata ideologi, yaitu pertama, ideologi sebagai kesadaran palsu. Biasanya dipergunakan oleh kalangan filosof dan ilmuwan sosial. Ideologi adalah teori-teori yang tidak berorientasi pada kebenaran, melainkan pada kepentingan pihak yang mempropagandakannya. Ideologi juga dilihat sebagai sarana kelas atau kelompok sosial tertentu yang berkuasa untuk melegitimasikan kekuasaannya. 
Kedua, ideologi dalam arti netral. Dalam hal ini ideologi adalah keseluruhan sistem berpikir, nilai-nilai, dan sikap dasar suatu kelompok sosial atau kebudayaan tertentu. Arti kedua ini terutama ditemukan dalam negara-negara yang menganggap penting adanya suatu “ideologi negara”. Disebut dalam arti netral karena baik buruknya tergantung kepada isi ideologi tersebut.
Dan ketiga, ideologi dalam arti keyakinan yang tidak ilmiah. Biasanya digunakan dalam filsafat dan ilmu-ilmu sosial yang positivistik. Segala pemikiran yang tidak dapat dibuktikan secara logis-matematis atau empiris adalah suatu ideologi. Segala masalah etis dan moral, asumsi-asumsi normatif, dan pemikiran-pemikiran metafisis termasuk dalam wilayah ideologi.
Kembali pada evolusi definitive ideology, di tangan de Tracy, pengertian ideologi bersifat netral, jauh dari makna yang dilontarkan oleh para definitor yang lain. Tetapi, kenyataannya istilah ideologi tak sesederhana yang dirumuskan de Tracy. Bahkan, seperti dikatakan Ania Loomba, istilah ideologi merupakan salah satu istilah yang paling kompleks dan paling sulit dipahami dalam pemikiran sosial, dan merupakan bahan perdebatan berkelanjutan.
Rolf Schwarz, dalam artikelnya What is Ideology, misalnya, mendefinisikan ideologi sebagai, kepercayaan atau sekumpulan kepercayaan, khususnya kepercayaan politik yang mana rakyat, partai, atau negara mendasarkan tindakannya.
Paling tidak, meminjam rumusan Eatwell dan Wright, ideologi dapat dibagi ke dalam beberapa hal: pertama, ideologi sebagai pemikiran politik; kedua, ideologi sebagai norma dan keyakinan; ketiga, ideologi sebagai bahasa, simbol, dan mitos; keempat, ideologi sebagai kekuasaan elit.
Karena sarat kontroversi, tak heran jika makna ideologi berubah menjadi jelek (peyoratif). Lantas, dari mana datangnya perubahan makna ideologi yang bersifat peyoratif itu?. Masih menurut Eatwell dan Wright, itu semua bermula dari Napoleon Bonaparte (1796-1821). Ketika berhadapan dengan kekuasaan tradisional yang legitimasinya semakin memudar, Bonaparte adalah orang yang tertarik pada karya de Tracy karena mendukung ambisi politiknya. Tapi, begitu kursi kekaisaran telah didudukinya, Bonaperte berpaling memusuhi kelompok de Tracy. Kali ini, demi memperoleh dukungan dari kelompok-kelompok tradisional, khususnya gereja Katolik, Bonaparte menuduh kelompok de Tracy sebagai "ideologis."
Kata Eatwell dan Wright, Napoleon kemudian memulai sebuah kritik yang panjang dimana ia menghubungkan ideologi dengan sifat-sifat seperti keinginan a priori untuk menjatuhkan kehidupan lama atau tradisional dan "memajukan" kehidupan manusia, dan atau untuk mendukung keyakinan yang cocok dengan kepentingan mereka yang memproklamirkan ideologi tersebut. (de Tracy adalah seorang republikan liberal yang membayangkan suatu dunia baru di mana kaum intelektual seperti dirinya akan memainkan suatu peranan yang signifikan).
Sejak saat itu, demikian Schwarz, ideologi diasosiasikan dengan orang yang visioner dan teoritikus yang tidak bersentuhan dengan kenyataan, tapi pada saat yang sama tetap berpegang pada pandangannya sendiri, keras kepala, dan dogmatik.
Kita lihat, perlahan-lahan mulai terjadi evolusi pengertian ideologi, dari yang semula bersifat netral menjadi sebuah penghakiman terhadap perbedaan atas dasar kepentingan politik. Dari sebuah ilmu yang mempelajari tentang gagasan menjadi sebuah pengertian yang sinis, jelek, dan tidak ilmiah. Di sini istilah ideologi kedudukannya lebih rendah dari ilmu pengetahuan atau teori. Mungkin itu sebabnya kaum intelektual lebih enjoy disebut akademis, filsuf, atau teoritikus, dari pada disebut sebagai ideolog.
***
Di bawah ini terdapat bermacam bentuk ideology dan tokohnya, tergantung teritorial diskursus dan objek formal kajiannya. Dalam dunia politik terdapat paham Batllisme (José Batlle y Ordóñez), Blairite atau Blairisme (Tony Blair). Castroisme (Fidel Castro). Chavisme (Hugo Chávez). Clintonisme (Bill Clinton). Francoisme (Francisco Franco). Gandhisme (Mahatma Gandhi). Gaullisme (Charles de Gaulle). Jacobitisme (James II dari Inggris). Josephinisme (Joseph II, Kaisar Romawi Suci). Kaczisme (Jarosław Kaczyński). Kemalisme (Mustafa Kemal Atatürk). Kimilsungisme (Kim Il-Sung). Leninisme (Vladimir Lenin). Machiavellianisme (Niccolò Machiavelli). Maoisme (Mao Zedong). Marxisme (Karl Marx). McCarthyisme (Joseph McCarthy). Nasserisme (Gamal Abdel Nasser). Pabloisme (Michel Pablo). Peronisme (Juan Perón). Reaganisme (Ronald Reagan). Sandinisme (Augusto César Sandino). Shachtmanisme (Max Shachtman). Soekarnoisme (Soekarno). Sparticisme (Spartacus). Stalinisme (Joseph Stalin). Strasserisme (Gregor dan Otto Strasser). Thatcherisme (Margaret Thatcher). Titoisme (Josip Broz Tito). Trotskyisme (Leon Trotsky). Uribisme (Álvaro Uribe). Whitlamisme (Gough Whitlam). Yeltsinisme (Boris Yeltsin). Zapatisme (Emiliano Zapata), dan lain-lain.
Sedangkan dalam Agama dan falsafah, terdapat paham Ahmadiyyah (Mirza Ghulam Ahmad). Alevi (Ali). Althusserianisme (Louis Althusser). Amish (Jacob Amman). Arianisme (teolog Arius). Aristotelianisme (Aristotle). Arminianisme (Jacobus Arminius). Augustinisme (Agustinus dari Hippo). Averroisme (Averroes). Bábisme (the Báb). Badawiyyah (Ahmad al-Badawi). Bahá'í Faith (Bahá'u'lláh). Basilideans (Basilides). Bektashi (Hajji Bektash Wali). Benthamisme (Jeremy Bentham). Buchmanisme (Frank N. D. Buchman). Buddhisme (Buddha). Darbyisme (John Nelson Darby). Darqawa (Muhammad al-Arabi al-Darqawi). Dominikan (Dominikus dari osma). Epicureanisme (Epicurus). Erastianisme (Thomas Erastus). Febronianisme (Justinus Febronius). Feeneyisme (Leonard Feeney). Fransiskan (Fransiskus dari Assisi). Georgisme (Henry George). Hanafi (Abu Hanifa an-Nu‘man). Hegelianisme (Georg Wilhelm Friedrich Hegel). Hobbesianisme (Thomas Hobbes). Hutterit (Jakob Hutter). Ismailiyah (Ismail bin Jafar). Jansenisme (Cornelius Jansen). Jerrahi (Pir Nureddin al-Jerrahi). Kalvinisme (Yohanes Kalvin). Kantianisme (Immanuel Kant). Kekristenan (Yesus Kristus). Khalwati (Umar Khalwati). Konfusianisme (Konfusius). Kubrawiyyah (Najmeddin Kubra). Laestadianisme (Lars Levi Laestadius). Lutheranisme dan Neolutheranisme (Martin Luther). Maniisme (Mani/nabi). Martinisme (Louis-Claude de Saint-Martin). Mennonite (Menno Simons). Millerite (William Miller). Mohisme (Mozi). Montanisme (Montanus). Naqshbandi (Baha-ud-Din Naqshband Bukhari). Nestorianisme (Nestorius). Nimatullahi (Shah Nimatullah). Pelagianisme (Pelagius). Platonisme dan Neoplatonisme (Plato). Puseyisme (Edward Bouverie Pusey). Pyrrhonisme (Pyrrho). Qadiriyyah (Abdul Qadir Jaylani). Randianisme (Ayn Rand). Rastafarianisme (Ras Tafari). Raëlisme (Raël). Rifaiyyah (Ahmed ar-Rifa'i). Sabellianisme (Sabellius). Safaviyeh (Safi Al-Din). Senussi (Muhammad ibn Ali as-Senussi). Shadhili (Abu-l-Hassan ash-Shadhili). Socinianisme (Laelius Socinus). Spinozisme (Baruch Spinoza). Suhrawardiyyah (Abu al-Najib al-Suhrawardi). Thomisme (Thomas Aquinas). Tijaniyyah (Sidi Ahmed al-Tidjani). Wahhabisme (Muhammad ibn Abd-al-Wahhab). Yazidisme (Yazid I). Wycliffite (John Wycliffe). Zahediyyah (Zahed Gilani). Zoroastrianisme (Zoroaster). Zwingliisme (Huldrych Zwingli), dan sebagainya.
Demikian juga dalam aspek Ekonomi, terdapat paham Friedmanisme (Milton Friedman). Keynesianisme (John Maynard Keynes). Malthusianisme (Thomas Malthus). Dan lain sebagainya. Sedangkan pada wilayah Ilmiah, diantaranya paham Cartesian (René Descartes). Comtisme (Auguste Comte). Darwinisme (Charles Darwin). Lamarckisme (Jean-Baptiste de Lamarck). Dan masih banyak yang lainnya sesuai dengan spesifikasi pencetusnya, misalnya terdapat paham Fordisme (Henry Ford). Freudianisme dan post-Freudianisme (Sigmund Freud). Masochisme (Leopold von Sacher-Masoch). Sadisme (Donatien-Alphonse-François de Sade). Taylorisme (Frederick Winslow Taylor). Victorianisme (Ratu Victoria).
 
* Selaku editor data mentah bersama team kreatif Ideologi yang disampaikan pada “Wong Tuwo” Dewan Kemitraan Agung (DEKAN) Ikatan Mahasiswa Sumenep (IKMAS) di Surabaya.
read more “EVOLUSI IDEOLOGI”

SURAT UNTUKKU


Anwar Nuris *

Hari ini adalah hari pertamaku masuk kuliah semester III. Semester I dan II telah aku lewati dengan berbagai sejarah kelam. IPK anjlok 1.57, terkena skors 3 minggu karena menghilangkan buku perpustakaan 3 ekslamper sekaligus, surat peringatan dari rektorat karena lambat membayar Herregistrasi. Lebih-lebih surat dari jurusan karena jarang kuliah hingga satu semester, tanpa ada keterangn cuti atau alasan lain. Yang lebih menyedihkan, di putus oleh sang pacar karena terindikasi perselingkuhan. Pada hal, saat malam minggu kemarin, yang aku ajak nonton bioskop hanya sebatas teman dekat.
Jam di dinding sudah meniti angka 6.30 WIB, angka yang begitu dingin, sedingin pagi ini. Sebenarnya jam segini adalah rutinitas yang tidak boleh aku tinggalkan sejak semester kemarin, memeluk bantal, berselimut, tidur di kost sendirian. Tapi untuk semester ini ada kebijakan baru dari fakultas. Jam intensif Bahasa Inggris untuk setiap jurusan pada jam 07.00 WIB hingga jam 08.00 WIB.
Dengan langkah lemas, kuraih handuk kumuh di gantungan baju. Meskipun udara masih dingin, aku coba membulatkan hati untuk tetap ke kampus. Bukan karena jam tambahan intensif bahasa, tetapi karena ada inisiatif baru di kepalaku untuk sekedar melihat-lihat pemandangan alam, makhluk tuhan yang begitu elok nan ayu. Mungkin ada mahasiswi yang cocok, berkenan mengganti kekosongan pasca di putus pacarku yang dulu. Semangat untuk mencari gebetan baru.
Tidak sampai 7 menit, prosesi mandi sudah selesai. Berdandan ala kadarnya, karena memang sejak dulu, aku bukanlah tipe orang yang rajin berhias diri, bagiku yang penting suci.
Sudah siap berangkat dengan tas mungilku sejak semester dua, tas yang hanya berisi ballpoint dan buku catatan. Tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara ketukan di daun pintu. Tidak biasanya sepagi ini aku dengar ketukan pintu. Tidak mungkin sepagi ini teman-temanku bertamu, ataupun pak kost untuk menagih uang kost, uang listrik atau PDAM. Mungkin orang lain.
“Selamat pagi, Mas..!, apa benar ini Mas Roni?”, dengan sopan pak pos yang kelihatannya masih muda itu menyalamiku sebelum mengutarakan apa maksudnya ke kostku.
“Selamat pagi juga. Ya, benar sekali, ada sesuatu untuk saya?”, balasku seraya sedikit merendahkan bahu tanda menghormatinya.
“Iya, ini”. Sambil merogoh tas orange yang digendongnya, dikeluarkannya satu amplop kecil dan disodorkannya padaku. Aku terima amplop itu dengan wajah penasaran apa gerangan isinya. Setelah kutanda tangani surat tanda terimanya, Pak pos tadi pamit mohon diri.
Aku membolak-balik amplop itu untuk menemukan siapa pengirimnya. Aku temukan; Pengirim: Dede A. Ziyad, Jl. Anggrek 09. Gapura, Sumenep - Madura. Aneh, tidak biasanya kakakku mengirim surat. Kalau ada sesuatu yang penting, atau paling tidak mengetahui kabarku di perantauan, dia hanya memberitahuku dan bertanya via SMS.
Setelah kututup pintu kost, aku duduk di kursi reot yang terdapat di pojok kost. Aku sobek memanjang ujungnya dan ku keluarkan isinya. Ternyata hanya surat biasa, dua lembar kertas ukuran kwarto dengan tulisan tangan. Tanpa pikir panjang kubaca surat itu.

Buat Yth; Adikku
di Perantauan.
Mungkin adik bertanya-tanya, di zaman yang serba maju ini, era globalisasi dan tehnologi, kakak masih sempat menulis surat. Kakak mengakui, zaman sekarang ini semuanya serba cepat, ruang dan waktu bisa diperpendek dan dipersingkat. Kalau hanya sebatas ingin mengetahui kabar adik di perantauan, sebenarnya kakak cukup dengan bertanya lewat SMS atau menelepon adik. Tapi ini kakak lakukan, biar adik selalu dan selalu membaca isi surat ini. Bisa memahami getaran hati kakak selama ini.
Getaran hati kakak saat ini tidak berbeda jauh dengan apa yang pernah adik katakan sebelum berangkat ke Jogjakarta dulu. “Kak.. doakan ya.. semoga adik bisa menjadi penulis di kota para penulis, di Jogjakarta nanti”. Sebait ungkapan adik sendiri yang perlu direfleksikan lagi oleh adik, dan kakak sendiri.
Kakak tahu, dan adik pun pasti lebih memahami, jarak antara Jogjakarta dan Madura bukan jarak yang dekat. Sebuah perantauan panjang bagi adik untuk mengejar impian di seberang. Apa saja aktifitas adik di Jokjakarta, kakak tidak tahu seluruhnya. Adik nakal, rajin, bolos kuliah dan sebagainya, kakak tidak tahu.
Tidak ada misi apa-apa kakak mengirim surat ini. Tulisan di dalam surat ini hanya sebatas getaran hati kakak untuk adiknya. Adik yang sangat kakak cintai dan sayangi. Okelah..!, kakak akan mulai, sehingga kemudian adik mampu menangkap apa dan bagaimana sebenarnya getaran hati yang kakak maksud. 
Pernahkah adik menemukan sebaris celoteh;
Ada daun jatuh, tulis..
Ada batu jatuh, tulis..
Tulis dan tulis..
Di tulis sampai kapan.
Kalau tidak salah, itulah sebagian yang pernah di ungkapkan oleh Raut Sitompul yang kakak temukan dalam bukunya Jujun S. Suriasumantri; Filsafat Ilmu, sebuah pengantar populer. Ungkapannya sederhana namun mampu menumbuhkan nilai esensi dari kata tulis. Tidak ada sesuatu yang tidak bisa di tulis, dalam artian bahwa tradisi menulis harus di mulai dari sesuatu yang sederhana. Menulis sebenarnya mudah meskipun membutuhkan proses panjang dan sulit. Penulis sekaliber Karen Amstrong misalnya, dia dalam menulis Sejarah Tuhan tidak langsung menjadi sebuah buku. Tetapi melalui proses lama, mulai dari proses keyakinan dan pencariannya terhadap definisi tuhan beberapa agama hingga konklusi akhir terhadap tuhan yang ada di masing-masing agama.
Adik tentu tahu penulis kitab Ihya’ Ulumiddin?, Al-ghazali kan?. Siapa yang menyangka beliau masih “hidup” sampai sekarang, tulisannya menjadi rujukan banyak ulama, cendekiawan, terutama cendekiawan muslim. Beliau dikenang meskipun sudah mendahului kita.
Yang tergolong baru adalah Zainal Arifin Thaha, Jogjakarta. Kota tempat adik kini menimba ilmu. Kota yang di sebut-sebut sebagai kota pendidikan. Banyak yang mengakui, Gus Zainal (sapaan akrab Zainal Arifin Thaha) adalah salah satu inspirator mahasiswa UIN Jogjakarta dalam tradisi tulis-menulis. Bahkan dalam salah satu bukunya, “Aku Menulis Maka Aku Ada” beliau telah mampu memformulasikan nilai filosofis Co geto er Go sum-nya Rene Descartes ke dalam dunia tulis-menulis. Meskipun beliau (Gus Zainal) sudah tiada, tulisan-tulisannya selalu dibaca orang, namanya sering disebut-sebut. Beliau masih hidup.
Ada lagi; sekaliber Al-Farabi misalnya, tokoh filosuf dan pemikir Islam yang kita kenal dengan sebutan “al-mu’allim al-tsani”, guru terbesar kedua setelah Aristoteles, tidak lain adalah seorang penulis.
Coba adik Bayangkan, karya-karya beliau, sejauh yang dapat ditemukan dari beberapa sumber, berjumlah sekitar 117 buku. 43 buku membahas tentang logika, 11 buku membahas metafisika, 7 buku tentang etika, 7 buku tentang ilmu politik, 17 buku membahas tentang musik, ilmu kesehatan, pengobatan, dan sosiologi. Serta 11 buku lainnya merupakan buku-buku komentar atas buku-buku sebelumnya yang di tulis oleh banyak pemikir dan filosuf.
Sebagai contoh; salah satu Kitab atau buku al-Musiqa al-Kabir-nya Al-Farabi, yang menjelaskan tentang teori musik, menjadi salah satu karya monumental di dunia seni musik terutama barat. Karena buku ini menjadi buku wajib bagi mereka yang mendalami musik klasik disana, bahkan buku ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa mereka. Lagi-lagi ini membuktikan bahwa Al-Farabi masih “hidup”. Karya-karya monumental beliau menjadi rujukan berbagai kalangan intelektual.
Kemudian Ibnu Sina atau Avicenna (Abu Ali al-Husain ibn Abdullah ibn Sina). Adik tentu juga sudah pernah membaca sejarahnya. Beliau semasa hidupnya telah menghasilkan berbagai buku. Dari beberapa sumber, kakak memperoleh data bahwa karya Ibnu Sina mencapai 99 buku; 16 buku di bidang pengobatan, 68 buku di bidang teologi, 11 buku di bidang ilmu falak dan metafisika, dan tidak di sangka ternyata 4 buku beliau merupakan kumpulan puisinya. Karena semangat dan profesionalitas beliau, kerap di ingatkan oleh koleganya agar tidak terlalu memforsir diri dalam bekerja dan belajar. Namun beliau malah berkata; I prefer a short life with width to a narrow one with length. Apa makna ungkapan ini, adik tentu paling tahu.
Selain sejarah di atas, masih banyak tokoh-tokoh yang kakak, adik, dan kita bersama ketahui sejarah dan karya-karyanya. Semisal; Imam al-Syafi’i, al-Ghazali, dan sebagainya. Kemudian Fariduddin Attar, Jalaluddin rumi, Muhammad Iqbal, Ibnu Arabi, Nasrudin Hoja, Kahlil Gibran, Robindranat Tagore, Mahatma Gandhi, Betrand Russel, Jean Paul Sarte, Voltaire, Nietszche, dan sebagainya. Mereka adalah para penulis yang dengan tulisannya mampu merubah dunia.
Lalu para pemikir kontemporer, seperti Sayyid Qutub, Ismai’il Raji al-Faruqi, Sayyid Husein Nashr, Ali Syari’ati, Hasan al-Banna, Muhammad Arkoun, dan sebagainya. Di negeri kita sendiri, banyak sosok yang antusias dalam kepenulisan patut kita refleksikan bersama. Keranjingan mereka terhadap karya sastra sangatlah luar biasa. Orang seperti Gus Dur, Gus Mus, Goenawan Muhammad, Umar Kayam, Kuntowijoyo, Emha Ainun Najib, D. Zawawi Imron, WS. Rendra, Pramoedya Ananta Toer, Mochtar Lubis, Sultan Takdir Ali Syahbana, Akhdiyat Karta Miharja, Sapardi Djoko, Damono, Nur Kholis Majid, dan banyak lagi sastrawan lainnya.
Yang terakhir.. Ada ungkapan Al-Ghazali; kalau engkau bukan anak raja dan engkau bukan pula anak ulama besar, maka jadilah penulis. Aku dan adik anak siapa ya..!?
Itulah getaran hati seorang kakak yang dari getarannya kamu sebagai adikku akan merasakan getarannya juga. Getaran yang tidak semua orang merasakannya. Terlepas dari wacana di atas, getaran hati kakak tidaklah menjamin hati adik bergetar jua. Jadi, kemauan dan cita-cita kakak bukan berarti harus adik penuhi. Cita-cita kakak, adalah bagaimana adik sukses dan dapat dibanggakan oleh keluarga. Ingat dik..!, bapak dan ibu di rumah selalu semangat dalam bekerja keras untuk biaya adik kuliah. Apa yang mereka lakukan adalah demi kesuksesan kita mencapai cita-cita.
Entahlah Dik..!, tiba-tiba kakak berinisiatif menulis surat ini. Sudah satu tahun lebih adik menimba ilmu di perantauan. Dan selama itu pula kakak belum pernah melihat nama adik terpampang di media massa. Kakak tidak memaksa adik untuk menjadi seorang penulis. Kakak hanya bertanya-tanya, di saat nama teman-teman seangkatan adik di sana sering muncul di media massa, menulis puisi, artikel ilmiyah, opini, kolom, cerpen dan lain sebagainya. Nama adik kok tidak pernah kakak lihat.
Kakak sadar, kakak yang sudah lulus kuliah ini bukanlah penulis. Kakak yang pernah kuliah di surabaya ini tulisannya tidak pernah di muat di media massa. Kakak hanya lulusan tarbiyah yang tak pernah aktif di penerbitan. Antara adik dengan kakak harus tidak harus sama kan?.
Adik tentu lebih mengerti perbandingan Jokjakarta sebagai kota pendidikan dan tempat para penulis produktif. Tidakkah ada keinginan adik seperti mereka, atau bahkan lebih dari mereka?.
Mohon maaf sebelumnya, mungkin surat kakak ini membuat risau hati adik. Atau bahkan menyalahkan kakak yang hanya bisa “memarahi”. Tapi kakak hanya ingin mengingatkan kembali bagaimana keinginan adik dulu, ingin menjadi penulis di kota para penulis. Itu saja.
Oke!, mungkin bagi adik semua orang tidak harus sama, adik bisa menentukan jalannya sendiri, tapi bukankah menulis itu adalah salah satu tradisi intelektual. Dan adik adalah mahasiswa, seorang intelektual, kenapa tidak menulis sebagaimana para intelektual yang lain?.
Selamat beraktifitas, rajin-rajinlah kuliah, jaga diri baik-baik. Kami sekeluarga selalu mendoakan adik. Semoga sukses, meskipun prosesnya tidak sama. Amin..

Terhenyak juga membaca surat kakakku. Aku mendongakkan kepala kelangit-langit kostku, menarik nafas panjang mencoba menangkap kembali apa yang sebenarnya terjadi pada diriku ini. Di katakan kuliah, kebanyakan bolosnya. Di katakan intelektual, malah tidak mungkin. Jarang membaca, diskusi, apalagi menulis.
Kulipat lembar surat itu dan kumasukkan ke dalam amplopnya lagi. Kulihat jam di Hp-ku sudah menunjukkan waktu 07.47 WIB. Sepertinya aku lambat lagi hari ini untuk mengikuti intensif bahasa. Dengan hati risau, aku putuskan tidak ke kampus hari ini. Kubaringkan badanku dengan tas mungil yang masih di pinggangku.
Kak.. terima kasih, kakak telah mengetuk hatiku yang beku. Sebelum berangkat dari rumah untuk kuliah Jogjakarta ini, keinginan terbesarku adalah menjadi penulis. Tetapi ternyata aku tidak menjalani proses untuk menjadi seorang penulis. Maafkan aku kak..!, Mak, Pak..!.



* Anwar Nuris, Penulis adalah Kontributor Teater ANCAKA Gapura - Sumenep, sekarang nyanggong di IKMAS (Ikatan Mahasiswa Sumenep) di Surabaya. Tulisan ini sudah dipublikasikan LPMI (Lingkar Pena Mahasiswa Independen) PMII Komisariat Tarbiyah Cabang Surabaya Selatan di Bulletin TransForma.
read more “SURAT UNTUKKU”

CHANGE ONE'S OWEN


(untuk sang pemilik 15 maret dan 2 april) *
IKMAS, 1 Maret 2009
 
Alarm HP 2600 Classicku berdering dengan lagu sangar Linkin Park. Song title What I'Ve Why Done-nya mampu memecah keheningan fajar buta. Suaranya keras sekali di telinga, melepaskan tubuhku dari perangkap mimpi. Ini berarti hari sudah pagi, lebih tepatnya lagi jam 4 lewat 10 menit.
Aku memang sedang membiasakan diriku bangun setiap jam tersebut. Ini kulakukan agar ritme hidupku lebih teratur dan tentu saja lebih mengenal arti disiplin, lebih-lebih disiplin dalam melaksanakan shalat Shubuh yang selama ini sering mengelupas panas oleh semburatnya mentari, alias bolong di patuk paruh kokok ayam. Sebuah antitesa dari masa laluku yang penuh ketidak-teraturan. Bukan untuk maksud yang khusus, namun alangkah segarnya menikmati matahari 5 derajat dari horizon dan mendengar kicauan burung-burung dekat jendela kamarku. Sungguh, hidup ini terasa indah.
Aku segera menuju kamar mandi untuk mencuci muka, berwudlu, lalu minum segelas air putih dari Galon "Aqua" di sudut kamar, shalat Shubuh berjamaah di Mushalla, mengeja firman Tuhan di tengah lelapnya kawan, yang masih terbuai mimpi oleh selimut hangat setan sehingga mereka enggan mengangkat kepalanya dari bantal. Lega rasanya, berusaha beda dengan teman yang lain.
Sesudah itu aku menggerakkan tubuhku dengan sedikit jogging di bawah rerindangnya pohon depan pondokku, hingga terasa sekali aliran darah melesat lancar dari ubun-ubun sampai mata kaki. Segala mimpi lenyap kini dan sekarang waktunya menghadapi realitas hidup.
Sungguh, hari ini terasa indah. Burung-burung masih bernyanyi. Aneh juga terasa, di tengah kota metropolitan sekaliber Surabaya, masih ada satu-dua burung yang terbang bebas berkicau, berseliweran di dahan nan hijau. Mungkin inilah salah satu anugerah untuk pondokku, mungkin pula Tuhan telah mengirim mereka untuk membangunkanku.
Matahari sedikit naik ketika aku menuju taman kumuh depan pondokku untuk menyirami tanaman yang telah menyumbangkan udara segar bagi nafasku. Mataku langsung terpaku pada seekor kupu-kupu yang hinggap di tanaman Jihong yang baru mekar. Meski Jihong tak seindah dan seharum bunga melati ataupun mawar, kupu-kupu itu tetap bertengger di tangkai bunga itu. Warna sayapnya penuh keceriaan, penuh keragaman.
Tetapi ada sesuatu yang lain tampaknya. Ya! Terlihat dari kelepak lemah sayapnya. Aku mendekat untuk melihat lebih jelas lagi. Kupu-kupu ini sepertinya benar-benar kelelahan. Mungkin semalaman mengembara. Ia diam saja ketika kudekati. Malah waktu kusentuh ia tetap diam. Kupu-kupu yang sangat letih. Aku bisa merasakannya. Keadaannya kontras dengan warna sayapnya yang indah.
Konon, bila ada kupu-kupu hinggap di kediamanmu, itu artinya akan ada tamu yang datang. Aku mencoba menghindari spekulasi itu dengan menganggap kupu-kupu itulah tamuku di pagi hari ini. Bila nanti ada orang lain bertamu untuk bertemu aku, anggap saja itu kebetulan semata. Walau bisa saja itu bukan suatu kebetulan. Namun bukankah hidup juga dipenuhi dengan banyak kebetulan? Atau segalanya sudah direncanakan yang Maha Kuasa? Apapun aku menganggapnya, tetap saja itu dinamika hidup yang juga terasa indah.
Kupu-kupu itu kini berada di jariku. Ia tetap diam. Dari diamnya aku merasa ada gejolak dalam dirinya. Penat yang menyelubungi sayap-sayap kecilnya seakan merekam jejak-jejak perjalanannya. Mungkin ia habis mengarungi suatu petualangan yang luar biasa. Aku semakin di dera penasaran. Aku percaya semua mahluk hidup bisa saling berkomunikasi. Tentu saja hal yang absurd bila perbincangan dengan kupu-kupu ini melalui bahasa verbal. Namun ini lebih kepada mengasah kepekaan intuisi kita dalam memahami mahluk hidup selain manusia.
Sekarang, aku duduk tepat di depan daun pintu kamar pondokku yang terbuka dengan kupu-kupu tetap berada di jariku. Aku telah menyiapkan diri seutuhnya untuk mendengar kisah perjalanannya. Ku tatap ia dengan kekuatan intuisiku, mencoba menyelam pada bening dua belah matanya yang sayu. Kubalik adegium dari mata turun ke hati, menjadi dari hati naik ke mata. Aku berbicara padanya dengan bahasa hati melaui perantaraan indra mata. Aku akan bercerita tentangnya..
Awalnya adalah seekor ulat. Hewan kecil melata yang sekujur tubuhnya dipenuhi bulu-bulu. Bagi sebagian orang, ulat adalah binatang paling menjijikkan. Setipe dengan kecoa, kelabang, atau cacing tanah(tentu pean lebih jijik, geli, dan takut dengan cacing tanah, ketimbang hewan melata lainnya).
Pada suatu ketika, mulanya keadaan tersebut tidak merisaukannya sebagai eksistensi dari makhluk yang bernama ulat. Di sebuah taman ia asyik saja melahap daun-daun muda yang merupakan makanan kegemarannya. Namun lama-kelamaan habislah seluruh tanaman karena daun-daun tempat proses pembakaran tanaman telah termakan seluruhnya oleh ulat. Hal ini menggusarkan manusia yang menanamnya. Mereka memburu ulat itu. Hanya saja ulat itupun sudah merasa bahwa ia akan diburu manusia dan ia melarikan diri sejauh mungkin. Yang penting lolos dari perburuan manusia.
Dalam persembunyiannya, ia mendengar sumpah serapah manusia terhadap dirinya. Mulanya ia acuh saja. Tetapi sumpah serapah itu berkembang menjadi sugesti negatif baginya. Hancurlah keyakinan ulat itu. Tiba-tiba ia merasa kalau ia adalah benar-benar binatang yang paling menjijikkan bahkan bila dibandingkan dengan kecoa, kelabang atau cacing tanah.
Ulat itu sedih. Tubuhnya seakan mengecil menjadi seukuran renik atau mikroba. Ia malu bahkan terhadap dirinya sendiri. Ulat itu merasa tak berharga sama sekali. Tuhan menciptakanku tanpa kegunaan selain menjadi bahan umpatan manusia, batinnya mulai memprovokasi.
Ulat itu menjadi amat murung. Tak selera lagi ia melihat daun-daun muda. Hidup terasa menyebalkan. Saat itu ia mengharap ada predator yang melumat habis dirinya. Tapi tak satupun predator ia temui. Kemana larinya mereka? Entahlah, seolah-olah dunia menjadi begitu kosong. Tak ada yang lain selain dirinya dan kepedihannya.
Ia memutuskan untuk tak berhubungan dengan dunia. Tekadnya sudah bulat untuk menyembunyikan diri dalam sebuah kepompong. Namun di dalam kepompong ia kembali berbenturan dengan masalahnya. Tak ada tempat untuk melarikan diri di dunia ini. Mau tak mau ia harus menghadapi problemanya, di dalam kepompong. Bersemedi dan bertapa dalam kesedihan.
Berhari-hari ia menutup diri. Hingga sampailah pada sebuah titik balik. Ia merefleksikan hidup yang telah dijalaninya. Dan setelah melakukan evaluasi secara total, ia menemukan solusi. Yaitu transformasi. Ya, hidup takkan berubah bila kita tak merubah diri sendiri. Kesadaran baru yang timbul dalam diri ulat ini sungguh terasa menakjuban. Ia telah menemukan jalan terbaik baginya. Merubah diri sendiri. Change one's owen.
Kepompong pun pecah. Ulat telah berubah. Kini ia menjadi kupu-kupu. Bayangkan..!, seekor ulat yang menjijikkan telah berubah menjadi seekor kupu-kupu yang indah. Suatu transformasi besar-besaran telah dilakukannya. Kupu-kupu itu terbang melesat dari kepompong. Sayap kecilnya yang berwarna-warni menghiasi alam yang indah. Ia menikmati tubuh barunya. Semua terasa baru baginya. Langit, alam dan hidup sungguh terasa baru dan indah. Ia kepakkan terus sayapnya. Melayang penuh kebebasan. Ia merasakan cinta. Dunia mencintainya dan ia pun belajar mencintai dunia. Kalau tahu hidup begini indah, dari dulu saja ia menjadi kupu-kupu. Sedikit penyesalan. Hanya sedikit. Itupun lumer oleh terik matahari.
Lama juga ia melayang-layang. Timbul kesadaran baru. Aku tetap butuh tempat berpijak. Tak bisa selamanya terus di udara. Dimana aku harus berpijak?, Kupu-kupu itu hinggap di atas batu. Dalam sedetik ia merasa bahwa batu bukan tempat yang nyaman untuk dipijaki. Batu sangat keras dan kasar. Sungguh tak nikmat berpijak di tempat yang tak mengenal keramahan seperti batu ini. Aah, buat apa aku berlama-lama di atas batu. Ia kembali terbang.
Matanya menatap sepucuk pohon yang lumayan rindang. Kupu-kupu itu berpijak di salah satu dahannya. Teksturnya tak sekeras dan sekasar batu. Lagi pula daun-daun mampu melindunginya dari mentari yang kian memanas. Dahan ini lebih ramah dari pada batu tadi. Cukup lama juga ia berdiam di pohon itu.
Sampai tiba-tiba serombongan semut (bilis mardeh) merasa terancam akan kehadiran kupu-kupu. Mereka mengganggu ketenangan kupu-kupu dengan sengatan dan gigitannya yang pedih-pedas. Semakin lama semakin banyak semut yang bergabung. Bisa jadi seluruh koloni semut yang berada di pohon itu menyerang kupu-kupu dari segala arah.
Gundah-gulanalah kupu-kupu atas perlakuan semu-semut itu, dengan terpaksa ia pun melayang lagi mencari titik pijak yang lain. Perhatiannya tiba-tiba tertumbuk pada setangkai mawar merah di taman pesisir timur sana (Sumenep). Warnanya yang hangat seakan meneriakkan salam baginya. Kupu-kupu itu jatuh cinta pada mawar merah itu. Cinta pada pandangan pertama. Dari mata turun ke hati. Ini benar-benar cinta. Tuluskah? Entahlah, itu urusan waktu yang mengujinya. Yang jelas, antara kupu-kupu dan mawar merah ada sesuatu yang dahsyat. Cinta.
Kupu-kupu itu hinggap di pucuk bunga mawar. Mawar itu menyambut dengan liukannya. Respon yang terjadi diantara mereka benar-benar hangat. Mereka seperti dua sahabat lama yang baru berjumpa. Penuh kerinduan.
"Inilah titik pijakku selamanya", kupu-kupu berikrar.
"Inilah sang pelindungku", mawar merah membatin.
Mereka terlihat sebagai dua sejoli yang sedang dimabuk asmara. Dua sejoli yang sedang bercinta. Aaahh…indahnya.
Sayangnya, alam tak setuju. Badai besar datang tak diundang. Riuhnya merobek telinga. Dayanya meluluh-lantakkan segalanya. Dunia harus bergerak. Dan itu bisa berarti segalanya berantakan. Pohon-pohon besar tumbang, batu-batu bergulingan, tanah-tanah retak, rumah-rumah hancur, mobil-mobil berserakan dan jiwa-jiwa tewas.
Kupu-kupu dan mawar merah juga tak berdaya. Mereka terpisahkan. Kupu-kupu terbawa angin lebih jauh ke arah timur, lepas pantai. Mawar merah tercerabut dan tertiup hingga ke tepi barat. Badai besar terus menderu-deru, menjadi penghalang yang tak bisa dihindari.
Keduanya terbawa ke arah berlawanan dalam keadaan tak sadarkan diri. Semakin lama kian jauh jarak yang terentang diantara mereka. Mungkin ratusan mil, atau bahkan ribuan mil. Entahlah, tak ada yang mengukurnya secara pasti. Ketika siuman, kupu-kupu itu sadar bahwa mawar merahnya sudah semakin menjauh. Ia kehilangan. Sangat kehilangan. Hatinya luka, jauh lebih sakit rasanya ketimbang perasaan saat menjadi ulat dahulu. Ia kesepian di tengah angin yang masih menderu. Tetapi ia putuskan untuk tak larut dalam permasalahan, harus dicari penyelesaian sesegera mungkin.
Dalam sekejap ia memilih untuk terbang melawan angin, menuju arah mawar merah yang tertiup kea rah barat. Sebuah keputusan yang berani dan sedikit nekad. Berkali-kali tubuh ringkihnya tersapu angin, namun tak sudi ia mengenal kata menyerah. Ia terus melawan angin. Ke pesisir barat ia menuju, dengan sejuta asa ingin menemukan mawar merahnya yang entah dimana kini berada. Kupu-kupu itu jelas kehilangan jejak. Tak tahu harus kemana.
Tiba-tiba ia bertemu ular. Hewan melata itu pun melihat kupu-kupu yang kebingungan. Terlihat keramahan dari rupa ular, kupu-kupu memutuskan untuk bertanya padanya.
"Hai, ular. Aku ingin minta tolong padamu", Tanya kupu-kupu pada si ular.
"Katakan saja, mungkin aku bisa membantumu", dengan intonasi serius ular itu menjawab.
"Aku mencari mawar merahku, apa kau melihatnya?", lanjut sang kupu-kupu.
"Mawar merah?, Ya, aku melihatnya! Mari mendekat biar kubisikkan padamu" jawab ular seraya mengingsut ekornya melingkar. Bukan main gembiranya kupu-kupu itu mendengar penuturan ular, ia pun terbang mendekat ke arah ular. Sekitar tiga senti lagi ia berada di depan mulut ular, tiba-tiba keramahan ular berubah drastis menjadi kelaparan. Matanya menatap tajam kupu-kupu. Ia buka mulutnya lebar-lebar. Kupu-kupu secara spontan kaget dan melayang kembali ke udara. Ular itu berusaha mendapatkannya dan kupu-kupu itu semakin tinggi terbangnya. Ia selamat dari bahaya. Tak disangka-sangka ular itu ternyata hendak menipunya. Hanya saja alam berpihak kepadanya dan amanlah ia dari mangsa si ular.
Ia kembali melanjutkan penerbangannya, terus ke barat. Matahari hampir merebah di kaki langit. Hari menjelang gelap. Angin sudah berhenti. Energinya sudah melemah. Kupu-kupu itu terus mengepakkan sayapnya. Terus dan terus ke barat.
Di tengah perjalanan, dalam gelap malam, ia bertemu dengan burung hantu di dahan sebuah pohon. Sayangnya burung hantu tak mengenal mawar tetapi makar. Giliran kupu-kupu tak mengenal makar. Keduanya tak berada dalam titik temu. Kupu-kupu makin gelisah. Burung hantu meminta maaf karena tak bisa membantu. Tapi, setidaknya ia tulus dan itu sudah cukup, dari pada seperti ular tadi, ada maunya.
Setelah berterima kasih dan berpamitan, ia tinggalkan burung hantu dan menyusuri malam sejauh mungkin. Tak ada petunjuk arah mana, ia terus terbang dan terbang lagi. Tubuhnya melemah, tenaganya mengendur namun tak sampai habis karena kenangan indah bersama mawar merah memacu dirinya.
Memori itulah yang menemani kesepiannya. Hingga tak terasa, matahari terbit di belakangnya. Energinya sudah sampai di titik nadir dan ia memutuskan untuk beristirahat. Tepat di taman kumuh depan kamar pondokku. Hinggap di bunga tanaman Jihong milikku, tanaman hias sebangsa dengan tanaman Mawar. Di benaknya hendak bertanya tentang Mawar Merahnya pada Jihong tersebut. Mungkin kawan barunya itu tahu di mana mawar merahnya kini berada.
Tetapi skenario takdir kupu-kupu itu dipercepat oleh Tuhan. Jihong tersebut mengantarkan Kupu-kupu posang itu padaku. Perjalanan yang luar biasa. Aku terharu mendengar penuturan kupu-kupu itu dalam upayanya menemukan mawar merah. Cinta yang membuatnya hidup kembali dan cinta pula yang membuatnya melewati petualangan berbahaya. Aah, aku harus belajar dari kupu-kupu ini dalam memaknai cinta. Sungguh, aku benar-benar tersentuh. Lalu aku teringat, rasanya baru kemaren ada setangkai mawar merah di taman kecil milik tetangga pondokku, seperti baru ditanam oleh si empunya taman karena mawar tersebut masih sayu dengan mahkota bunganya yang hampir mengatup dengan kelopaknya.
Tanpa pikir panjang aku segera bergegas membawa kupu-kupu yang masih terdiam di jariku itu ke sana. Mungkin saja itu mawar merahnya. Karena temanku, si empunya taman pernah bilang kemaren, kalau ia menemukan bunga mawar merah itu di tepi jalan, hampir layu. Dan ia segera menanamnya di tamannya.
Sepuluh langkah menjelang taman, kupu-kupu itu bergerak-gerak. Sepertinya ia sudah mencium aroma khas mawar merah itu. Dan benar saja, belum lagi sampai kaki ini melangkah, kupu-kupu itu terbang melesat dari jariku, menuju mawar merah di taman itu. Ia hinggap di pucuknya. Mawar merah menyambut dengan liukannya. Respon yang terjalin di antara mereka benar-benar hangat. Mereka seperti dua sahabat lama yang baru berjumpa. Penuh kerinduan.
Dua sejoli yang sedang dimabuk asmara. Dua sejoli yang sedang bercinta. Aku terpana. Waw, indah ya.
(Akulah kupu-kupu itu, dan kaulah bunga mawar nan indahnya…).
 
 
* Cerpen ini adalah hasil aransemen antara dunia fakta dan dunia imajinasi penulis asli dan penulis lugu. Tidak diperuntukkan kepada Media, hanya untuk kalangan sendiri.

read more “CHANGE ONE'S OWEN”

SYAIKH NAWAWI BANTEN: THE GREAT SCHOLAR ULAMA-ULAMA INDONESIA


Dia sangat patut diberi prediket pujangga dunia Islam
(Idham Chalid)
Judul : Sayyid Ulama Hijaz; Biografi Syaikh Nawawi al-Bantani
Penulis : Samsul Munir Amin
Penerbit : Pustaka Pesantren, LKiS Yogyakarta
Halaman : xiv + 128 halaman
Cetakan : I, Februari 2009
Peresensi : Anwar Nuris


Ada beberapa nama yang bisa disebut sebagai tokoh kitab kuning Indonesia. Sebut misalnya; Syaikh Nawawi al-Bantani, Syaikh Abdul Shamad al-Palimbani, Syaikh Yusuf al-Makassari, Syaikh Syamsudin al-Sumatrani, Hamzah Fansuri, Nuruddin al-Raniri, Syaikh Ihsan al-Jampesi, dan Syaikh Muhammad Mahfudz al-Tirmasi. Mereka ini termasuk kelompok ulama yang diakui tidak hanya di kalangan pesantren di Indonesia, tapi juga di beberapa universitas di luar negeri.
Bahkan, konon banyak ulama dan pakar bahasa Arab, termasuk ulama Al-Azhar, yang tidak segera percaya saat mereka tahu bahwa pengarang kitab Amtsilah al-Tashrifiyyah adalah Kiai Makshum Ali dari Jombang, Indonesia, yang dimaklumi tidak menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa ibu. Kitab Ilmu Tashrif (konjugasi) ini terkenal karena dapat menjelaskan proses bentukan kata dan tata matra (wazan) secara ringkas.
Selain Kiai Makshum Ali, juga ada Kiai Ihsan bin Dahlan Jampes dari Kediri. Dengan karya monumentalnya yang berjudul Siraj al-Thalibin sebagai kitab syarah (penjelas) dari Minhaj Al-’Abidin-nya Al-Ghazali, mampu membuat penasaran para penggemar “etika al-Ghazali” di Eropa, karena mereka mengakui doktrin-doktrin Imam al-Ghazali yang begitu rumit namun dengan gamblang diuraikan oleh Kiai Ihsan. Bahkan ketika kitab Siraj terbit dan beredar di dalam maupun di luar negeri, datanglah utusan raja Faruq dari Mesir yang meminta Kiai Ihsan untuk mengajar di Universitas al-Azhar. Akan tetapi, beliau menolak tawaran tersebut dan lebih memilih untuk tetap tinggal di Indonesia.
Begitu pula yang terjadi dengan Syaikh Imam Nawawi al-Bantani. Beliau adalah satu dari tiga ulama asal Indonesia yang diizinkan mengajar di Masjidil Haram di Makkah, dan di antara ketiganya, beliaulah yang di anugerahi gelar Sayyid Ulama Hijaz (Pemimpin Ulama Hijaz). Dan juga satu-satunya ulama Indonesia yang namanya tercantum dalam literatur-literatur Arab yang sangat masyhur, antara lain dalam kamus al-Munjid karya Louis Ma’luf yang terkenal itu.
Nama Syaikh Nawawi sangat lekat dikalangan kiai dan santri di Indonesia, karena hampir semua kiai di Jawa dan Indonesia secara umum memiliki geneologi intelektual yang sama-sama bermula darinya. Diantara muridnya yaitu; KH. Hasyim Asy’ari, KH. Ahmad Dahlan, Kiai Mahfudz Tremas, Kiai Asnawi Kudus, Kiai Ahmad Khatib al-Minangkabawi, dan Kiai Kholil Bangkalan, dan masih banyak yang lainnya.
Yang perlu digarisbawahi disini adalah, bahwa dikalangan ulama dan pengarang Islam dikenal dua nama Nawawi. Keduanya sama-sama ulama dan pengarang besar. Pertama adalah Abu Zakariya Yahya bin Syaraf bin Birri bin Hasan bin Husaini Mukhyiddin an-Nawawi as-Syafi’i. Dia adalah seorang Ulama Syafi’iyyah yang lahir dan wafat di Nawa, Damsyiq. Dia dikenal sebagai Imam Nawawi dan hidup sekitar abad ke-13 Masehi. (hlm. 9).
Yang kedua adalah Abu Abd al-Mu’thi Muhammad ibn Umar ibn Arabi ibn Nawawi al-Jawi al-Bantani al-Tanari. Ia lebih dikenal dengan sebutan Muhammad Nawawi al-Jawi al-Bantani. Dilahirkan di Kampung Tanara, Serang, Banten pada tahun 1230 H/1815 M. Pada tanggal 25 Syawal 1314 H/1897 M beliau wafat dalam usia 84 tahun dan dimakamkan di Ma’la dekat makam Siti Khadijah, Ummul Mukminin, istri Nabi Muhammad SAW. Sebagai tokoh kebanggaan umat Islam di Jawa khususnya di Banten, Umat Islam di desa Tanara, Tirtayasa, Banten setiap tahun di hari Jum’at terakhir bulan Syawal selalu diadakan acara Haul beliau.
Ayahnya bernama Kiai Umar, seorang pejabat penghulu yang memimpin Masjid. Dari silsilahnya, Nawawi merupakan keturunan kesultanan yang ke-12 dari Maulana Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati, Cirebon), yaitu keturunan dari putra Maulana Hasanuddin (Sultan Banten I) yang bernama Sunyararas (Tajul ‘Arsy). Nasabnya bersambung dengan Nabi Muhammad melalui Imam Ja’far al-Shodiq, Imam Muhammad al-Baqir, Imam Ali Zainal Abidin, Sayyidina Husen, Fatimah al-Zahra.
Mengenai kiprahnya di kalangan komunitas pesantren, Syaikh Nawawi tidak hanya dikenal sebagai ulama penulis kitab, tapi juga ia adalah mahaguru sejati. Nawawi telah banyak berjasa meletakkan landasan teologis dan batasan-batasan etis tradisi keilmuan di lembaga pendidikan pesantren. Ia turut banyak membentuk keintelektualan tokoh-tokoh para pendiri pesantren yang sekaligus juga banyak menjadi tokoh pendiri organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Apabila KH. Hasyim Asy’ari sering disebut sebagai tokoh yang tidak bisa dilepaskan dari sejarah berdirinya NU, maka Syaikh Nawawi adalah guru utamanya.
Maka dengan mengangkat kembali wacana produktifitas ulama Indonesia, buku ini menyajikan biografi singkat Syaikh Nawawi. Setidaknya ada beberapa manfaat yang diharapkan sebagaimana yang diinginkan buku ini. Pertama, untuk memberikan informasi yang lebih luas mengenai Syaikh Nawawi; sejarah hidup, jasa-jasanya dalam penyebaran agama Islam, dan karya-karyanya yang fenomenal yang sampai sekarang dijadikan rujukan beberapa pesantren di Indonesia. Kedua, untuk mengungkap secara lebih mendalam pemikiran-pemikiran dakwahnya, terutama dalam kitab Tafsir al-Munir-nya. (Hlm. 82-93)
Memperhatikan karya-karya Syaikh Nawawi, dia dikenal memegang teguh dan mempertahankan traidisi keilmuan klasik, suatu tradisi keilmuan yang tidak bisa dilepaskan dari kesinambungan secara evolutif dalam pembentukkan keilmuan agama Islam. Besarnya pengaruh pola pemahaman dan pemikiran Syekh Nawawi terhadap para tokoh ulama di Indonesia, Nawawi dapat dikatakan sebagai poros dari akar tradisi keilmuan pesantren dan NU. Untuk itu buku yang di tulis Samsul Munir Amin ini sepatutnyalah mendapatkan perhatian dan apresiasi serius oleh kader-kader NU sekarang yang rata-rata ansich bergelut dalam dunia politik praktis dan melupakan tradisi keagamaan pendahulunya.
Buku setebal 128 halaman ini di-frame, dikemas dengan konsep ilmiah populer karena memang sebelumnya buku ini adalah hasil skripsi penulis. Meskipun demikian, bahasa yang digunakan buku ini tetap mudah dipahami oleh kaum awam sekalipun. Sebuah buku yang membahas biografi mahaguru sejati (the great scholar) ulama-ulama Indonesia.

* Anwar Nuris, Ketua Umum IKMAS (Ikatan Mahasiswa Sumenep) di Surabaya, alumnus Pondok Pesantren Nasy-atul Muta’allimin Gapura – Sumenep. Tulisan ini sudah dimuat di situs NU Online, Edisi 11 Mei 2009.
read more “SYAIKH NAWAWI BANTEN: THE GREAT SCHOLAR ULAMA-ULAMA INDONESIA”

REFLEKSI SEWAKTU BISU


Siangku malamku,
Malamku siangku,
Siang malamku
Hatiku kelu,
Malam siangku
Mulutku bisu,


Ini bukanlah kisah akhir seluruh kehidupanku, aku masih menysakan seperempat nafasku untuk sesuatu yang belum sempat kujamah. Aku tidak tau lagi ujung perjalanan yang sebelumnya tidak pernah kurasakan memulainya. Betapa tidak, saat terlakhir di dunia ini, katanya ku hanya membawa tangis yang di iringi oleh senyum bahagia sekelilingku.
Sempat terlintas dalam pikiranku, aku adalah tuhan yang mampu merasakan dan melampaui segala apa yang ada di dalam dan di luar diriku. Namun, perasaan itu tumbang seketika saat aku mencoba menggapai apa yang sebenarnya dalam diriku.
Ah itu hanya kerangka waktu yang sistematis, skenario tuhan untuk makhluknya yang bernama manusia. Makhluk yang satu ini pasti mengalami masa transisi yang mampu membawanya ke arah kedewasaan. Semuanya berawal dari rasa tidak tahu, sedikit tahu, banyak tahu, dan bahkan terkadang sok tahu.
Hidup, singkat sarat akan makna. Banyak orang yang berani mempertaruhkan apapun demi kelangsungan gelar ini agar tetap disandang di pundaknya. Akupun saat ini sulit membedakan apakah aku masih hidup, hidup tapi sebenarnya mati, mati bersama hidup, atau bahkan aku tidak pernah mengenal hidup sekaligus mati. Antara hidup dan mati sama saja.
Begitupun juga dengan mati. Kata yang mampu membangunkan buluk kuduk, merinding, ih menyeramkan, sebagian orang tidak ingin menjumpai peristiwa ini. Atau bahkan tidak sedikit pula orang selalu merindukan yang namanya mati. Konotasi makna yang begitu mendalam, sampai-sampai semua orang mempunyai ke khawatiran untuk menyelaminya.
”Entahlah.. ” celetuk kakek tua yang sudah berkepala lima. ”hal itu tidak perlu jauh dipikirkan, kita hanya dituntut mampu mencari jawaban, apakah sudah siap untuk menghadapi mati?”, selorohnya dengan nada begitu datar, mencerminkan ketidaksiapan, keragu-raguan akan kesiapan dirinya menghadapi mati.
”Alah..hari gini ngomongin mati, rata-rata umur tu kepala lima ke atas lah?”, ledek adik yang masih kelas 1 SMP. aneh!, antara hidup dan mati masing-masing mempunyai interpretasi unik bagi masing-masing orang.
Begitupun dengan bumbu hidup, salah satunya cinta. Siapa yang tidak kenal dengan kata ini. Terkadang membuat geleng-geleng kepala, bukannya tidak mengerti, tetapi pusing. Interpretasi yang berbeda-beda. Cinta itu buta, cinta itu indah, lantas apa hubungannya antara buta dengan indah?.
Aku hanya ingin hidup dengan cinta yang membutakan.
***
Sebentar lagi aku KKN, karena kemaren PPL sudah aku ikuti sepertiga perjalanan. Sebentar lagi aku akan menghadapi dunia real sereal-realnya. Sebentar lagi aku akan memahami betapa hidup itu sebenarnya sangat pendek. Baru kemaren rasanya semester satu, tiba-tiba sekarang sudah ditengah semester enam.
Sebentar lagi aku skripsi, dengan idealisme yang begitu melangit hingga tidak mampu dibumikan. Sebentar lagi aku akan wisuda yang katanya menyenangkan sebab jadi pengacara muda (pengangguran banyak acara). 
Sebentar lagi aku akan menepati janji untuk menikahinya secara halal, sebentar lagi aku akan disibukkan dengan berbagai macam persiapan pernikahan, mulai dari maskawin, walimah dan lain sebagainya. 
Sebentar lagi aku akan jadi Ayah karena berselang 1 tahun aku mengawininya, dia sudah mengandung. Sebentar lagi aku akan menggendong bayi mungil nan lucu. Sebentar lagi aku akan melihat bayi yang baru terlakhir dari rahim istriku itu masuk sekolah TK, dipelajari ngaji alif ba’ ta’ tsa’ dan seterusnya. Dipelajari a b c d dan seterusnya, hingga dia bisa baca, berbicara, dan menulis.
Sebentar lagi aku jadi tulang punggung keluarga, menjadi orang yang di hormati dan disegani di keluarga besarku. Sebentar lagi aku sakit, meregang nyawa. Sebentar lagi aku akan mati, menghadap-Mu, tapi sampai sekarang aku ingin hidup seribu tahun lagi.
Aku malu untuk berjumpa dengan-MU, Tuhan...
Sebentar lagi akan menutup tulisan ini, dan akan dilanjutkan lain waktu...
 
TRANSISI
Pagi...
Jam Delapan
seperti tenggelam dalam kegelapan,
Jam Sembilan
semakin terpenjara bersama kemiskinan,
Jam Sepuluh
selalu melenguh hingga berpeluh,

Malam..
Jam Tujuhbelas
beduk Senja nian memelas,
Jam Sembilanbelas
menghela panjang napas,

Jam Duapuluhtiga
Limapuluhsembilan menit
Limapuluhsembilan detik
menghadapi kehidupan pelik,

Indonesia..
Jam Duapuluhempat
sabar hingga kiamat
Surabaya, 2009

KEMBALI UNTUKMU

Sayup suara gerimis memanggil luruh 
lorong waktu mengukir jutaan rindu
via berhala kecil manisku

"Aku masih rindu
cubitan nakal tangan kirimu,
dulu"

"Aku masih ingin
kau hadir melampaui waktu,
kemarin"

dengan aroma wangi nafsu birahi
ingin sua dalam keterjagaan semesta ini
Bangkalan, 2009
BUDDHA TAUBAT
Singkirkan…
Kammakilesa, karena papakamma
Sang Vijaya datang untuk nasevati
chanda gati,
dosa gati,
moha gati,
bhaya gati
Pergi…
Dari hidung, mata, lidah, telinga, kulit, 
Membuka simpul di hati!
Yogyakarta, 2008

ELIAT
Tertidur dalam bangunku
seperempat waktu telah merenggut
perlahan, pelan tanpa sadar
diam, hening, sunyi
rasa itu hadir kembali
kapan…

Kau telah tidurkan aku dalam bangunmu
atau,
Akulah yang tidak mau bangun
dalam tidurmu
bangunkan aku dari tidur-bangunmu

Dasar!
saat Aku terbangun
kau meniduriku
Sumenep, 2009
JEJAK SAJAK SEJAK

sejak sajak-sajak tinggal jejak
yang tenggelam dalam kelam

sejak sajak-sajak mulai merangkak
teringat kepedihan masa silam

sejak sajak-sajak terukir
enggan berfikir

sejak sajak-sajak mulai berair mata
kutimbang-timbang tak mampu meredakan luka

sudi terkapar, terlempar terbenam ke dasar
dengan separuh jejak
siapa hendak ku ajak?
Jakarta, 2008
 
TASBIHKUPUTUS
Keluh hadir
dari sisi gelap sudut mungil
alpha di buku absensi-Mu
izin di harian-Mu
sakit di haribaan-Mu

tasbih kuputus?
taubat, ingin ku teguk air mata haru-Mu
tasbihku putus?
tengadah, resah membuncah harap ma'unah-Mu
Surabaya, 2009
DAPUR PENULIS
Betapa tidak!
tergerus pena bercahaya
menggiring ke utara bertanya pada sebongkah asa
meramu sinonim makna kisah garam kemarau
melukis air asin, tawar, kecut, asam, anyir..
menjadi harum berpelukan di belangga

Betapa iya!
semut tertawa menggelikan
terjerembab ditumpukan kertas si Dewa Tinta
gajah berkoar-koar mencibir
"ah.. tulisanmu masih jelek"
Surabaya, 2009



Anwar Nuris, Kelahiran Sumenep – Madura, 15 Maret 1987. Alumni Ponpes Nasy-atul Muta’allimin Gapura Timur. Sekaranag tinggal di Surabaya mengelola Pondok Budaya IKON Surabaya, Direktur komunitas sastrawan-paedagogis SENJANUARI, serta kontributor Bulletin Obhur IKMAS (Ikatan Mahasiswa Sumenep) di Surabaya.


read more “REFLEKSI SEWAKTU BISU”

MENGARUNGI DUNIA LAIN KAUM SARUNGAN

Anwar Nuris *

Judul : Karomah Para Kiai
Penulis : Samsul Munir Amin
Penerbit : Pustaka Pesantren, LKiS Yogyakarta
Halaman : xx + 348 halaman
Cetakan : I, November 2008



Di kalangan teman-teman pemeluk agama Katholik, Gus Dur disamakan dengan Santo, yakni orang suci yang di kalangan orang Islam disebut Wali.
(Irwan Havid Adinata)

Kiai adalah sosok yang unik. Ada semacam magnet yang menjadi axis bagi lainnya. Ada daya tarik luar biasa dari seorang kiai dalam segala aspek dan percaturan kehidupan, seperti ekonomi, kesehatan, politik, sosial, budaya dan bahkan “dunia lain” spiritualnya. Ketika institusi yang lain belum memerankan rolenya secara maksimal, maka kiailah yang menjadi tempat berlabuhnya berbagai kepentingan masyarakat. Orang mau punya hajat, mau bekerja, mau cari pendamping hidup, ingin sehat dan sebagainya akan datang kepada kiai.
Istilah kiai yang melekat dalam kehidupan masyarakat negeri ini bukan berasal dari bahasa Arab, melainkan dari bahasa jawa. Menurut Zamakhsyari Dhofier, istilah kiai dalam bahasa jawa dipakai untuk tiga jenis gelar yang berbeda. Pertama, sebagai gelar kehormatan bagi barang atau benda yang dianggap keramat (gelar “Kiai Garuda Kencana” untuk menyebut kereta emas yang ada di keraton Yogyakarta). Kedua, gelar kehormatan bagi orang-orang tua, usia lanjut, dan berjenis kelamin laki-laki pada umumnya. Sedangkan gelar Nyai disematkan untuk yang berjenis kelamin perempuan. Ketiga, gelar yang dianugerahkan oleh masyarakat kepada seorang yang ahli dalam agama Islam yang memiliki atau menjadi pemimpin pesantren.
Pasca penelitian Clifford Geertz tentang Javanese Kiai di pertengahan tahun 1950-an, maka terjadi kesenjangan luar biasa tentang kajian kiai yang sering dilabeli sebagai pemimpin agama tradisional. Kalaupun ada penelitian tentang kiai, maka hanya ada beberapa saja dan hal ini jauh berbeda dibanding dengan penelitian tentang ulama modern yang menuai dan menjadi lahan utama tentang kajian Islam di Indonesia.
Ada beberapa kajian ulama-kiai yang menempati posisi sangat bagus dalam kajian ilmu sosial, seperti tulisannya Zamakhsyari Dhofier (Tradisi Pesantren; studi pandangan hidup Kyai), Hiroko Horikhosi (Kiai dan perubahan sosial), I’ik Arifin Mansornur (Islam in Indonesian World: Ulama of Madura), Imron Arifin (Kepemimpinan Kiai; kasus pesantren Tebuireng), Pradjarta Drjosanjoto (Kiai pesantren Kiai langgar di Jawa), Endang Turmudi (Perselingkuhan Kiai dan politik), Shanhaji Sholeh (Arah Baru NU), Lao Ode Ida (NU Muda, kaum progressif dan sekularisme baru), Ali Maschan Moesa (Kiai dan Nasionalisme), dan lain sebagainya.
Kajian-kajian di atas hanya terbatas pada diskursus tentang kiai dalam konteks interaksi sosialnya. Sedangkan buku Samsul Munir Amin (Karomah para Kiai) ini mencoba menyentuh ruang berbeda para kiai “asli” Indonesia ini, yaitu dari aspek karomahnya. Meskipun demikian, kisah-kisah karomah yang tertuang dalam buku ini merupakan kekayaan khazanah kiai pesantren yang mencitrakan ketinggian spiritual mereka. Jadi bukan nilai mistisnya semata yang ingin dituangkan oleh penulisnya, namun kearifan lokal (local genius) para kiai dalam menerapkan nilai-nilai ajaran Islam kepada masyarakat. Bahkan buku ini juga memeberikan informasi tentang moral massage para kiai yang hendaknya ditiru dalam rangka taqarrub billah.
Dunia lain (baca: mistis) disini memang cukup lekat dengan komunitas pesantren karena latar belakang sufisme yang menjadi trade mark kalangan pesantren sendiri memiliki pengaruh sangat kuat. Namun mistis disini adalah mistis dalam pengertian positif, bukan takhayul ataupun khurafat. Demikian juga, kelekatan pesantren dengan dunia mistis tidak berarti menafikan hal-hal yang rasional. Sebab antara keduanya tercipta sebuah perpaduan yang cukup unik. Dalam artian bahwa pemikiran rasional di kalangan pesantren tidak membuat nuansa-nuansa sufisme menjadi hilang begitu saja.
Dengan mengangkat kembali wacana karomah, buku ini menyajikan 77 kisah karomah para kiai lokal, setidaknya ada dua manfaat yang diharapkan sebagaimana yang diinginkan buku ini. Pertama, bagi para kiai kontemporer, kisah-kisah dalam buku ini mungkin dapat dijadikan cermin, sejauh mana mereka meneladani kiai-kiai sepuh. Seberapa banyak mereka berittiba’ kepada masyayikh dan para guru.
Kedua, kisah karomah kiai lokal dalam buku ini dapat menggugah kembali kesadaran masyarakat luas dari gebyar dunia materialistis; dari word view (pandangan dunia) yang semata-mata menilai semua hal dari sisi ragawi, bendawi, atau kulit luarnya; dan dari paham tekstualis dan legal formal, yang lebih sering menafikan subtansi dan isi.
Buku ini enak dibaca karena di-frame, dikemas dengan konsep bercerita serta menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh kaum awam sekalipun. Pemaparan singkat perjalanan nyeleneh tiap tokoh yang kemudian di ikuti dengan penjelasan apa makna setiap khawariq al-‘adah (peristiwa diluar kebiasaan) tokoh tersebut menjadikan buku ini lebih legit dan menggigit. Jadi buku ini bukanlah seperti kisah-kisah jenaka Abu Nawas atau yang lainnya yang hanya menitik beratkan pada unsur luar ceritanya saja sebagai hiburan yang tidak ada unsur sufistiknya.
Buku ini memaparkan beberapa tokoh NU papan atas, di bahas beserta kisah-kisah aneh dalam keseharian mereka. Misalnya Hadratus Syeikh KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahid Hasyim, KH. Ridwan Abdullah, KH. Wahab Chasbullah, dan lain sebagainya. Kisah KH. Ridwan Abdullah pencipta pertama lambang NU. Petunjuk gaib bagaimana seharusnya lambang NU yang beliau terima setelah menunaikan shalat istikharah tidak lain merupakan sketsa lambang yang ditunjukkan oleh Allah SWT. (Hal. 150).
Selain itu, peristiwa khawariq al-‘adah yang diceritakan tanpa menyertakan bagaimana proses mendapatkannya menjadi salah satu kelemahan buku ini. Namun demikian, buku ini layak diapresiasi karena bukan berarti buku ini mengajak seseorang untuk menjadikan karomah sebagai tujuan. Sebab, karomah hanyalah salah satu efek dari keistiqamahan seseorang. Karomah tidak lain hanya semacam hadiah kecil dari Tuhan kepada orang yang bersungguh-sungguh mendekatkan diri kepada-Nya, sebagaimana di katakan oleh Ibnu ‘Atha’illah dalam kitabnya, al-Hikam; Tuhan memberi engkau anegerah (karomah) semata-mata agar engkau terus berusaha mendekatkan diri kepada-Nya.
Dus, sebagaimana juga dinyatakan al-Kurdi bahwa penampakan karomah secara sengaja justru menunjukkan kelemahan jiwa seorang salik, kecuali jika penampakan karomah tersebut demi eksistensi agama yang terancam atau demi mewujudkan kemaslahatan.
Buku ini menjadi lebih menarik, jika kemudian diminati dan dibaca oleh para kiai yang terjun di dunia politik.

* Anwar Nuris, Alumnus Pondok Pesantren Nasy-atul Muta’allimin Gapura – Sumenep, dan sekarang nyanggong di IKMAS (Ikatan Mahasiswa Sumenep) di Surabaya. Tulisan ini sudah di muat di Harian Duta Masyarakat, Edisi; Ahad 28 Desember 2008.
read more “MENGARUNGI DUNIA LAIN KAUM SARUNGAN”

INTELEKTUALIS VERSUS POLITIKUS

Anwar Nuris *

“Misi suci kaum intelektual adalah membangun masyarakat bukan menjabat kepemimpinan politis”. (Ali Syari’ati).

Tak dapat di pungkiri, peran kaum muda Indonesia sangat signifikan dalam lembaran sejarah bangsa. Mulai dari peristiwa Sumpah Pemuda 1928, Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, pergolakan politik 1966, peristiwa reformasi 1998, bahkan sekarang banyak kaum intelektual muda yang mulai nimbrung dalam perpolitikan praktis, baik dalam kancah perpolitikan lokal, regional, dan nasional. Sebagai kaum elit intelektual, kaum muda yang mayoritas berasal dari dunia kampus kerap mengusung ide pembaharuan yang berdiri di atas pijakan idealisme dan moralitas. Karena itu, kaum muda, terutama dalam hal ini adalah para intelektual kampus, kerap di beri cap agent of change (agen perubahan) karena punya kesadaran intelektual untuk melakukan perubahan.

Namun dalam konteks Indonesia kekinian, persoalan yang tengah menyerang kaum intelektual muda hari ini adalah justru kian menipisnya sense of intellectual. Sebuah instrument primer, tanpa hal itu menjadikan tumpul pisau pendobrak suatu perubahan. Karena itu, penguatan sense of intellectual menjadi sebuah keniscayaan dalam kiprah mahasiswa untuk merealisasikan peran sebagai agen of change. Sense of intellectual ini, perlu ditransformasikan kepada intellectual tradition (tradisi intelektual). Tak bisa dinafikan, bahwa aktivitas-aktifitas keilmuan merupakan salah satu gerbang menuju tradisi intelektual bagi mahasiswa.

Bahkan belakangan ini kita saksikan adanya trend pragmatisme yang merundung kaum muda intelektual. Orientasi gerakan lebih berfokus pada kepentingan pragmatisme belaka yang bersifat politis. Kita menyaksikan misalnya, sejumlah aktifis 98 yang dulunya vocal dan kritis terhadap pemerintah, kini harus menjadi bagian dari pemerintah. Atau setidaknya mereka termasuk bagian dari system politik yang saat ini amat korup dan rapuh.

Oleh karena itu, tradisi intelektual yang kemudian mengejawantahkan dalam trias tradition; discussion tradition, reading tradition, dan writing tradition menjadi point pokok untuk dikaji kembali jika kemudian dikorelasikan dengan intelektual ansich dan kaum intelektual yang nimbrung di panggung politik. Ini merupakan problematika yang belum banyak mendapat perhatian khusus, karena bagi kaum intelektual akan menganggap bahwa politik hanya akan memutuskan dan menghambat tradisi intelektualnya. Begitu pula bagi politikus, wilayah intelektual hanya berbicara konsep dan teori bukan pada tataran aplikasi dan implementasi langsung di dunia nyata. Jadi trias tradisi versi kaum intelektual tidak lagi dibutuhkan oleh intelektual politikus. Bisa saja, tradisi diskusi, membaca, dan menulis bukanlah hal signifikan bagi seorang politikus.

Dari wacana di atas, maka perlu adanya formulasi solutif yang memungkinkan tidak tumpang tindihnya peran identitas dan status. Karena problematika yang muncul adalah bagaimana jika kaum intelektual murni mulai merambah ke wilayah perpolitikan praktis. Apakah tradisi intelektual dan aktifitas keilmuan lainnya akan dia tinggalkan. Lantas siapa yang akan menjadi control terhadap mobilitas pemerintahan.

Tulisan ini tidak lantas “menghakimi” kaum intelektual yang mulai meniti karir di perpolitikan praktis. Karena mereka di satu sisi juga mempunyai hak berpolitik. Sebenarnya kasus-kasus seperti ini sama dengan wacana kaum ulama yang berlomba-lomba merebut kursi kepemimpinan. Tulisan ini hanya sebatas refleksi terhadap fenomena yang terjadi. Terlalu sering para politikus mengumbar janji namun tanpa pembuktian yang signifikan.

Ada dua opini yang perlu kita refleksi bersama, yaitu; pertama, meminjam adegium David Mendell bahwa berpolitik tanpa ide dan gagasan cerdas sama dengan memimpin tanpa tanggung jawab. Ini harus dipertimbangkan lagi oleh kaum intelektual muda yang hendak berpolitik praktis. Apakah konsep, ide, dan gagasan untuk membangun pemerintah benar-benar sudah terpikirkan untuk di tawarkan ke publik.

Sejarah membuktikan bahwa kaum tua telah di anggap gagal membawa dan memimpin negara. Ide dan gagasan brilian mereka sudah tidak layak pakai. Permasalahan ekonomi, sosial, budaya, bahkan agama tidak cepat terselesaikan. Ini adalah persepsi, jadi kemungkinan benar dan tidaknya bukan menjadi keputusan final.

Kedua, menurut Ali syari’ati bahawa misi suci kaum intelektual adalah membangun bangsa, masyarakat, dan negara dengan tidak menjabat langsung kepemimpinan praktis. Di satu sisi, antara peran “membangun” dan “mengembangkan” tidak terlepas dari “menguasai”. Di sisi lain, peran awal sebagai intelektual sedikit demi sedikit akan di tinggalkan. mereka dimungkinkan tidak akan lagi membicarakan aktifitas keilmuan, penelitian, dan lain sebagainya. Mereka kemudian akan disibukkan dengan berbagai aktivitas rapat komisi, sidang istimewa, kunker, dan lain sebagainya.

Dus, berbagai probelamatika diatas diharapkan menemukan titik temu dan solusi tepat untuk sama-sama menjalani peran masing-masing variable, kaum intektual dengan politikus. Sehingga tidak akan ada lagi istilah “kesunyian inteletual kampus” dalam skop kecil, ataupun “politikus busuk” yang sempat mengemuka dalam konteks luas.

Lebih dari itu, sebenarnya dunia masih merindukan kompleksitas peran kaum intelektual yang ikut serta meramaikan pesta demokrasi. Di satu sisi dia mampu berperan sebagai intelektual yang tetap mempunyai visi dan misi suci membangun dan memajukan negara. Dan di sisi lain dia mampu berperan sebagai politikus dengan gagasan-gagasan cerdas demi kepentingan dan kemajuan bangsa. Yang tentunya hal ini di topang dengan nilai moralitas demokrasi serta sesuai dengan apa yang pernah dikemukakan oleh William Sullivan; iktikad baik, kepercayaan, dan idealisme. Sebuah perbincangan yang cukup panjang dan memerlukan waktu lama untuk menuju sebuah absurditas intelektual politis.

* Anwar Nuris, penulis adalah Sekretaris Jenderal HMJ Kependidikan Islam Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya. Tulisan ini sudah di muat di Koran Duta Masyarakat, 3 November 2008.

read more “INTELEKTUALIS VERSUS POLITIKUS”

MEMBANGUN NU YANG KREATIF PROGRESSIF


Judul Buku : NU dan Tantangan Neoliberalisme
Penulis : Nur Kholik Ridwan
Penerbit : LKiS, Yogyakarta
Cetakan : I, Januari 2008
Tebal :
xx + 204 halaman
Peresensi : Anwar Nuris *


Nahdlatoel Oelama (NO) yang lahir 31 Januari 1926 M, 82 tahun silam, akan menjadi satu abad pada tahun 2026 mendatang, sudah cukup tua untuk ukuran organisasi keagamaan dan kemasyarakatan semacam NU ini.

Di tengah usia yang menjelang seabad ini, NU menghadapi problem-problem yang jauh kebih kompleks. Saat kelahirannya dulu, NU menghadapi dua hal: globalisasi Wahhabi dan globalisasi imperialisme fisik Barat ke negara-negara dunia ketiga, termasuk di nusantara. Kini NU juga mengahadapi dua tantangan sekaligus: globalisasi Islam Radikal dan globalisasi Neoliberal. Diakui atau tidak, keduanya diprediksikan akan menggerus nasib NU ke depan, bahkan bisa menghempaskan NU menjadi sesuatu yang tidak berharga di mata dunia bila tidak direspon secara baik.

Membaca NU perspektif historis memang banyak mengalami sindrom kekalahan; ini bisa kita amati bagaimana Nahdlatutujjar yang diharapkan mampu mengangkat ekonomi pertanian masyarakat pesantren dan pedesaan, ternyata berakhir dengan kekalahan dan mati. Yang lebih ironis, NU dilanda kekalahan inisiatif; NU lahir dari perseteruan ide antara kaum tradisionalis dengan kaum modernis. Disisi lain, kehadiran NU dibanggakan pada saat-saat genting keadaan mengancam NKRI dan negara Pancasila dari blok negara Islam, dan NU tampil ke depan dan memberi argumentasi pentingnya Islam dan umat Islam mendukung Pancasila, tetapi setelah itu, NU tetap berada dalam posisi marginal, baik dalam ekonomi ataupun kekuatan penentu kebijakan

Itulah diantara dari sekian banyak kekalahan-kekalahan sosial, ekonomi, dan budaya yang di alami NU, yang tidak sebanding dengan retorika para elitnya bahwa NU adalah organisasi besar dan bermassa paling besar di Indonesia. Kekalahan-kekalahan ini karena NU selalu melakukan tindakan sosial yang reaktif, tidak mendesainnya untuk 10, 20, atau 50 tahun mendatang, di mana NU hanya bertindak pasif. Kalaupun ada tindakan kreatif, tetapi terbentur oleh hujaman mental dan badai kekuasaan yang kuat, dan cara bertahan NU adalah lari ke pinggiran.

Ide cerdas Nur Khalik Ridlwan, penulis buku ini, tidak lain ingin menempatkan NU dalam konteks tantangan neoliberal yang sedang melanda dunia, dan bahkan di nusantara. Respon NU atas neoliberalisme akan menentukan apakah seluruh pilar-pilar pendukung NU (masyarakat basis NU, elit-elit kaum muda NU dan elit ulama-kiai NU) akan bisa menatap masa depan dengan baik ataukah akan menjadikan mereka terjerembab dan terbelit dalam sarung yang mereka pakai, dan mengalamai kekalahan.

Buku dengan judul “NU dan Neoliberalisme; tantangan dan harapan menjelang satu abad” ini ditulis karena munculnya dua tantangan serius di kalangan Nahdliyin, yaitu tantangan kalangan Islam garis keras dan neoliberalisme. Tantangan neoliberalisme ini yang kemudian menjadi konsen dari buku ini.

Sedangkan kata kunci dari konsen buku ini adalah bagaimana masyarakat NU bisa dijadikan kekuatan progresif untuk gerakan yang bisa mengangkat derajatnya di tengah fenomena neoliberalisme, dan juga apakah masyarakat Nahdliyin bisa memandu arah dan jalannya gerakan negara Indonesia yang bermartabat yang selama ini dilecehekan oleh negara lain dan perilaku elit-elitnya sendiri.

Hegemoni Neoliberal

Neoliberal adalah faham yang dipopulerkan oleh Friederich Von Hayek dan Milton Friedman, dua orang peraih nobel ekonomi serta mahaguru neoliberal, faham ini mempunyai pilar-pilar negara-negara maju, perusahaan-perusahaan transnasional, dan tiga badan dunia penting: IMF, WTO, dan Bank Dunia (World Bank).

Secara prinsip, neoliberal bermakna faham atau madzhab ekonomi yang memperjuangkan laissez faire (persaingan bebas) dalam hak-hak kepemilikan oleh individu. Dengan kata lain, globalisasi neoliberal adalah pengintegrasian ekonomi bangsa-bangsa ke dalam suatu ekonomi global pasar bebas yang berimbas pada nilai-tatanan sosial, agama, budaya, politik, dan lain-lain.

Maka bisa dipastikan, konsekuensi neoliberal bagi masyarakat NU bisa kita rasakan dengan tidak terjangkaunya biaya kebutuhan hidup karena pendapatan yang di bawah rata-rata, terjadi liberalisasi pendidikan dan menjadi komersial, membanjirnya barang dan produk-produk asing dengan mudah, dan terdesaknya produk lokal, tingkat putus sekolah yang tinggi, mahalnya biaya kesehatan dari mulai obat hingga akses berobat untuk orang miskin, dan masih banyak lagi.

Karena neoliberalisme bekerja tidak dengan semata todongan senjata, tetapi dengan mekanisme ekspansi modal, keuangan, dan penguasaan asing oleh perusahaan transnasional atas bidang-bidang hajat hidup orang banyak, langkah-langkah merespon neoliberalisme perlu memperhatikan tiga tingkatan dalam kerja neoliberalisme: level dunia internasional, level nasional negara, dan level basis riil di masyarakat. Ketiga hierarki ini perlu direspon oleh NU, dengan tidak boleh melepaskan satu tingkatan dengan tingkatan yang lain. Kalau NU hanya bergerak dalam konteks basis riil masyarakat dan mencoba membentenginya di wilayah itu, tetapi membiarkan kerja neoliberalisme di level nasional dan internasional terus berjalan, standing position yang dimainkan hanyalah bertahan: ibarat kelas bulu melawan kelas berat.

Selain itu, kaitannya dengan pengambilan sikap terhadap neoliberalisme dan kecenderungan yang selama ini dipakai dalam praksis gerakan, buku ini juga memberikan pemetaan faksi serta posisi masing-masing faksi. Di antara faksi-faksi yang disebutkan adalah: faksi NU struktural, faksi NU politik yang terpecah ke dalam banyak faksi, dan faksi anak-anak muda NU yang juga terpecah ke dalam beragam faksi.

Di antara faksi anak muda NU, faksi kelompok NGO juga menjadi konsen pembedahan buku ini. Faksi NGO, meskipun membawa semangat kritis, selama ini terjebak ke dalam gerakan yang tidak mandiri dan mengandalkan funding agency semata, terjebak pada konflik-konflik internal yang parah, tersegmentasi ke wilayah sektoral-sektoral yang terpotong, dan kehancuran manajemen. Buku ini juga berusaha membedah sikap anak muda NU yg terpolarisasi ke banyak hal; politik, struktural semata, aktivis NGO yg juga ada kelemahan di sana-sini. Urgensitas anak muda NU saat ini mesti bisa memposisikan diri sebagai apa dalam konteks globalisasi yg demikian dahsyat mendatangkan kemiskinan bagi masyarakat.

Nilai plus buku ini adalah penemuan tentang matinya gerakan keberdayaan ekonomi masyarakat NU, dan adanya kebuntuan di semua lini di kalangan masyarakat Nahdliyin, termasuk di kalangan NGO-nya, dan perlunya sebuah jalan baru bagi gerakan masyarakat Nahdliyin.

Terakhir, di usianya yang hampir seabad, NU harusnya semakin dewasa untuk bisa melakukan desain-desain kreatif-progressif atas nama generasi mendatang untuk 10, 20 dan 50 tahun ke depan. Kalau respon NU selalu dan hanya mengulang gaya reaktif-pasif seperti selama ini, maka bisa diprediksikan NU akan selalu terbelakang dan tetap akan berada di belakang. Nasib Syarikat Islam yang dulu besar tetapi kemudian menjadi berantakan perlu direfleksikan oleh masyarakat NU. Bukanlah sesuatu yang kasat mata, selain invasi neoliberal ini, di masyarakat NU juga menghadapi invasi kalangan Islam seperti PKS, HTI, dan sejenisnya yang sudah semakin hebat ke jantung-jantung Nahdliyin. Pertanyaan dasarnya kemudian, apakah fenomena seperti ini tidak cukup menyadarkan elit-elit masyarakat NU?. Selamat bertafakkur!


* Peresensi adalah Mahasiswa Jurusan Kependidikan Islam, Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya. Tulisan ini sudah di muat Majalah KHITTAH Jember.
read more “MEMBANGUN NU YANG KREATIF PROGRESSIF”

KIAI IHSAN; TOKOH INTELEKTUAL-SPIRITUAL ISLAM


Judul Buku : Jejak Spiritual Kiai Jampes
Penulis : Murtadho Hadi
Penerbit : Pustaka Pesantren, LKiS Yogyakarta
Cetakan : I, Januari 2008
Tebal : xii + 76 halaman
Peresensi : Anwar Nuris *

Konon, banyak ulama dan pakar bahasa Arab, termasuk ulama Al-Azhar, yang tidak segera percaya saat mereka tahu bahwa pengarang kitab Amtsilah al-Tashrifiyyah adalah Kiai Makshum Ali dari Jombang, Indonesia, yang dimaklumi tidak menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa ibu. Kitab Ilmu Tashrif (konjugasi) ini terkenal karena dapat menjelaskan proses bentukan kata dan tata matra (wazan) secara ringkas.

Begitu pula yang terjadi pada Kiai Ihsan bin Dahlan Jampes, dengan salah karya monumentalnya yang berjudul Siraj al-Thalibin sebagai kitab syarah/penjelas dari Minhaj Al-’Abidin-nya Al-Ghazali, mampu membuat penasaran para penggemar “etika al-Ghazali” di Eropa, karena mereka mengakui doktrin-doktrin Imam al-Ghazali yang begitu rumit namun dengan gamblang diuraikan Kia Ihsan. Bahkan ketika kitab Siraj terbit dan beredar di dalam maupun di luar negeri, datanglah utusan raja Faruq dari Mesir yang meminta Kiai Ihsan untuk mengajar di Universitas al-Azhar. Akan tetapi, dia lebih memilih untuk tetap tinggal di pesantrennya, menjadi teman setia santri dan mengajari mereka keluhuran akhlak. (hal. 24)

Kiai Ihsan bin Dahlan (1901-1952) lahir di Jampes, Kediri. Dia masih keturunan Raden Rahmatullah (dari Surabaya) melalui jalur nasab pihak perempuan, yaitu Nyai Isti’anah. Pertanyaannya kemudian, mengapa membaca sosok Kiai Ihsan ini atau membaca buku ini sangat menarik?, ini tidak lain karena intelektualitas paripurna dia yang ditopang oleh ketangguhan dan pengalaman-pengalaman yang unik dalam pergulatan spiritualnya.

Jadi, dengan kemakrifatan dan ketinggian ilmunya, Kiai Ihsan (begitu sapaan akrab dalam buku ini) mampu memadukan dirinya dengan pencipta dan hubungannya dengan sesama. Melalui jalan asketisnya, dia mampu menembus jalan wushul kehidupan akhirat, ditambah dengan sosok dia yang yang humoris, kreatif, dan ber-saharul lail (nyangkruk) dengan kopi dan rokok, sehingga begitu dekat dengan alam sekitarnya, terutama dengan santrinya.

Sebagai bukti kekreatifan Kiai Ihsan, dia banyak melahirkan cakrawala-cakrawala pemikirannya dalam bentuk karya tulisan. Diantaranya yang sempat terlacak adalah kitab Siraj al-Thalibin (Pelita Para Pencari), Irsyad al-Ikhwan; fi bayani hukmi qahwati wa al-Dukhan (Sebuah Risalah Tentang Kopi dan Rokok), Tashrib al-Ibarat (Kitab Falak Syarah Natijah al-Miqat-nya Kiai Dahlan Semarang), dan Kitab Manahij al-Imdad (syarah Irsyad al-Ibad-nya Kiai Zainuddin dari India-Selatan).

Pada tingkatan sastra, Kiai Ihsan telah menunjukkan betapa kuatnya dia dalam cabang yang satu ini. Hal ini diketahui dari karyanya yang berjudul Irsyad al-Ikhwan; fi bayani Qahwati wa al-Dukhan, sebuah syair-syair yang indah yang memuat tentang kopi dan rokok.

Dalam hal politik praktis, Kiai Ihsan bisa dijadikan parameter sebab sebagai sosok yang mempunyai peran luas dalam sosial kemasyarakatan, dia paham betul dengan high-politics (strategi politik tingkat tinggi) sehingga tidak lantas menjual harga diri pesantren. Hal ini tercermin dari sikapnya pada masa-masa penjajahan, revolusi fisik dan bahkan dengan partai terutama PKI saat itu.

Harus diakui, daya pikat politik telah mengubah pandangan hidup banyak kiai dalam memandang ragam pengabdian kepada masyarakat. Meskipun jika kembali mempertimbangkan faktor semangat zaman dan motivasi, tentu kita bisa memakluminya. Sebab di zaman sekarang, siapakah yang mau benar-benar senekad Jalaluddin As-Suyuthi yang mengasingkan diri dari khalayak ramai untuk benar-benar menyibukkan diri hanya untuk menulis sehingga menghasilkan lebih 600-an karya dari berbagai disiplin ilmu.

Kembali kepada term buku ini, Murtadho Hadi selaku penulis, juga mengupas pemikiran Kiai Ihsan dalam bidang tasawuf sebagaimana yang tertera dalam karya monumentalnya, Siraj al-Thalibin, baik dari grand narasinya yang merujuk pada kitab Minhaj al-‘Abidinnya al-Ghazali atau nilai-nilai sufistik yang terkandung di dalamnya.

Menurut Kiai Ihsan, terdapat tujuh upaya berat/jalan terjal (aqabah) untuk mencapai wushul kepada Rabb al-Jalil, yaitu ‘aqabtul ilmi (jalan terjal di dalam ilmu), ‘aqabatut taubah (jalan terjal di dalam taubat), ‘aqabatul awa’iq (antisipasi rintangan dan penghalang), ‘aqabatul ‘awarih (upaya menghadapi persoalan-persoalan yang sifatnya duniawi), ‘aqabatul bawa’its (upaya membangkitkan kerinduan yang mendalam kepada Sang Khaliq), ‘aqabatul qawadhih (upaya untuk mencapai kebersihan jiwa dan mencapai maqam kemurnian), dan ‘aqabatul hamdi was syukri (upaya untuk mencapai maqam syukur yang sebenarnya).

Beberapa isi pokok dalam buku “Jejak Spiritual Kiai Jampes” ini, memang sedikit banyak mengikuti apa yang pernah digeluti para sufi Islam yang lain. Seperti Wali Songo, dimana ajaran Islam merupakan sebuah gerakan, pengetahuan, dan sikap yang harus diejawantahkan dalam kehidupan masyarakat yang mempunyai sifat keberagaman hanif, toleran, dan damai.

Tak pelak lagi, buku ini penting dibaca kembali oleh siapa saja yang hendak ingin menghayati spirit kaum sufi atau nilai-nilai dasar Islam khususnya para santri di pesantren. Dan bisa dikatakan, buku ini juga termasuk bagian dari “intisari” ajaran Islam yang diyakini sebagai fitrah, yaitu proses perjalanan panjang seorang sufi untuk mencapai Rabb-nya. Seperti spirit yang sering dijalani oleh penganut agama -agama lain.

Hanya saja buku ini memiliki kelemahan tersendiri, seperti yang diakui oleh penulis sendiri bahwa buku ini lahir dari perbincangan santai dengan para sarkub (sarjana kuburan) di pojok-pojok warung kopi yang ada di sekitar kuburan yang pernah penulis ziarahi, sehingga lebih banyak mengandalkan ingatan, terutama menyangkut nama-nama dan judul-judul kitab. Jadi bisa dikatakan judul buku ini tidak bisa merepresentasikan isi buku.

Namun yang demikian itu, tetap merupakan upaya yang patut dihargai dan diapresiasikan bersama, bahwa kehadiran buku setebal 76 halaman ini bisa menjadi santapan alternatif mengingat kembali dimensi terpenting pergulatan spiritual hamba mencapai tingkatan insan kamil. Sebab uraian-uraian sufistik dalam buku ini cukup memberikan inspirasi dan pencerahan sekaligus menyimpan hikmah yang cukup mendalam. Wallahu A’lamu!.

* Mahasiswa Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya, Alumni Ponpes Nasy-atul Muta'allimin Gapura Timur Gapura Sumenep Madura, dan sekarang Nyantri di PP. Darul Arqam Surabaya. Tulisan ini sudah di muat di situs NU Online edisi 5 Mei 2008.

read more “KIAI IHSAN; TOKOH INTELEKTUAL-SPIRITUAL ISLAM”

NYANYIAN SYEH KHALIL

Judul : Surat Cinta Dari Aceh
Penulis : Syeh Khalil
Pengantar : Emha Ainun Nadjib
Penerbit : Pustaka Sastra, LKiS Yogyakarta
Cetakan : I, September 2007
Tebal : xx + 94 halaman
Peresensi : Anwar Nuris *


Membaca buku ini jangan mengandai-andai akan menemukan surat cinta Syeh Khalil kepada seorang gadis cantik (sebagaimana tertulis pada judul buku ini). Karena kata-kata nan indah yang penulis rangkai dalam antologi puisinya kali ini laksana oase di tengah hiruk-pikuk bencana dan berbagai masalah sosial yang dihadapi bangsa ini, terutama Aceh.
Bagi para penyair pada umumnya mempunyai karakteristik tersendiri. Misalnya kalau kita mengamati sajak-sajak ataupun puisi-puisi yang pernah diliris Sapardi, merupakan standar klasik keberhasilan yang bermain dengan suasana tanpa kehilangan ide. Sebaliknya, sajak-sajak Goenawan Moehammad atau Subagio Sastrowardoyo, adalah standar kepiawaian memainkan ide tanpa kehilangan suasana. Sementara untuk Chairil Anwar merupakan kiblat abadi kegeniusan dalam melahirkan efek maksimal dari rajutan kata yang minimal.
Sedangkan untuk puisi-puisi Syeh Khalil ini, meskipun dia lahir di bumi serambi mekkah yang pernah mengharu biru dengan konflik bersenjata, puisinya tidak terjebak dalam demonstrasi politis yang sarat kepentingan. Sajak yang dilahirkannya mencoba menceritakan Aceh dengan kesederhanaan bertutur dan keinginan berbagi tentang Aceh tanpa menghadapi siapapun. Bahkan, ada beberapa sajak sengaja ditujukan untuk membangkitkan Aceh dari keterpurukan yang mendera pasca perang dan tsunami.
Disamping menulis puisi, Syeh Khalil yang notabene termasuk output pondok pesantren, setiap harinya selalu bersinggungan dengan lingkungan agamis, ia juga penggiat sastra Aceh yang telah menulis sejumlah hikayat Aceh dan karya-karyanya diabadikan di museum Aceh sebagai penghargaan bagi penulis.
Buku yang berjudul Surat Cinta Dari Aceh ini merupakan antologi puisi yang kedua setelah pada tahun 2003 diterbitkan antologi puisi pertamanya dengan judul Sajak-Sajak Burung Dara. Salah satu nilai instrinsik yang perlu kita tekankan di sini serta dapat kita rasakan yaitu bahwa dia hanya ingin berbagi kisah tentang Aceh yang dicintainya dengan penggunaan bahasa yang cukup bersahaja dan menyentuh.
Hal ini bisa kita hayati pada puisinya yang berjudul Surat Cinta Dari Aceh yang sekaligus menjadi title buku ini. (hal. 1). Pada puisi Atjehku Berdenyut, Syeh Khalil berusaha mengungkapkan bahwa Aceh menyimpan berbagai keunikan, baik dari aspek alamnya yang indah meskipun tidak seperti Pulau Dewata Bali, serta kehidupan masyarakat disana yang ramah. (hal. 12). Sedangkan puisinya yang berjudul Tsunami lebih menggambarkan secara kronologis peristiwa naiknya air laut ke daratan akibat gempa Tsunami dan. (hal. 76). Ada juga diantara puisi-puisi yang lain dalam buku ini mengandung nuansa religius yang begitu kental, ini tidak terlepas dari perjalanannya dipondok pesantren dan pengembaraannya mengunjungi berbagai karakteristik kehidupan manusia.
Namun, imaji yang dia mainkan dalam puisinya bukan berarti berusaha menjual Aceh untuk mendapatkan belas kasihan, sebagaimana layaknya orang menjual penderitaan. Oleh karena itu Syeh Khalil tidak menunjukkan sebuah kecengengan dalam mengungkapkannya, melainkan dimaksudkan bukan hanya mengenal Aceh lebih dekat. Namun juga memaknai setiap peristiwa dan pengalaman yang menimpa Aceh sebagai pelajaran berharga yang tak pernah usai.
Untuk itu, bagi penggila puisi yang baik alangkah lebih etis jika tidak hanya sekadar memahami bahasa yang dikomunikasikan oleh penyair, tetapi seyogianya juga menghayati dan memaknai lambang, ungkapan, perbandingan yang terdapat dalam puisi tersebut. Jika pembaca sudah dapat mencapai tahap memaknai unsur-unsur tersebut maka sampailah ia pada apa yang dikehendakai oleh penyair. Karena puisi sendiri menyimpan idealisme yang mencerminkan sikap pandangan penyair terhadap tema yang disampaikannya. Hal itu berarti pandangan hidup sejatinya tersirat dalam sajak-sajaknya. Demikian juga, puisi-puisi Syeh Khalil dalam bukunya ini menunjukkan dan mewakili pengalaman hidup yang pernah dijalaninya.
Nilai plus buku setebal 94 halaman ini, salah satunya pada penggunaan bahasa yang bersahaja dan menyentuh. Sebagaimana dalam puisi, bahasa merupakan sarana ungkap yang di garap secara tuntas, mulai dari sudut bunyi sampai pada kemungkinan-kemungkinan yang melambangkan arti. Potensi bahasa puisi dalam buku ini dieksplorasi habis-habisan. Syekh Khalil dalam pemilihan kata-kata tidak hanya berdasarkan makna semata, tetapi juga pada jumlah suku kata, bunyi, tekanan dan lain-lain. Bahkan dalam unsur rima dan irama beberapa puisinya juga diperhatikan dan dipertimbangkannya.


* Anwar Nuris, Peresensi adalah kontributor teater ANCAKA Sumenep Madura, tinggal di Surabaya sebagai Mahasiswa Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya. Tulisan ini sudah dimuat di Koran RADAR SURABAYA, 02 Maret 2008.
read more “NYANYIAN SYEH KHALIL”

ALI MASCHAN DAN PENGARUHNYA TERHADAP NU

Anwar Nuris *
Ada yang menarik dan cukup menggelitik untuk dikaji menyambut pesta demokrasi (Pilgub) di Jawa Timur yang sudah di ambang pintu. Pasalnya harapan sebagian warga Nahdlatul Ulama agar Ketua PWNU Jawa Timur Dr. Ali Maschan Moesa MSi untuk tidak maju dalam pemilihan Gubernur Jatim hancur sudah. Ali Maschan benar-benar sudah disunting oleh Soenarjo untuk mendampinginya menjadi pasangan cagub dan cawagub Jawa Timur.
Jadi sampai saat ini sudah dua calon Gubernur yang mempunyai pasangan, Soenarjo berpasangan dengan Ali Maschan Moesa, serta Soekarwo dan Syaifullah Yusuf sebagai pasangan cagub dan cawagub. Tinggal cagub Achmadi dan cagub Sutjipto yang masih belum menemukan titik terang siapa pasangan mereka.
Dari keempat cagub tersebut, dua pada posisi di atas, yaitu Soenarjo dan Soekarwo, dan dua pada posisi di bawah, yaitu Achmady dan Sutjipto. Maka dari ini dapat kita baca bahwa calon wakil gubernur (cawagub) Jatim dipandang sangat menentukan serta besar peranannya dalam mendulang suara.
Cagub Soekarwo sudah berhasil menggandeng cawagub Syaifullah Yusuf yang kelihatannya akan membantu, dan tampaknya Soenarjo juga sudah berhasil menggaet Ali Maschan Moesa yang menambah proses pilgub nanti akan semakin hangat. Sedangkan cagub Sutjipto masih belum jelas juga siapa yang akan mendampinginya sebagai cawagub. Jadi bisa dipastikan, Jawa Timur yang notabene berbasis mayoritas Nahdlatul Ulama, cagub sejak awal sudah mulai bergerilya mencari tokoh NU atau paling tidak menjaring orang-orang yang sudah mempunyai pamor di organisasi besar tersebut.
Sosok Ali Maschan Moesa sebagai Ketua PWNU Jatim akhirnya bersedia mendampingi Soenarjo dalam pilgub nanti. Sesuai hasil Konferwil NU di Probolinggo (2-4 November 2007) kemarin, Ali Maschan terpilih secara aklamasi menjadi Ketua PWNU Jatim dengan syarat menandatangani kontrak jam’iyyah yang merupakan kontrak sosial antara beliau dengan utusan NU cabang se-Jawa Timur. Kontrak tersebut mengamanatkan Ketua terpilih tidak boleh berpolitik praktis, dan kalau tetap terjun di dalamnya, maka yang bersangkutan harus non-aktif.
Dalam menanggapi fenomena seperti ini, warga NU yang agak keberatan terhadap jalan politik yang di ambil oleh Ali Maschan harus bersikap lebih dewasa. Karena sebenarnya, kalau kembali ke AD/ART NU tidak ada larangan untuk menjadi cagub-cawagub. AD/ART hanya menyebut agar para pengurus yang mencalonkan diri menjadi cagub-cawagub untuk non-aktif. Meskipun demikian, secara kultur-psikologis, sebagian warga NU sendiri kurang menyetujui langkah Ketua PWNU Jatim ini.

Jalan Panjang Menuju Pilgub
Tulisan ini selanjutnya bukan hendak mengklaim benar atau tidak, baik atau buruk atau bahkan menghakimi dan mengadili gerakan politik cagub maupun cawagub yang akan bersaing memperebutkan Jatim I dan Jatim II tersebut, terlepas dari dilematisnya PKB sebagai parpol dan NU sebagai non-parpol dalan penentuan cagub dan cawagub, terutama dengan sosok Ali Maschan Moesa yang sejak awal sudah diperebutkan. Tulisan ini hanya sebatas refleksi terhadap wacana yang berkembang seputar pilgub Jatim, menganalisa peta politik kaitannya dengan basis massa masing-masing, apalagi ditambah dengan Ali Maschan Moesa yang sudah menyalakan lampu hijau untuk mendampingi Soenarjo.
Pertama, lebih dari 30.000 kader Partai Demokrat dan Partai Amanat Nasional (PAN) menyemarakkan deklarasi pasangan cagub dan cawagub yang mereka usung, Soekarwo dan Syaifullah Yusuf, pada minggu (17/2) kemarin di Gelora Pantjasila Surabaya. Ini menandakan bahwa mereka tinggal mempersiapkan diri bagaimana langkah dan gerakan kampanye nanti dalam rangka mendulang suara sebanyak mungkin.
Pasangan ini sudah mendapat restu dan dukungan dari sebagian Ulama PKB dan PKNU, antara lain KH. Abdullah Sahal, KH. Mahrus Malik, KH. Anwar Iskandar, KH. Imam Yahya, KH. Fahrurrozi Burhan, dan KH. Masduqi Mahfudz.
Kedua, mengenai calon wakil gubernur yang akan mendampingi Sutjipto, ketua pemenangan Sutjipto dari DPP PDI-P Jatim Ali Mudji mengatakan, bahwa penentuan cawagub masih menunggu rapat Pimpinan Wilayah PPP yang rencananya akan digelar akhir pekan ini.
Sejauh ini, nama cawagub yang muncul antara lain Ketua Umum Muslimat NU Khafifah Indar Parawansa, Ketua Kosgoro 1957 Jatim Ridlwan Hisyam dan Ketua DPW PPP Jatim Farid Al Fauzi. Meskipun sebelumnya sudah tersiar kabar bahwa PPP akan mengusung Djoko Subroto bersama partai-partai lain dan parpol non-parlemen, Ali mengatakan PDI-P dan PPP sudah bersepakat untuk membangun koalisi.
Ketiga, Ali Maschan Moesa yang kemudian berhasil disunting oleh cagub Soenarjo dapat diprediksikan, bahwa kompetisi hangat antar calon kepala daerah Jatim ini benar-benar akan menjadi kenyataan. Sebab peluang pasangan Soenarjo dan pasangan Soekarwo untuk menang diperkirakan fifty-fifty. Oleh karena itu, sejak awal Soenarjo sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menggandeng Ketua PWNU Jatim tersebut, walaupun sebelumnya Ali Maschan dikabarkan sempat dilirik oleh cagub dari PKB, Achmady.
Logikanya, seandainya Ali Maschan Moesa berpasangan dengan Achmady, sedangkan Soenarjo berpasangan dengan figur lain, maka dapat dipastikan bahwa pasangan Soekarwo dan Syaifullah Yusuf yang akan berpeluang besar memenangkan pilgub Jatim ini. Walapun tidak bisa disangkal juga kemudiaan, seandainya Achmady berhasil menggaet Ali Maschan Moesa, maka juga berpeluang besar untuk menang karena mengingat pasangan ini sama-sama berangkat dari kultur organisasi yang sama, yaitu Nahdlatul Ulama, dan ini bisa dinilai akan lebih baik untuk konsolidasi internal organisasi NU.
Namun, sudah tidak bisa dibayangkan apabila Ali Maschan Moesa memilih berdampingan dengan Soenarjo, dan ini benar-benar sudah terjadi, karena Suara massa PKB sebagai partai politik yang mengusung cagub Achmady dan NU sebagai organisasi keagamaan dan kemasyarakatan akan pecah, meskipun PKB dan NU secara kultur organisatoris adalah sama.
Hal ini mungkin akan menimbulkan semakin mengerasnya resistensi NU serta perseteruan antara PKB, PBNU, dan Gus Dur. Dan tidak menutup kemungkinan pula, NU disoroti sebagai pragmatis sempit kalau tidak secepatnya di antisipasi.
Terlepas dari keberhasilan Soenarjo menggandeng Ali Maschan, Jika Mochammad Toha menulis Mengapa Cagub Berebut Ali Maschan? (Kompas, 19/2), ini sudah jelas dan pasti karena sosok seorang Ali Maschan layak untuk diperebutkan, di samping sebagai Ketua PWNU Jatim yang notabene mempunyai basis massa kuat dan mayoritas, khususnya di tingkat Jatim, beliau juga belum pernah terkotori oleh hal-hal yang berbau politik praktis.
Kemudian, tulisan tersebut yang juga memancing ide Salahuddin Wahid untuk menulis Mengapa PKB Tidak Mengincar Ali Maschan? (Kompas, 21/2), ini tidak terlepas proses penjaringan calon di internal partai. PKB tidak menunjuk kader untuk menjadi cagub atau cawagub, tetapi membuka pendaftaran, dan yang mendaftarkan diri adalah Achmady sedangkan Ali Maschan Moesa tidak. Di samping itu, Ali Maschan Moesa dinilai bukanlah sosok yang pernah aktif secara langsung di kepemerintahan, yakni pengalaman sebagai eksekutif.
Terlepas dari fenomena tersebut, sosok Ali Maschan Moesa sebagai figur NU yang masih belum ternodai dengan hal-hal yang berbau politik birokrasi dan juga masih disegani di tingkat Jawa Timur, walaupun sudah menentukan pilihan untuk berpasangan dengan Soenarjo, masuk dalam lingkaran pertarungan pilgub Jatim 2008, ini bukan berarti hancurnya semangat untuk tetap memperjuangkan Khitthah Nahdliyyah secara kultural-subtansial.
Walaupun sebenarnya sebagian warga Nahdliyin masih mengharap agar seorang Ali Maschan tetap memilih untuk berjuang di NU, namun apalah daya nasi sudah menjadi bubur, harus diterima dengan lapang dada. Secara AD/ART NU, memang Ali Maschan memang tidak melanggar. Namun berhubung kontrak jam’iyyahnya lebih di maknai kontrak sosial, maka secara psikologis, Ali Maschan telah “melukai” sebagian warga NU khususnya wilayah Jawa Timur yang telah mengamanatinya untuk tidak membawa NU ke politik praktis.
Bagi warga NU Jatim khususnya dan warga Jatim pada umumnya, bahwa faktor ikut atau tidaknya seorang Ali Maschan Moesa di kancah pilgub Jawa Timur tetap akan mempengaruhi NU-PKB terutama di wilayah Jawa Timur itu sendiri. Kita harus merelakan apa yang sudah terjadi dan berusaha antisipatif terhadap hal-hal yang tidak di inginkan yang bakal terjadi.
* Anwar Nuris, Sekjend HMJ Kependidikan Islam Fak. Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya. Pengelola Komunitas Sastrawan-Intelektualis SENJANUARI Surabaya. Salah satu kontributor fungsionaris Ikatan Mahasiswa Sumenep (IKMAS) di Surabaya. Tulisan ini sudah dimuat di Koran SURABAYA PAGI, 25 Februari 2008.
read more “ALI MASCHAN DAN PENGARUHNYA TERHADAP NU”

KASIH SAYANG PASCA VALENTINE’S DAY

Oleh:
Anwar Nuris *
Tanggal 14 Februari 2008 sebagai perayaan hari Valentine telah berlalu, kemarin pada hari Kamis (14/2/2008) pemerintah Singapura tidak mau ketinggalan dalam momen hari kasih sayang ini, yaitu dengan menggalang perkawinan, terlebih lagi agar dari perkawinan tesebut menghasilkan keturunan. Dapat dimaklumi karena dalam beberapa tahun terakhir ini, angka kelahiran per perempuan disana hanya 1,24 persen pertahun, jauh dari angka 2,1 persen yang diperlukan untuk mempertahankan populasi Negara pulau itu.
Oleh karena itu, kemarin pemerintah menggelar “Romancing Singapore” guna mendorong pria dan perempuan bujang bertemu dan diharapkan menikah terus punya anak. Meskipun terkesan cinta yang dipaksakan, hal ini membuktikan bahwa Valentine’s Day masih mempunyai nuansa nilai tersendiri untuk menumbuhkan rasa kasih sayang dan cinta.
Secara geneologis-historis, Valentine merupakan produk budaya Nasrani, karena terambil dari nama pendeta Romawi Santo Valentine. Hari Valentine dirayakan untuk mengenang kematian sang pengasih Santo Valentine, yang mati karena telah melanggar aturan kaisar kejam saat itu yang bernama Claudius II. Kaisar membuat aturan bahwa semua pertunangan dan perkawinan di Romawi harus dibatalkan. Hal ini dilakukan kaisar karena ada kepentingan politik di sana, yaitu untuk menambah kekuatan militer. Tetapi, Santo Valentine bersama Santo Marius dan para martir Kristiani lainnya justru menikahkan pasangan Romawi secara sembunyi-sembunyi. Tindakan menentang itupun diketahui oleh Kaisar. Akibatnya, Santo Valentine di siksa dengan kejam hingga mati dan kepalanya dipenggal. Hukuman ini terjadi pada tanggal 14 Februari 270 M. Untuk mengenang jasa Santo Valentine itulah akhirnya para pastur di Romawi menetapkan tanggal 14 Februari sebagai Hari Santo Valentine.
Terlepas dari kebenaran sejarah tersebut, sejarah juga yang kemudian berubah. 14 Februari bukan hanya untuk mengenang jasa Santo Valentine, bukan lagi hari besar orang Romawi, dan tidak hanya milik umat Kristiani. Kini ia telah melintasi batas. Valentine’s Day telah dirayakan manusia sejagad, lintas Negara, suku, bangsa, ras, dan bahkan agama. Di Italia yang notabene mayoritas katholik, jelas jutaan pasangan pada tanggal 14 Februari merayakannya. Di Malaysia yang agamis, jutaan tangkai bunga berserakan, pernak-pernik warna pink serta ornamen menghiasi hari kasih saying tersebut. Dan di Negara kita, Indonesia, fenomena 14 Februari mempunyai eksistensialitas tersendiri dalam memaknai cinta, khususnya pada kaum mudanya, tak ayal malah menjadi polemik yang berkepanjangan terutama kalau dilihat dari perspektif agama.

Valentine dan Interaksi dalam kehidupan
Makna valentine secara prinsipil adalah sangat luhur, pesan moral yang ada di dalamnya adalah cinta yang dalam konteks ini adalah cinta yang bersumber dari hati nurani bukan dari hawa nafsu. Artinya bahwa, pesan cinta yang ada dalam valentine adalah cinta dalam arti kasih sayang, yang mungkin apabila lebih diorientasikan kepada nilai-nilai sosial dan kemanusiaan akan lebih bermakna. Dengan kata lain, bervalentine pada dasarnya adalah berusaha untuk mengaktualisasikan komitmen, setia dan konsisten dalam memperjuangkan dan menjunjung tinggi nilai-nilai sosial dan kemanusiaan yang berdasarkan kasih sayang.
Oleh karena itu, valentine secara esensialitas tidak harus tergantung dengan ruang dan waktu, tidak harus melihat momen 14 Februari, kapan, dimana, dan untuk siapa. Budaya Valentine dalam konteks ini tentu sangat urgen untuk dibudayakan. Karena seperti sekarang ini, bangsa Indonesia khususnya, telah dilanda krisis multidimensional. Perang saudara, sentimen keagamaan akibat banyak bermunculan aliran sempalan, tindak kekerasan mengalami eskalasi dan konflik terus melanda kehidupan kita. Kehidupan katakanlah nyaris tidak pernah damai.
Dalam kehidupan perekonomian, hanya gara-gara alasan untuk penertiban, PKL (pedagang kaki lima) di beberapa jalan di Surabaya misalnya, harus rela angkat kaki karena akan segera dilakukan pembongkaran, hal ini sudah menggambarkan bahwa setiap keputusan yang akan diambil oleh pemerintah terkadang tanpa melihat akibat yang akan ditimbulkan. Pengangguran yang berujung pada tindak kekerasan dan kriminalitas secara tak langsung telah menodai arti penting kasih sayang antar sesama.
Sistem perekonomian pasar terutama perdagangan harus lebih didasarkan pada rasa kasih sayang, artinya prinsip ekonomi yang menyebutkan bahwa bagaimana memperoleh penghasilan besar dengan pengeluaran yang kecil tidak lantas diterpakan secara membabi-buta. Dengan kondisi saat ini, bencana, kelaparan, banjir, longsor dan sebagainya harus mampu ditanggapi dengan rasa kasih sayang, rendah hati, peduli terhadap sesama dan lebih ditekankan pada memberi dari pada menerima.
Melalui perayaan Valentin kemarin, seyogianya bangsa ini lebih arif menghadapi dan mengimplementasikan dalam kehidupan rasa kasih sayang dan cinta tersebut. Sebagaimana di lansir, bahwa Valentine merupakan pemaknaan kasih sayang melalui pendekatan Kultural, artinya perayaan Valentine ini sudah saatnya diorientasikan untuk menjalin kasih sayang dan persaudaraan antar sesama umat manusia. Sehingga budaya cinta dan kasih sayang nantinya benar-benar menjadi karakter diri kita, bangsa dan Negara serta menjadi bagian yang integral kehidupan kita. Sehingga semisal budaya kekerasan dan konflik yang telah berakar kuat dalam kehidupan nantinya bisa dibasmi, paling tidak bisa diminimalisir. Penyelesaian konflik dengan metode ini tentu lebih efektif dan bertahan lama, karena penyelesaian konflik ini tidak didasarkan atas pemaksaan keamanan, melainkan atas cinta dan kesadaran.
Yang perlu kita kritisi juga disini, bahwa dalam perayaan valentine ini terkadang diwarnai oleh bentuk-bentuk penyimpangan yang telah dilakukan oleh sebagian pihak yang merayakan Valentine, dalam hal ini adalah kaum muda-mudinya. Yang mana hal ini jelas sangat bertolak belakang dengan pesan moral dan sosial hari Valentine. Bentuk-bentuk penyimpangan yang dimaksud diantaranya adalah sek bebas, pesta narkoba, minum-minuman keras dan hura-hura lainya yang masuk dalam kategori patologi sosial.
Setiap kali hari valentin tiba maka kebanyakan anak-anak muda merayakaanya dengan aktifitas-aktifitas tersebut. Dengan alasan hari kasih sayang mereka telah memaknai Valentine dengan perayaan seks bebas (free sex) dan sejenisnya. Hal-hal negatif inilah sebenarnya yang telah menjadikan makna dan fungsi esensial Valentine menjadi ternodai dan terdistorsi.
Cinta dan kasih sayang yang ada dalam semangat perayaan Valentine kemarin lebih lanjut harus dan terus menerus di implementasikan dan di manifestasikan dalam kehidupan sehari-hari tanpa melihat dan menunggu momen 14 Februari, harus kita maknai sebagai bentuk komitmen konkrit kita terhadap nilai-nilai sosial, budaya, politik, dan ekonomi, dan bahkan agama, secara komprehensip dan berkelanjutan, bukan sebagai hura-hura pelampiasan nafsu. Ia berpotensi menjadi sarana untuk membasmi budaya kekerasan, menegakkan perdamaian dan kerukunan antar sesama manusia. Maka kalau semangat valentine tidak mengarah kepada konteks ini, dan masih cenderung hedonis dan materialis, maka valentin selamanya tidak akan berguna. Maka tidaklah pantas, ketika momen Valentine 14 Februari telah berlalu, kita bergumam; Arrivederci Valentine’s Day!, selamat tinggal hari kasih sayang!.


* Anwar Nuris, Sekjend HMJ Kependidikan Islam Fak. Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya. Pengelola Komunitas Sastrawan-Intelektualis SENJANUARI Surabaya. Salah satu kontributor fungsionaris Ikatan Mahasiswa Sumenep (IKMAS) di Surabaya. Tulisan ini sudah dimuat di Koran SURABAYA PAGI, 16 Februari 2008.
read more “KASIH SAYANG PASCA VALENTINE’S DAY”

99 SAJAK, BERCERMIN KEPADA AIR

Judul Buku : Notasi Pendosa, sembilan puluh sembilan sajak
Penulis : Acep Iwan Saidi
Penerbit : Pustaka Sastra LKiS, Yogyakarta
Cetakan : I, Juni 2007
Tebal : xx + 148 halaman
Peresensi : Anwar Nuris *

Menulis puisi bukanlah pekerjaan yang iseng atau sambil lalu sehingga untuk disebut sebagai penyair yang sesungguhnya tidaklah mudah. Karena dalam puisi, potensi bahasa di eksplorasi secara tuntas, mulai dari pemilihan kata-kata, unsur rima hingga irama menjadi bahan pertimbangan dan perhatian khusus.
Puisi bukan hanya bahasa seorang pecinta, perayu, atau bahkan orang yang lagi putus cinta, tetapi dapat memiliki peran universal menurut tema yang dituangkan penyair dalam puisinya, seperti tema kemanusiaan, cinta kasih, dan sebagainya. Maka pembaca puisi yang baik tidak hanya sekedar memahami bahasa yang dikomunikasikan oleh penyair, tetapi seyogianya juga menghayati dan memahami lambang ungkapan serta perbandingan yang terdapat dalam puisi tersebut.
Jika pembaca puisi sudah dapat mencapai tahap memaknai unsur-unsur tersebut, maka sampailah ia pada apa yang dikehendaki oleh penyair. Karena, puisi sendiri menyimpan idealisme yang mencerminkan sikap dan pandangan penyair terhadap tema yang disampaikannya.
Buku yang berjudul Notasi Pendosa ini, merupakan antologi puisi milik Acep Iwan Saidi yang menunjukkan dan mewakili pengalaman hidup yang pernah digelutinya, dengan sosoknya yang kita kenal telah lama berkiprah di dunia sastra lebih dari satu dekade. Kali ini yang menjadi bidikan dalam puisi-puisinya adalah tentang kedekatan dirinya dengan air, terutama laut, yang memang banyak menyimpan keindahan dan merupakan sumber inspirasi yang tak pernah mati. Perjumpaan dan pergaulannya dengan laut menghasilkan puisi-puisi yang penuh kecerdasan imaji serta mampu menggambarkan hal ihwal bencana, nasib sajak, kota yang penuh prahara, asmara, dan akhirnya perkara dosa -merupakan tema besar buku ini- yang bermain di antara nota dan notasi.
Selain itu Acep -begitu sapaan dalam buku ini- juga mengangkat tema religius yang berkarakter kuat yang tampak menyiratkan kesan ketulusan dan kejujuran sehingga menghasilkan efek mengharukan dan menyentuh. Dan, beberapa tema yang lain yang tidak luput dari perhatiannya, seperti tema sosial, cinta dan kesedihan, luka dan kesunyian digarap begitu hangat dalam kumpulan puisinya ini.
Salah satu terobosan baru serta menarik dalam puisi Acep kali ini terletak pada imajinasi utama yang dimainkannya yaitu berkisar sekitar air, terutama laut dan sungai. Laut adalah cermin yang senantiasa memantulkan gejolak ruh sang penyair. Ada keintiman yang mengesankan dalam persenggamaan penulis dengan laut sebagai medium katarsis tempat segala pengalaman batin, terutama tentang luka dan barangkali juga dosa yang dicuci, ditransformasi, kemudian dibenahi.
Arofah (1), baik dari segi bahasa, rima dan iramanya. (hal. 121). Selain itu, pada sajak-sajak religiusnya kerap terasa perpaduan mengharukan antara ketulusan, depresi, kegilaan yang lucu dan kecerdasan imaji, seperti sajaknya yang bertajuk Doa sebelum makan : ”Tuhan, aku ingin kau masuk/ke dalam mulutku/dan aku tak kan pernah bersiwak!”. (hal. 134). Sedangkan puisinya yang bertajuk Variasi pada keheningan misalnya, serta puisi-puisinya yang lain dalam buku ini yang bertemakan luka, terutama dosa telah mampu memberikan nilai masokistis serta menggumpal dengan kedalaman yang cantik pada sajak-sajak religiusnya. (hal. 20).
Disamping kemampuan penulis menafsirkan kejadian secara menakjubkan serta mewujudkannya dalam metafor-metafor yang pas dengan rangkaian kata yang bermakna magis, juga terasa di beberapa bagian lain semacam ada kecanggungan terutama ketika penulis larut dalam sentimentalisme atas kepapaan dan isu sosial seperti carut marutnya kehidupan kota, kemerdekaan atau bencana Aceh. Ada kecanggungan antara menjelaskan dan melukiskan, antara bercerita balada dan bersajak memadatkan rasa. Mungkin ini salah satu kelemahan puisi dalam bukunya kali ini dan dapat kita amati misalnya pada sajaknya yang bertajuk Gadis kecil dalam tenda, Di gerbang Mall, Di dekat bengkel, Doa menjelang lebaran, dan lain sebagainya.
Namun terlepas dari beberapa kecanggungan di atas, buku ini sangat cocok dibaca dan dihayati oleh para penggila sastra terutama puisi, serta patut di acungi jempol karena antologi puisi milik Acep Iwan Saidi ini mempunyai daya kekuatan yang mampu mengajak pembaca bertualang dalam dunia imajinasi serta makna tematik, simbolik dan estetiknya.
Nilai plus buku ini adalah kegeniusan penyair dalam kepenulisan puisi yang melahirkan efek maksimal dari rajutan kata yang minimal, seperti dalam beberapa puisi serta catatan-catatan pendosa macam Acep ini yang hadir sebagai ketulusan religius yang nakal namun diperlukan, bahkan menurut I. Bambang Sugiharto, pengantar buku ini, mengatakan bahwa agar religiusitas tidak menjadi formalitas menyesatkan, maka selain hafal 99 nama Tuhan (asma’ al-husna), ada baiknya pembaca menghayati 99 catatan pendosa milik Acep ini.
Refleksi akhir bahwa, Acep dengan Notasi pendosa-nya maka dia ada, sejajar dengan ungkapan Zainal Arifin Toha, Aku menulis maka aku ada, atau bahkan Rene Descartes dengan sabdanya aku berfikir maka aku ada. Selamat Membaca!.

* Peresensi adalah Mahasiswa Jurusan KI Konsentrasi MP Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya. Salah satu kontributor fungsionaris Ikatan Mahasiswa Sumenep (IKMAS) di Surabaya. Tulisan ini sudah dimuat di Koran OPSI NASIONAL, 15 Januari 2008.
read more “99 SAJAK, BERCERMIN KEPADA AIR”

TESAURUS-NYA WARGA NU

Judul Buku : Antologi NU; Sejarah-Istilah-Amaliah-Uswah
Penulis : H. Soeleiman Fadeli dan Mohammad Subhan, S.Sos
Pengantar : K.H. Abdul Muchith Muzadi
Editor : A. Ma'ruf Asrori
Penerbit : Khalista, Surabaya
Cetakan : I, Juni 2007
Tebal : xvii + 322 halaman
Peresensi : Anwar Nuris *
Kalau bahasa Indonesia mempunyai kamus "Tesaurus" sebagai buku referensi ontemporer yang isinya kompleks, terdiri dari sinonim-sinonim kata atau kelompok kata yang tersusun secara sistematis maka mungkin tidak berlebihan jika buku yang berjudul Antologi NU, sejarah, istilah, amaliyah uswah ini disejajarkan dengan kamus Tesaurus tersebut, sebab dari beberapa ulasan dan pembahasannya yanag kompleks tidak hanya memberikan sumbangsih besar bagi kaum Nahdliyin sendiri tetapi juga oleh banyak pihak luar NU yang ingin tahu dan mendalami tentang NU.Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa berdirinya organisasi NU tidak terlepas dari pemikiran keagamaan dan politik dunia Islam. Setelah Raja Ibnu Saud dikabarkan akan mengadakan muktamar yang mengundang perwakilan organisasi Islam sedunia yang didalamnya akan dibahas tentang penerapan asas tunggal yakni madzhab Wahabi dengan melarang semua bentuk amaliah kegamaan ala ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah, maka keinginan tersebut mendapat respon miring dari umat Islam sedunia, termasuk di Indonesia yang diwakili oleh kaum modernis (Muhammadiyah) serta kaum tradisionalis (Pesantren). Namun dari kedua kubu ini sendiri malah terjadi perselisihan dan perbedaan dari segi keorganisasian formal. Dari perbedaan tersebut, akibatnya kalangan pesantren tidak dilibatkan sebagai delegasi ke Muktamar yang akan berlangsung nanti.
Didorong oleh semangat yang gigih untuk menciptakan kebebasan bermazhab serta peduli terhadap pelestarian warisan peradaban, maka kalangan pesantren terpaksa membuat delegasi sendiri yang dinamai dengan Komite Hijaz, yang diketuai oleh K.H. Wahab Hasbullah. (hal. 69-70).
Alhasil, perjuangan Komite Hijaz di muktamar tersebut yang didukung oleh organisasi Islam yang lain dari segala penjuru di dunia, maka Raja Ibnu Saud mengurungkan niatnya dan hingga saat ini di Mekkah bebas dilaksanakan ibadah sesuai dengan mazhab mereka masing-masing.
Dari perjuangan komite Hijaz tersebut berdirilah organisasi yang di beri nama Nahdlatul Ulama pada tanggal 31 Januari 1926 M/16 Rajab 1344 H di Surabaya. Sebagai jam’iyah diniyah ijtima’iyah (organisasi keagamaan dan sosial) yang menganut faham Ahlussunah wal Jama'ah (Aswaja). Secara sederhana Aswaja-nya NU ini dalam bidang teologi mengikuti pemikiran Abu Hasan al-Asy'ari dan Abu Mansur Al-Maturidi. Dalam bidang fiqh mengikuti salah satu dari empat Madzhab, Hanafi, Maliki, Syafi'i, atau Hambali. Sementara dalam bidang tasawuf, mengembangkan metode Al-Ghazali dan Junaid Al-Baghdadi. Sedangkan pendekatan kemasyarakatan NU dapat dikategorikan menjadi tiga bagian yaitu tawassuth dan I’tidal (moderat), tasamuh (toleran), tawazun (seimbang).
Sejauh menapaki sejarah, NU telah memberikan kontribusi besar bagi bangsa, negara dan agama, baik sekop nasional maupun internasional, baik ketika masih berbentuk jam’iyah ijtima’iyah diniyah Mahdlah (organisasi sosial keagamaan murni) atau setelah menjadi partai politik.
Dengan terbentuknya komite Hijaz di atas yang hasilnya benar-benar mewarnai dunia Islam. NU mendeklarasikan Resolusi Jihad, untuk membakar semangat Arek-arek Suroboyo sebelum peristiwa perang 10 Nopember di Surabaya. Pasca peristiwa G 30 S/PKI 1965, NU adalah organisasi pertama kali menuntut pembubaran PKI. Setelah itu, disaat pemerintah dinilai lamban dan tidak serius menanganinya, fraksi NU mengeluarkan Resolusi Nuddin Lubis (1966). Pada tahun 1967, disaat ketua MPRS dijabat oleh jenderal AH Nasution, NU kembali menggulirkan gebrakan besar. Di tengah Sidang Umum MPRS, muncullah Resolusi Djamaluddin Malik.
Tidak saja dalam perjuangan fisik dan politik NU berperan, namun juga dalam penegakan agama Islam yang Rahmatan lil ‘alamin, yaitu dengan cara mengembangkan dan mengamalkan ajaran Islam Aswaja, sehingga di bidang budaya dan amaliyah NU tetap toleran, bahkan melestarikan sepanjang tidak bertentangan dengan syariat Islam.
Gagasan kembali ke khittah pada tahun 1985, merupakan momentum penting untuk menafsirkan kembali ajaran Ahlussunnah wal Jamaah, serta merumuskan kembali metode berpikir, baik dalam bidang fikih maupun sosial. Serta merumuskan kembali hubungan NU dengan negara. Gerakan tersebut berhasil kembali membangkitkan gairah pemikiran dan dinamika sosial dalam NU. Peran penting diatas tidak lepas dari kreativitas para tokohnya sebagai pengendali NU sekaligus sebagi uswah (teladan) bagi umatnya.
Dalam buku ini, terangkum dalam empat bab. Pertama membahas Nahdlatul Ulama itu sendiri, baik sejarah, unsur eksternal dan internal organisasi. Kedua, istilah-istilah organisasi. Ketiga, budaya serta amaliyah warga NU. Keempat, pemaparan singkat biografi 49 tokoh NU, mulai dari pemberi restu, pendiri, pejuang, penegak, pembaharu, hingga pelestari.
Gaya penulisan buku yang tersusun sistematis layaknya sebuah kamus begitu pula pemberian judul yang sebelumnya ditawarkan oleh responden utama –K.H. Abdul Muchith Muzadi- dengan judul Primbon NU di rubah menjadi Antologi NU oleh editor –A. Ma’ruf Asrori- menjadikan buku ini lebih “menggigit” serta membuat penasaran bagi orang yang melihatnya.
Setelah saya baca keseluruhan buku ini terasa agak “janggal” sebab ternyata rujukan buku ini tidak mengambil langsung dari beberapa buku atau kitab yang sifatnya referensial, melainkan hanya merujuk pada beberapa literatur yang sudah di-Indonesia-kan, misalnya saja al-Qanun al-Asasi li jam’iyah Nahdlatil Ulama karangannya K.H. Hasyim Asy’ari selaku pendiri NU tidak dicantumkan dalam daftar rujukan.
Namun terlepas dari “kejanggalan” tersebut, terobosan yang dilakukan oleh penulis, editor serta para responden ini secara tidak langsung telah membuka lembaran baru khazanah keilmuan di NU dan patut kita acungkan jempol. Bisa jadi kehadiran buku ini memberikan nuansa baru bagi mereka yang masih berkutat di NU maupun di luar NU.
Mungkin sebagai nilai plus buku ini, disana terpampang foto-foto bersejarah sehingga membuat para pengkaji seolah-olah bersentuhan langsung dengan sejarah. Buku semacam ini sangat dibutuhkan, bukan saja oleh kaum Nahdliyin sendiri, tetapi oleh banyak pihak luar NU yang ingin tahu tentang NU. NU tidak hanya dipahami sekilas saja, tapi bagaimana warga NU benar-benar tahu terhadap seluk beluknya NU. Wa Allah A’lamu.

* Anwar Nuris, Mantan Pengurus IPNU ANCAB Gapura Sumenep, Alumnus PP. Nasy'atul Muta'allimin Gapura Sumenep Madura. Dan sekarang tercatat sebagai Mahasiswa Jurusan Kependidikan Islam KI/MP Fak. Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya dan sekaligus salah satu Kontributor Ikatan Mahasiswa Sumenep (IKMAS) di Surabaya. Tulisan ini sudah di muat di Majalah AULA, Juli 2007.
read more “TESAURUS-NYA WARGA NU”

EKSPRESI CINTA YANG BERADAB

Judul Buku : Takut Pacaran Berani Menikah
Penulis : Badai Fisilmikaffah
Penerbit : Lafal Indonesia, Yogyakarta
Cetakan : I, 2007
Tebal : 168 halaman
Peresensi : Anwar Nuris *

Buku ini berangkat dari keprihatinan dan kegelisahan penulis atas fenomena pacaran yang marak dewasa ini. Banyak yang salah kaprah dalam pemaknaan cinta di kalangan remaja. Hamil di luar nikah, aborsi, dan sebagainya, selalu saja mengatas namakan cinta. Padahal jika cinta dipahami secara menyeluruh, maka cinta akan menjadi mahkota yang akan membawa sang pecinta naik pada hakekat cinta itu sendiri, dengan cinta akan tercipta kedamaian, keharmonisan dan kesantunan seperti yang pernah dicelotehkan Kahlil Gibran.
Sebagaimana kita ketahui bahwa istilah remaja, cinta, dan pacaran merupakan tiga komponen yang saling berkaitan. Ketika anak manusia sudah menginjak masa pubertas dan sudah di landa cinta terhadap lawan jenisnya, dia akan berusaha menjalani sebuah ritual khusus ala remaja, yaitu pendekatan dengan mencari perhatian dari lawan jenisnya. Setelah ada rambu-rambu bahwa perasaan cintanya akan diterima maka sang remajapun akan pasang kuda-kuda untuk melancarkan jurus yang selanjutnya, menembak, dan mengungkapkan perasaan cinta. Setelah cintanya mendapat lampu hijau, maka istilah pacar menjadi status dan legalisasi bagi keduanya serta halal untuk melakukan apa saja sebagai wujud cinta yang mereka rasakan. Inilah yang dilarang dalam Islam.
Dengan judul yang cukup menggelitik, Takut pacaran berani menikah, mencintai adalah sebuah dosa, buku ini menjelaskan bahwa dalam Islam tidak ada yang namanya pacaran dan legalisasi halal melakukan apa saja terhadap pacarnya, di mana perilaku yang mengatasnamakan cinta suci itu sebenarnya adalah perilaku zina. Dan ini sesuai dengan realitas aktifitas pacaran yang cenderung melampaui batas norma agama mulai dari khalwat (berduaan), zina mata, zina lisan, zina hati, zina tangan, zina kaki, bahkan zina kemaluan.
Namun perlu digaris bawahi antara pacaran dan cinta, karena tak ada yang salah dengan cinta, sebab cinta adalah fitrah, anugerah terindah pemberian Allah. Tapi dengan pacaran sebagaimana gambaran di atas, perjalanan cinta telah menyesatkan banyak manusia. Esensi cinta yang sejatinya fitri menjadi kabur dan bahkan bergelimang dosa dikarenakan jalan cinta yang mereka tempuh salah. Cinta akan menjadi penyakit hati jika hati kosong dari kecintaan kepada Allah.
Mengutip perkataan Ibnu Qayyim al-Jauziyah bahwa gejolak cinta yang menerpa seseorang merupakan jenis penyakit hati yang perlu penanganan khusus karena berdasarkan kriterianya, cinta dibagi menjadi dua. Pertama, cinta syahwati, yaitu perasaan cinta seseorang yang di dalamnya terdapat keinginan untuk memiliki orang yang dicintai disertai nafsu syahwat uang penuh bujuk rayu setan. Kedua, cinta imani, yaitu perasaan cinta yang memotifasinya untuk meningkatkan kepada Allah SWT, seiring keadaan fitah manusia sebagai hamba Allah.
Penulis juga menjelaskan, meskipun Islam tidak mengenal istilah pacaran sebagai ekspresi cinta mayoritas kaum remaja, namun Islam memberi jalur lain yang lebih aman dan insya Allah penuh keberkahan bagi mereka yang ingin membangun rumah tangga. Yaitu dengan memperbolehkan terjadinya proses perkenalan (ta'aruf) sebelum menikah dengan rambu-rambu khusus yang harus dipatuhi.
Perbedaan hakiki antara pacaran dan ta'aruf adalah dari tujuan dan manfaatnya. Tujuan pacaran lebih pada kenikmatan sesaat, zina dan maksiat. Sedangkan ta'aruf untuk mengetahui kriteria calon pasangan sebagai pintu gerbang menuju pernikahan. Karena pernikahan merupakan ekspresi cinta yang beradab dan menikah adalah sebuah Mitsaqan Ghalizhan, perjanjian yang sangat berat maka banyak konsekuensi yang harus dijalani suami istri dalam berumah tangga.
Jadi, jangan pernah mengambil keputusan untuk menikah hanya karena ‘ingin’, sementara banyak faktor yang belum kita persiapkan, baik faktor materi maupun naon-materi. Jika memang masih belum siap menikah maka alangkah lebih baiknya kaum remaja untuk berpuasa karena puasa merupakan salah satu yang dianjurkan Nabi demi menjaga dan mengendalikan diri dari perbuatan maksiat yang dilarang oleh agama.
Dengan bahasa yang cukup sederhana, lugas, dan cocok bagi kaum remaja yang sedang dilanda kasmaran, buku setebal 168 halaman ini telah memberikan terobosan baru tentang media ekspresi cinta yang baik selain pacaran. Di dalamnya penulis mengupas tuntas mulai dari permasalahan cinta, fenomena pacaran di kalangan remaja, hingga ta’aruf sebagai media alternatif yang baik yang mampu menjaga kesucian cinta.
Nilai plus buku ini, penulis memaparkan kisah-kisah para pelaku ta'aruf yang menawan dan menggetarkan hati, ta'aruf sebagai media syar'i bagi mereka yang takut pacaran tapi berani menikah. Selain itu, di bagian akhir buku ini terdapat risalah berani menikah, didalamnya terdapat konsep, persiapan, dan tujuan menikah. Sungguh sangat menggugah hati kaum remaja yang sedang dilanda kasmaran.

* Peresensi adalah Pimred Bulletin OBHUR Ikatan Mahasiswa Sumenep (IKMAS) di Surabaya. Tulisan ini sayang sekali selalu di tolak oleh media massa.

read more “EKSPRESI CINTA YANG BERADAB”