Pendopo

Terhampar seluruh getar hati dalam setiap kata dan maknanya. Terdendang sebuah kisah yang sempat tertoreh di seperempat waktu. Kebahagiaan terasa hanya beberapa kejap dari usia yang tak lagi dihitung oleh hitungan tahun tetapi oleh kedalaman rasa. Maka, di atas sajadah kata ini, ku berusaha memetik dawai hati, nyanyikan kidung sunyi yang rindukan buaian mimpi. Tak usah membuka telinga, belalakkan mata, apalagi memaksa batu bicara pada takdir. Bukan pula penulis, tetapi tetap mencoba menulis.

HUMANISASI METODE PEMBELAJARAN


Judul Buku : Cooperative Learning, Teori dan Aplikasi PAIKEM
Penulis : Agus Suprijono
Penerbit : Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Cetakan : November 2009
Tebal : xvi + 189 halaman
Peresensi : Anwar Nuris *


Education is not a preparation for life, education is life itself.

Pendidikan bukanlah persiapan untuk kehidupan, pendidikan adalah kehidupan itu sendiri. (John Dewey)

 

Apa yang dikhawatirkan oleh dua tokoh pendidikan, Paolo Freire dan Ivan Illich, bahwa pendidikan sekolah lebih sering menjadi alat legitimasi oleh sekelompok elit sosial politik untuk menjinakkan kesadaran kritis masyarakat, mendekati kebenarannya. Ivan Illich melalui Deschooling Society-nya mengungkapkan bahwa anggapan mengenai sekolah sebagai satu-satunya lembaga pendidikan adalah bias dari kehidupan kapitalis yang telah merasuk dalam kesadaran masyarakat. Menurutnya, sekolah adalah fenomena modern yang lahir seiring dengan perkembangan masyarakat industri kapitalis. Konspirasi terselubung antara pendidikan dan kapitalisme menurutnya juga tak lepas dari dukungan pemerintah (kekuasaan), sehingga daya hegemonik yang diciptakannya menjadi massif.

Sedangkan bagi Paolo Freire sendiri, ada dua pandangan dunia (world view) yang mempersepsikan manusia kepada dunianya. Pertama, melihat manusia sebagai objek yang dapat dibentuk dan disesuaikan. Dalam konsep ini manusia berdiam diri, kalaupun melakukan tindakan hanya bersifat pasif atau patuh tanpa ada waktu untuk merefleksikan diri. Pola pendidikan yang berdasarkan pandangan pertama ini diterapkan untuk melanggengkan status quo karena proses belajar hanya sebatas proses transfer pengetahuan sehingga manusia hanya menampung pengetahuan tersebut atau lebih dikenal dengan “gaya bank”.

Kedua, melihat manusia sebagai subyek, makhluk yang bebas dan mampu melampaui dunia. Pendidikan diarahkan agar manusia bisa berpikir untuk diri sendiri dan dapat berintegrasi di dunianya melalui aksi dan refleksi. Cara pandang yang melihat manusia sebagai subjek, pada gilirannya melahirkan pendidikan hadap masalah. Gaya pendidikan hadap masalah bukan bertujuan membentuk manusia yang hanya mampu beradaptasi, tetapi manusia harus mampu berintegrasi dengan lingkungannya dan melakukan perubahan.

Namun dalam konteks pendidikan di Indonesia, terdapat kejanggalan mengenai proses yang diterapkan. Hal ini bisa kita lihat dengan adanya disparitas antara pencapaian academic standard dan performance standard. Faktanya, banyak peserta didik mampu menyajikan tingkat hafalan yang baik terhadap materi ajar yang diterimanya, namun pada kenyataannya mereka tidak memahaminya. Mayoritas peserta didik tidak mampu menghubungkan antara apa yang mereka pelajari dengan bagaimana pengetahuan tersebut akan dipergunakan.

Disparitas terjadi karena pembelajaran selama ini hanyalah suatu proses pengkondisian-pengkondisian yang tidak menyentuh realitas alami. Pembelajaran berlatar realitas arti fisial. Aktifitas kegiatan belajar mengajar selama ini merupakan pseudo pembelajaran. Terdapat jarak cukup jauh antara materi yang dipelajari dengan peserta didik sebagai insan yang mempelajarinya.

Sebagai medium pendekat antara materi dan peserta didik pada pembelajaran arti fisial adalah aktifitas mental berupa hafalan. Pembelajaran lebih menekankan memorisasi terhadap materi yang dipelajari dari pada struktur yang terdapat di dalam materi itu. Pembelajaran ini melelahkan dan membosankan. Belajar bukan manifestasi kesadaran dan partisipasi, melainkan keterpaksaan dan mobilisasi. Dampak psikis ini tentu kontra produktif dengan hakikat pendidikan itu sendiri yaitu memanusiakan manusia atas seluruh potensi kemanusiaan yang dimiliki secara kodrati.

Pembelajaran menunjuk pada proses belajar yang menempatkan peserta didik sebagai center stage performance. Pembelajaran lebih menekankan bahwa peserta didik sebagai makhluk yang berkesadaran memahami arti penting interaksi dirinya dengan lingkungan yang menghasilkan pengalaman. Yaitu dalam mengembangkan seluruh potensi kemanusiaan yang dimilikinya.

Buku Cooperative Learning ini hadir sebagai implikasi kerisauan penulis atas sistem pembelajaran yang masih kaku, dan masih banyak diterapkan di lembaga pendidikan di Indonesia. Buku ini bermaksud merenovasi pembelajaran bagi peserta didik untuk menuju pembelajaran yang berkualitas, humanis, organis, dinamis, dan konstruktif. Yaitu dengan pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAIKEM).

Pondasi kritis dan rasional PAIKEM adalah filsafat konstruktifisme. Berdasarkan konstruktifisme pembelajaran ini merupakan proses konstruksi pengetahuan, bukan duplikasi pengetahuan. Pengetahuan di konstruk pada latar kenyataannya, bukan seharusnya. Pengetahuan yang di pelajari dan disetting berdasarkan autentisitasnya, bukan arti fisialnya. PAIKEM sebagai proses learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to live together mendorong terciptanya kebermaknaan belajar bagi peserta didik. (hal. 31).

Nilai plus buku setebal 189 ini adalah di samping menjelaskan kerangka teori yang meliputi arti belajar, dukungan teoritis, model pembelajaran, dan pembelajaran kontekstual, juga mengulas bagaimana mempraktikkan metode-metode PAIKEM; mulai dari metode jigsaw hingga metode student teams-achievement divisions. Karena itu, dalam proses belajar mengajar, apa, mengapa, dan bagaimana PAIKEM merupakan rumusan-rumusan yang harus dijawab guru dan jawaban tersebut merupakan pengetahuan deklaratif, struktural, dan prosedural yang hampir semuanya tersaji dalam buku ini. Aspek pengetahuan-pengetahuan tersebut penting sebagai landasan bagi guru maupun calon guru dalam berpikir logis dan bertindak professional atas profesinya.

Dus, pembelajaran sebagai key word pendidikan seyogyanya mengajari bagaimana caranya belajar dan bukan memberikan instruksi tentang suatu pelajaran tertentu. Apa yang harus dipelajari tidaklah benar-benar penting. Yang penting adalah bagaimana cara mempelajarinya. Implementasi berbagai metode pembelajaran yang disajikan buku ini, niscaya proses pembelajaran akan lebih manusiawi.

 

Anwar Nuris, kontributor Pondok Budaya IKON Surabaya. Tulisan ini sudah di muat di Harian Radar Surabaya, Minngu, 10 Januari 2010