Pendopo

Terhampar seluruh getar hati dalam setiap kata dan maknanya. Terdendang sebuah kisah yang sempat tertoreh di seperempat waktu. Kebahagiaan terasa hanya beberapa kejap dari usia yang tak lagi dihitung oleh hitungan tahun tetapi oleh kedalaman rasa. Maka, di atas sajadah kata ini, ku berusaha memetik dawai hati, nyanyikan kidung sunyi yang rindukan buaian mimpi. Tak usah membuka telinga, belalakkan mata, apalagi memaksa batu bicara pada takdir. Bukan pula penulis, tetapi tetap mencoba menulis.

REFLEKSI SEWAKTU BISU


Siangku malamku,
Malamku siangku,
Siang malamku
Hatiku kelu,
Malam siangku
Mulutku bisu,


Ini bukanlah kisah akhir seluruh kehidupanku, aku masih menysakan seperempat nafasku untuk sesuatu yang belum sempat kujamah. Aku tidak tau lagi ujung perjalanan yang sebelumnya tidak pernah kurasakan memulainya. Betapa tidak, saat terlakhir di dunia ini, katanya ku hanya membawa tangis yang di iringi oleh senyum bahagia sekelilingku.
Sempat terlintas dalam pikiranku, aku adalah tuhan yang mampu merasakan dan melampaui segala apa yang ada di dalam dan di luar diriku. Namun, perasaan itu tumbang seketika saat aku mencoba menggapai apa yang sebenarnya dalam diriku.
Ah itu hanya kerangka waktu yang sistematis, skenario tuhan untuk makhluknya yang bernama manusia. Makhluk yang satu ini pasti mengalami masa transisi yang mampu membawanya ke arah kedewasaan. Semuanya berawal dari rasa tidak tahu, sedikit tahu, banyak tahu, dan bahkan terkadang sok tahu.
Hidup, singkat sarat akan makna. Banyak orang yang berani mempertaruhkan apapun demi kelangsungan gelar ini agar tetap disandang di pundaknya. Akupun saat ini sulit membedakan apakah aku masih hidup, hidup tapi sebenarnya mati, mati bersama hidup, atau bahkan aku tidak pernah mengenal hidup sekaligus mati. Antara hidup dan mati sama saja.
Begitupun juga dengan mati. Kata yang mampu membangunkan buluk kuduk, merinding, ih menyeramkan, sebagian orang tidak ingin menjumpai peristiwa ini. Atau bahkan tidak sedikit pula orang selalu merindukan yang namanya mati. Konotasi makna yang begitu mendalam, sampai-sampai semua orang mempunyai ke khawatiran untuk menyelaminya.
”Entahlah.. ” celetuk kakek tua yang sudah berkepala lima. ”hal itu tidak perlu jauh dipikirkan, kita hanya dituntut mampu mencari jawaban, apakah sudah siap untuk menghadapi mati?”, selorohnya dengan nada begitu datar, mencerminkan ketidaksiapan, keragu-raguan akan kesiapan dirinya menghadapi mati.
”Alah..hari gini ngomongin mati, rata-rata umur tu kepala lima ke atas lah?”, ledek adik yang masih kelas 1 SMP. aneh!, antara hidup dan mati masing-masing mempunyai interpretasi unik bagi masing-masing orang.
Begitupun dengan bumbu hidup, salah satunya cinta. Siapa yang tidak kenal dengan kata ini. Terkadang membuat geleng-geleng kepala, bukannya tidak mengerti, tetapi pusing. Interpretasi yang berbeda-beda. Cinta itu buta, cinta itu indah, lantas apa hubungannya antara buta dengan indah?.
Aku hanya ingin hidup dengan cinta yang membutakan.
***
Sebentar lagi aku KKN, karena kemaren PPL sudah aku ikuti sepertiga perjalanan. Sebentar lagi aku akan menghadapi dunia real sereal-realnya. Sebentar lagi aku akan memahami betapa hidup itu sebenarnya sangat pendek. Baru kemaren rasanya semester satu, tiba-tiba sekarang sudah ditengah semester enam.
Sebentar lagi aku skripsi, dengan idealisme yang begitu melangit hingga tidak mampu dibumikan. Sebentar lagi aku akan wisuda yang katanya menyenangkan sebab jadi pengacara muda (pengangguran banyak acara). 
Sebentar lagi aku akan menepati janji untuk menikahinya secara halal, sebentar lagi aku akan disibukkan dengan berbagai macam persiapan pernikahan, mulai dari maskawin, walimah dan lain sebagainya. 
Sebentar lagi aku akan jadi Ayah karena berselang 1 tahun aku mengawininya, dia sudah mengandung. Sebentar lagi aku akan menggendong bayi mungil nan lucu. Sebentar lagi aku akan melihat bayi yang baru terlakhir dari rahim istriku itu masuk sekolah TK, dipelajari ngaji alif ba’ ta’ tsa’ dan seterusnya. Dipelajari a b c d dan seterusnya, hingga dia bisa baca, berbicara, dan menulis.
Sebentar lagi aku jadi tulang punggung keluarga, menjadi orang yang di hormati dan disegani di keluarga besarku. Sebentar lagi aku sakit, meregang nyawa. Sebentar lagi aku akan mati, menghadap-Mu, tapi sampai sekarang aku ingin hidup seribu tahun lagi.
Aku malu untuk berjumpa dengan-MU, Tuhan...
Sebentar lagi akan menutup tulisan ini, dan akan dilanjutkan lain waktu...
 
TRANSISI
Pagi...
Jam Delapan
seperti tenggelam dalam kegelapan,
Jam Sembilan
semakin terpenjara bersama kemiskinan,
Jam Sepuluh
selalu melenguh hingga berpeluh,

Malam..
Jam Tujuhbelas
beduk Senja nian memelas,
Jam Sembilanbelas
menghela panjang napas,

Jam Duapuluhtiga
Limapuluhsembilan menit
Limapuluhsembilan detik
menghadapi kehidupan pelik,

Indonesia..
Jam Duapuluhempat
sabar hingga kiamat
Surabaya, 2009

KEMBALI UNTUKMU

Sayup suara gerimis memanggil luruh 
lorong waktu mengukir jutaan rindu
via berhala kecil manisku

"Aku masih rindu
cubitan nakal tangan kirimu,
dulu"

"Aku masih ingin
kau hadir melampaui waktu,
kemarin"

dengan aroma wangi nafsu birahi
ingin sua dalam keterjagaan semesta ini
Bangkalan, 2009
BUDDHA TAUBAT
Singkirkan…
Kammakilesa, karena papakamma
Sang Vijaya datang untuk nasevati
chanda gati,
dosa gati,
moha gati,
bhaya gati
Pergi…
Dari hidung, mata, lidah, telinga, kulit, 
Membuka simpul di hati!
Yogyakarta, 2008

ELIAT
Tertidur dalam bangunku
seperempat waktu telah merenggut
perlahan, pelan tanpa sadar
diam, hening, sunyi
rasa itu hadir kembali
kapan…

Kau telah tidurkan aku dalam bangunmu
atau,
Akulah yang tidak mau bangun
dalam tidurmu
bangunkan aku dari tidur-bangunmu

Dasar!
saat Aku terbangun
kau meniduriku
Sumenep, 2009
JEJAK SAJAK SEJAK

sejak sajak-sajak tinggal jejak
yang tenggelam dalam kelam

sejak sajak-sajak mulai merangkak
teringat kepedihan masa silam

sejak sajak-sajak terukir
enggan berfikir

sejak sajak-sajak mulai berair mata
kutimbang-timbang tak mampu meredakan luka

sudi terkapar, terlempar terbenam ke dasar
dengan separuh jejak
siapa hendak ku ajak?
Jakarta, 2008
 
TASBIHKUPUTUS
Keluh hadir
dari sisi gelap sudut mungil
alpha di buku absensi-Mu
izin di harian-Mu
sakit di haribaan-Mu

tasbih kuputus?
taubat, ingin ku teguk air mata haru-Mu
tasbihku putus?
tengadah, resah membuncah harap ma'unah-Mu
Surabaya, 2009
DAPUR PENULIS
Betapa tidak!
tergerus pena bercahaya
menggiring ke utara bertanya pada sebongkah asa
meramu sinonim makna kisah garam kemarau
melukis air asin, tawar, kecut, asam, anyir..
menjadi harum berpelukan di belangga

Betapa iya!
semut tertawa menggelikan
terjerembab ditumpukan kertas si Dewa Tinta
gajah berkoar-koar mencibir
"ah.. tulisanmu masih jelek"
Surabaya, 2009



Anwar Nuris, Kelahiran Sumenep – Madura, 15 Maret 1987. Alumni Ponpes Nasy-atul Muta’allimin Gapura Timur. Sekaranag tinggal di Surabaya mengelola Pondok Budaya IKON Surabaya, Direktur komunitas sastrawan-paedagogis SENJANUARI, serta kontributor Bulletin Obhur IKMAS (Ikatan Mahasiswa Sumenep) di Surabaya.