Pendopo

Terhampar seluruh getar hati dalam setiap kata dan maknanya. Terdendang sebuah kisah yang sempat tertoreh di seperempat waktu. Kebahagiaan terasa hanya beberapa kejap dari usia yang tak lagi dihitung oleh hitungan tahun tetapi oleh kedalaman rasa. Maka, di atas sajadah kata ini, ku berusaha memetik dawai hati, nyanyikan kidung sunyi yang rindukan buaian mimpi. Tak usah membuka telinga, belalakkan mata, apalagi memaksa batu bicara pada takdir. Bukan pula penulis, tetapi tetap mencoba menulis.

MEMBANGUN NU YANG KREATIF PROGRESSIF


Judul Buku : NU dan Tantangan Neoliberalisme
Penulis : Nur Kholik Ridwan
Penerbit : LKiS, Yogyakarta
Cetakan : I, Januari 2008
Tebal :
xx + 204 halaman
Peresensi : Anwar Nuris *


Nahdlatoel Oelama (NO) yang lahir 31 Januari 1926 M, 82 tahun silam, akan menjadi satu abad pada tahun 2026 mendatang, sudah cukup tua untuk ukuran organisasi keagamaan dan kemasyarakatan semacam NU ini.

Di tengah usia yang menjelang seabad ini, NU menghadapi problem-problem yang jauh kebih kompleks. Saat kelahirannya dulu, NU menghadapi dua hal: globalisasi Wahhabi dan globalisasi imperialisme fisik Barat ke negara-negara dunia ketiga, termasuk di nusantara. Kini NU juga mengahadapi dua tantangan sekaligus: globalisasi Islam Radikal dan globalisasi Neoliberal. Diakui atau tidak, keduanya diprediksikan akan menggerus nasib NU ke depan, bahkan bisa menghempaskan NU menjadi sesuatu yang tidak berharga di mata dunia bila tidak direspon secara baik.

Membaca NU perspektif historis memang banyak mengalami sindrom kekalahan; ini bisa kita amati bagaimana Nahdlatutujjar yang diharapkan mampu mengangkat ekonomi pertanian masyarakat pesantren dan pedesaan, ternyata berakhir dengan kekalahan dan mati. Yang lebih ironis, NU dilanda kekalahan inisiatif; NU lahir dari perseteruan ide antara kaum tradisionalis dengan kaum modernis. Disisi lain, kehadiran NU dibanggakan pada saat-saat genting keadaan mengancam NKRI dan negara Pancasila dari blok negara Islam, dan NU tampil ke depan dan memberi argumentasi pentingnya Islam dan umat Islam mendukung Pancasila, tetapi setelah itu, NU tetap berada dalam posisi marginal, baik dalam ekonomi ataupun kekuatan penentu kebijakan

Itulah diantara dari sekian banyak kekalahan-kekalahan sosial, ekonomi, dan budaya yang di alami NU, yang tidak sebanding dengan retorika para elitnya bahwa NU adalah organisasi besar dan bermassa paling besar di Indonesia. Kekalahan-kekalahan ini karena NU selalu melakukan tindakan sosial yang reaktif, tidak mendesainnya untuk 10, 20, atau 50 tahun mendatang, di mana NU hanya bertindak pasif. Kalaupun ada tindakan kreatif, tetapi terbentur oleh hujaman mental dan badai kekuasaan yang kuat, dan cara bertahan NU adalah lari ke pinggiran.

Ide cerdas Nur Khalik Ridlwan, penulis buku ini, tidak lain ingin menempatkan NU dalam konteks tantangan neoliberal yang sedang melanda dunia, dan bahkan di nusantara. Respon NU atas neoliberalisme akan menentukan apakah seluruh pilar-pilar pendukung NU (masyarakat basis NU, elit-elit kaum muda NU dan elit ulama-kiai NU) akan bisa menatap masa depan dengan baik ataukah akan menjadikan mereka terjerembab dan terbelit dalam sarung yang mereka pakai, dan mengalamai kekalahan.

Buku dengan judul “NU dan Neoliberalisme; tantangan dan harapan menjelang satu abad” ini ditulis karena munculnya dua tantangan serius di kalangan Nahdliyin, yaitu tantangan kalangan Islam garis keras dan neoliberalisme. Tantangan neoliberalisme ini yang kemudian menjadi konsen dari buku ini.

Sedangkan kata kunci dari konsen buku ini adalah bagaimana masyarakat NU bisa dijadikan kekuatan progresif untuk gerakan yang bisa mengangkat derajatnya di tengah fenomena neoliberalisme, dan juga apakah masyarakat Nahdliyin bisa memandu arah dan jalannya gerakan negara Indonesia yang bermartabat yang selama ini dilecehekan oleh negara lain dan perilaku elit-elitnya sendiri.

Hegemoni Neoliberal

Neoliberal adalah faham yang dipopulerkan oleh Friederich Von Hayek dan Milton Friedman, dua orang peraih nobel ekonomi serta mahaguru neoliberal, faham ini mempunyai pilar-pilar negara-negara maju, perusahaan-perusahaan transnasional, dan tiga badan dunia penting: IMF, WTO, dan Bank Dunia (World Bank).

Secara prinsip, neoliberal bermakna faham atau madzhab ekonomi yang memperjuangkan laissez faire (persaingan bebas) dalam hak-hak kepemilikan oleh individu. Dengan kata lain, globalisasi neoliberal adalah pengintegrasian ekonomi bangsa-bangsa ke dalam suatu ekonomi global pasar bebas yang berimbas pada nilai-tatanan sosial, agama, budaya, politik, dan lain-lain.

Maka bisa dipastikan, konsekuensi neoliberal bagi masyarakat NU bisa kita rasakan dengan tidak terjangkaunya biaya kebutuhan hidup karena pendapatan yang di bawah rata-rata, terjadi liberalisasi pendidikan dan menjadi komersial, membanjirnya barang dan produk-produk asing dengan mudah, dan terdesaknya produk lokal, tingkat putus sekolah yang tinggi, mahalnya biaya kesehatan dari mulai obat hingga akses berobat untuk orang miskin, dan masih banyak lagi.

Karena neoliberalisme bekerja tidak dengan semata todongan senjata, tetapi dengan mekanisme ekspansi modal, keuangan, dan penguasaan asing oleh perusahaan transnasional atas bidang-bidang hajat hidup orang banyak, langkah-langkah merespon neoliberalisme perlu memperhatikan tiga tingkatan dalam kerja neoliberalisme: level dunia internasional, level nasional negara, dan level basis riil di masyarakat. Ketiga hierarki ini perlu direspon oleh NU, dengan tidak boleh melepaskan satu tingkatan dengan tingkatan yang lain. Kalau NU hanya bergerak dalam konteks basis riil masyarakat dan mencoba membentenginya di wilayah itu, tetapi membiarkan kerja neoliberalisme di level nasional dan internasional terus berjalan, standing position yang dimainkan hanyalah bertahan: ibarat kelas bulu melawan kelas berat.

Selain itu, kaitannya dengan pengambilan sikap terhadap neoliberalisme dan kecenderungan yang selama ini dipakai dalam praksis gerakan, buku ini juga memberikan pemetaan faksi serta posisi masing-masing faksi. Di antara faksi-faksi yang disebutkan adalah: faksi NU struktural, faksi NU politik yang terpecah ke dalam banyak faksi, dan faksi anak-anak muda NU yang juga terpecah ke dalam beragam faksi.

Di antara faksi anak muda NU, faksi kelompok NGO juga menjadi konsen pembedahan buku ini. Faksi NGO, meskipun membawa semangat kritis, selama ini terjebak ke dalam gerakan yang tidak mandiri dan mengandalkan funding agency semata, terjebak pada konflik-konflik internal yang parah, tersegmentasi ke wilayah sektoral-sektoral yang terpotong, dan kehancuran manajemen. Buku ini juga berusaha membedah sikap anak muda NU yg terpolarisasi ke banyak hal; politik, struktural semata, aktivis NGO yg juga ada kelemahan di sana-sini. Urgensitas anak muda NU saat ini mesti bisa memposisikan diri sebagai apa dalam konteks globalisasi yg demikian dahsyat mendatangkan kemiskinan bagi masyarakat.

Nilai plus buku ini adalah penemuan tentang matinya gerakan keberdayaan ekonomi masyarakat NU, dan adanya kebuntuan di semua lini di kalangan masyarakat Nahdliyin, termasuk di kalangan NGO-nya, dan perlunya sebuah jalan baru bagi gerakan masyarakat Nahdliyin.

Terakhir, di usianya yang hampir seabad, NU harusnya semakin dewasa untuk bisa melakukan desain-desain kreatif-progressif atas nama generasi mendatang untuk 10, 20 dan 50 tahun ke depan. Kalau respon NU selalu dan hanya mengulang gaya reaktif-pasif seperti selama ini, maka bisa diprediksikan NU akan selalu terbelakang dan tetap akan berada di belakang. Nasib Syarikat Islam yang dulu besar tetapi kemudian menjadi berantakan perlu direfleksikan oleh masyarakat NU. Bukanlah sesuatu yang kasat mata, selain invasi neoliberal ini, di masyarakat NU juga menghadapi invasi kalangan Islam seperti PKS, HTI, dan sejenisnya yang sudah semakin hebat ke jantung-jantung Nahdliyin. Pertanyaan dasarnya kemudian, apakah fenomena seperti ini tidak cukup menyadarkan elit-elit masyarakat NU?. Selamat bertafakkur!


* Peresensi adalah Mahasiswa Jurusan Kependidikan Islam, Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya. Tulisan ini sudah di muat Majalah KHITTAH Jember.