Pendopo

Terhampar seluruh getar hati dalam setiap kata dan maknanya. Terdendang sebuah kisah yang sempat tertoreh di seperempat waktu. Kebahagiaan terasa hanya beberapa kejap dari usia yang tak lagi dihitung oleh hitungan tahun tetapi oleh kedalaman rasa. Maka, di atas sajadah kata ini, ku berusaha memetik dawai hati, nyanyikan kidung sunyi yang rindukan buaian mimpi. Tak usah membuka telinga, belalakkan mata, apalagi memaksa batu bicara pada takdir. Bukan pula penulis, tetapi tetap mencoba menulis.

INTELEKTUALIS VERSUS POLITIKUS

Anwar Nuris *

“Misi suci kaum intelektual adalah membangun masyarakat bukan menjabat kepemimpinan politis”. (Ali Syari’ati).

Tak dapat di pungkiri, peran kaum muda Indonesia sangat signifikan dalam lembaran sejarah bangsa. Mulai dari peristiwa Sumpah Pemuda 1928, Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, pergolakan politik 1966, peristiwa reformasi 1998, bahkan sekarang banyak kaum intelektual muda yang mulai nimbrung dalam perpolitikan praktis, baik dalam kancah perpolitikan lokal, regional, dan nasional. Sebagai kaum elit intelektual, kaum muda yang mayoritas berasal dari dunia kampus kerap mengusung ide pembaharuan yang berdiri di atas pijakan idealisme dan moralitas. Karena itu, kaum muda, terutama dalam hal ini adalah para intelektual kampus, kerap di beri cap agent of change (agen perubahan) karena punya kesadaran intelektual untuk melakukan perubahan.

Namun dalam konteks Indonesia kekinian, persoalan yang tengah menyerang kaum intelektual muda hari ini adalah justru kian menipisnya sense of intellectual. Sebuah instrument primer, tanpa hal itu menjadikan tumpul pisau pendobrak suatu perubahan. Karena itu, penguatan sense of intellectual menjadi sebuah keniscayaan dalam kiprah mahasiswa untuk merealisasikan peran sebagai agen of change. Sense of intellectual ini, perlu ditransformasikan kepada intellectual tradition (tradisi intelektual). Tak bisa dinafikan, bahwa aktivitas-aktifitas keilmuan merupakan salah satu gerbang menuju tradisi intelektual bagi mahasiswa.

Bahkan belakangan ini kita saksikan adanya trend pragmatisme yang merundung kaum muda intelektual. Orientasi gerakan lebih berfokus pada kepentingan pragmatisme belaka yang bersifat politis. Kita menyaksikan misalnya, sejumlah aktifis 98 yang dulunya vocal dan kritis terhadap pemerintah, kini harus menjadi bagian dari pemerintah. Atau setidaknya mereka termasuk bagian dari system politik yang saat ini amat korup dan rapuh.

Oleh karena itu, tradisi intelektual yang kemudian mengejawantahkan dalam trias tradition; discussion tradition, reading tradition, dan writing tradition menjadi point pokok untuk dikaji kembali jika kemudian dikorelasikan dengan intelektual ansich dan kaum intelektual yang nimbrung di panggung politik. Ini merupakan problematika yang belum banyak mendapat perhatian khusus, karena bagi kaum intelektual akan menganggap bahwa politik hanya akan memutuskan dan menghambat tradisi intelektualnya. Begitu pula bagi politikus, wilayah intelektual hanya berbicara konsep dan teori bukan pada tataran aplikasi dan implementasi langsung di dunia nyata. Jadi trias tradisi versi kaum intelektual tidak lagi dibutuhkan oleh intelektual politikus. Bisa saja, tradisi diskusi, membaca, dan menulis bukanlah hal signifikan bagi seorang politikus.

Dari wacana di atas, maka perlu adanya formulasi solutif yang memungkinkan tidak tumpang tindihnya peran identitas dan status. Karena problematika yang muncul adalah bagaimana jika kaum intelektual murni mulai merambah ke wilayah perpolitikan praktis. Apakah tradisi intelektual dan aktifitas keilmuan lainnya akan dia tinggalkan. Lantas siapa yang akan menjadi control terhadap mobilitas pemerintahan.

Tulisan ini tidak lantas “menghakimi” kaum intelektual yang mulai meniti karir di perpolitikan praktis. Karena mereka di satu sisi juga mempunyai hak berpolitik. Sebenarnya kasus-kasus seperti ini sama dengan wacana kaum ulama yang berlomba-lomba merebut kursi kepemimpinan. Tulisan ini hanya sebatas refleksi terhadap fenomena yang terjadi. Terlalu sering para politikus mengumbar janji namun tanpa pembuktian yang signifikan.

Ada dua opini yang perlu kita refleksi bersama, yaitu; pertama, meminjam adegium David Mendell bahwa berpolitik tanpa ide dan gagasan cerdas sama dengan memimpin tanpa tanggung jawab. Ini harus dipertimbangkan lagi oleh kaum intelektual muda yang hendak berpolitik praktis. Apakah konsep, ide, dan gagasan untuk membangun pemerintah benar-benar sudah terpikirkan untuk di tawarkan ke publik.

Sejarah membuktikan bahwa kaum tua telah di anggap gagal membawa dan memimpin negara. Ide dan gagasan brilian mereka sudah tidak layak pakai. Permasalahan ekonomi, sosial, budaya, bahkan agama tidak cepat terselesaikan. Ini adalah persepsi, jadi kemungkinan benar dan tidaknya bukan menjadi keputusan final.

Kedua, menurut Ali syari’ati bahawa misi suci kaum intelektual adalah membangun bangsa, masyarakat, dan negara dengan tidak menjabat langsung kepemimpinan praktis. Di satu sisi, antara peran “membangun” dan “mengembangkan” tidak terlepas dari “menguasai”. Di sisi lain, peran awal sebagai intelektual sedikit demi sedikit akan di tinggalkan. mereka dimungkinkan tidak akan lagi membicarakan aktifitas keilmuan, penelitian, dan lain sebagainya. Mereka kemudian akan disibukkan dengan berbagai aktivitas rapat komisi, sidang istimewa, kunker, dan lain sebagainya.

Dus, berbagai probelamatika diatas diharapkan menemukan titik temu dan solusi tepat untuk sama-sama menjalani peran masing-masing variable, kaum intektual dengan politikus. Sehingga tidak akan ada lagi istilah “kesunyian inteletual kampus” dalam skop kecil, ataupun “politikus busuk” yang sempat mengemuka dalam konteks luas.

Lebih dari itu, sebenarnya dunia masih merindukan kompleksitas peran kaum intelektual yang ikut serta meramaikan pesta demokrasi. Di satu sisi dia mampu berperan sebagai intelektual yang tetap mempunyai visi dan misi suci membangun dan memajukan negara. Dan di sisi lain dia mampu berperan sebagai politikus dengan gagasan-gagasan cerdas demi kepentingan dan kemajuan bangsa. Yang tentunya hal ini di topang dengan nilai moralitas demokrasi serta sesuai dengan apa yang pernah dikemukakan oleh William Sullivan; iktikad baik, kepercayaan, dan idealisme. Sebuah perbincangan yang cukup panjang dan memerlukan waktu lama untuk menuju sebuah absurditas intelektual politis.

* Anwar Nuris, penulis adalah Sekretaris Jenderal HMJ Kependidikan Islam Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya. Tulisan ini sudah di muat di Koran Duta Masyarakat, 3 November 2008.

read more “INTELEKTUALIS VERSUS POLITIKUS”

MEMBANGUN NU YANG KREATIF PROGRESSIF


Judul Buku : NU dan Tantangan Neoliberalisme
Penulis : Nur Kholik Ridwan
Penerbit : LKiS, Yogyakarta
Cetakan : I, Januari 2008
Tebal :
xx + 204 halaman
Peresensi : Anwar Nuris *


Nahdlatoel Oelama (NO) yang lahir 31 Januari 1926 M, 82 tahun silam, akan menjadi satu abad pada tahun 2026 mendatang, sudah cukup tua untuk ukuran organisasi keagamaan dan kemasyarakatan semacam NU ini.

Di tengah usia yang menjelang seabad ini, NU menghadapi problem-problem yang jauh kebih kompleks. Saat kelahirannya dulu, NU menghadapi dua hal: globalisasi Wahhabi dan globalisasi imperialisme fisik Barat ke negara-negara dunia ketiga, termasuk di nusantara. Kini NU juga mengahadapi dua tantangan sekaligus: globalisasi Islam Radikal dan globalisasi Neoliberal. Diakui atau tidak, keduanya diprediksikan akan menggerus nasib NU ke depan, bahkan bisa menghempaskan NU menjadi sesuatu yang tidak berharga di mata dunia bila tidak direspon secara baik.

Membaca NU perspektif historis memang banyak mengalami sindrom kekalahan; ini bisa kita amati bagaimana Nahdlatutujjar yang diharapkan mampu mengangkat ekonomi pertanian masyarakat pesantren dan pedesaan, ternyata berakhir dengan kekalahan dan mati. Yang lebih ironis, NU dilanda kekalahan inisiatif; NU lahir dari perseteruan ide antara kaum tradisionalis dengan kaum modernis. Disisi lain, kehadiran NU dibanggakan pada saat-saat genting keadaan mengancam NKRI dan negara Pancasila dari blok negara Islam, dan NU tampil ke depan dan memberi argumentasi pentingnya Islam dan umat Islam mendukung Pancasila, tetapi setelah itu, NU tetap berada dalam posisi marginal, baik dalam ekonomi ataupun kekuatan penentu kebijakan

Itulah diantara dari sekian banyak kekalahan-kekalahan sosial, ekonomi, dan budaya yang di alami NU, yang tidak sebanding dengan retorika para elitnya bahwa NU adalah organisasi besar dan bermassa paling besar di Indonesia. Kekalahan-kekalahan ini karena NU selalu melakukan tindakan sosial yang reaktif, tidak mendesainnya untuk 10, 20, atau 50 tahun mendatang, di mana NU hanya bertindak pasif. Kalaupun ada tindakan kreatif, tetapi terbentur oleh hujaman mental dan badai kekuasaan yang kuat, dan cara bertahan NU adalah lari ke pinggiran.

Ide cerdas Nur Khalik Ridlwan, penulis buku ini, tidak lain ingin menempatkan NU dalam konteks tantangan neoliberal yang sedang melanda dunia, dan bahkan di nusantara. Respon NU atas neoliberalisme akan menentukan apakah seluruh pilar-pilar pendukung NU (masyarakat basis NU, elit-elit kaum muda NU dan elit ulama-kiai NU) akan bisa menatap masa depan dengan baik ataukah akan menjadikan mereka terjerembab dan terbelit dalam sarung yang mereka pakai, dan mengalamai kekalahan.

Buku dengan judul “NU dan Neoliberalisme; tantangan dan harapan menjelang satu abad” ini ditulis karena munculnya dua tantangan serius di kalangan Nahdliyin, yaitu tantangan kalangan Islam garis keras dan neoliberalisme. Tantangan neoliberalisme ini yang kemudian menjadi konsen dari buku ini.

Sedangkan kata kunci dari konsen buku ini adalah bagaimana masyarakat NU bisa dijadikan kekuatan progresif untuk gerakan yang bisa mengangkat derajatnya di tengah fenomena neoliberalisme, dan juga apakah masyarakat Nahdliyin bisa memandu arah dan jalannya gerakan negara Indonesia yang bermartabat yang selama ini dilecehekan oleh negara lain dan perilaku elit-elitnya sendiri.

Hegemoni Neoliberal

Neoliberal adalah faham yang dipopulerkan oleh Friederich Von Hayek dan Milton Friedman, dua orang peraih nobel ekonomi serta mahaguru neoliberal, faham ini mempunyai pilar-pilar negara-negara maju, perusahaan-perusahaan transnasional, dan tiga badan dunia penting: IMF, WTO, dan Bank Dunia (World Bank).

Secara prinsip, neoliberal bermakna faham atau madzhab ekonomi yang memperjuangkan laissez faire (persaingan bebas) dalam hak-hak kepemilikan oleh individu. Dengan kata lain, globalisasi neoliberal adalah pengintegrasian ekonomi bangsa-bangsa ke dalam suatu ekonomi global pasar bebas yang berimbas pada nilai-tatanan sosial, agama, budaya, politik, dan lain-lain.

Maka bisa dipastikan, konsekuensi neoliberal bagi masyarakat NU bisa kita rasakan dengan tidak terjangkaunya biaya kebutuhan hidup karena pendapatan yang di bawah rata-rata, terjadi liberalisasi pendidikan dan menjadi komersial, membanjirnya barang dan produk-produk asing dengan mudah, dan terdesaknya produk lokal, tingkat putus sekolah yang tinggi, mahalnya biaya kesehatan dari mulai obat hingga akses berobat untuk orang miskin, dan masih banyak lagi.

Karena neoliberalisme bekerja tidak dengan semata todongan senjata, tetapi dengan mekanisme ekspansi modal, keuangan, dan penguasaan asing oleh perusahaan transnasional atas bidang-bidang hajat hidup orang banyak, langkah-langkah merespon neoliberalisme perlu memperhatikan tiga tingkatan dalam kerja neoliberalisme: level dunia internasional, level nasional negara, dan level basis riil di masyarakat. Ketiga hierarki ini perlu direspon oleh NU, dengan tidak boleh melepaskan satu tingkatan dengan tingkatan yang lain. Kalau NU hanya bergerak dalam konteks basis riil masyarakat dan mencoba membentenginya di wilayah itu, tetapi membiarkan kerja neoliberalisme di level nasional dan internasional terus berjalan, standing position yang dimainkan hanyalah bertahan: ibarat kelas bulu melawan kelas berat.

Selain itu, kaitannya dengan pengambilan sikap terhadap neoliberalisme dan kecenderungan yang selama ini dipakai dalam praksis gerakan, buku ini juga memberikan pemetaan faksi serta posisi masing-masing faksi. Di antara faksi-faksi yang disebutkan adalah: faksi NU struktural, faksi NU politik yang terpecah ke dalam banyak faksi, dan faksi anak-anak muda NU yang juga terpecah ke dalam beragam faksi.

Di antara faksi anak muda NU, faksi kelompok NGO juga menjadi konsen pembedahan buku ini. Faksi NGO, meskipun membawa semangat kritis, selama ini terjebak ke dalam gerakan yang tidak mandiri dan mengandalkan funding agency semata, terjebak pada konflik-konflik internal yang parah, tersegmentasi ke wilayah sektoral-sektoral yang terpotong, dan kehancuran manajemen. Buku ini juga berusaha membedah sikap anak muda NU yg terpolarisasi ke banyak hal; politik, struktural semata, aktivis NGO yg juga ada kelemahan di sana-sini. Urgensitas anak muda NU saat ini mesti bisa memposisikan diri sebagai apa dalam konteks globalisasi yg demikian dahsyat mendatangkan kemiskinan bagi masyarakat.

Nilai plus buku ini adalah penemuan tentang matinya gerakan keberdayaan ekonomi masyarakat NU, dan adanya kebuntuan di semua lini di kalangan masyarakat Nahdliyin, termasuk di kalangan NGO-nya, dan perlunya sebuah jalan baru bagi gerakan masyarakat Nahdliyin.

Terakhir, di usianya yang hampir seabad, NU harusnya semakin dewasa untuk bisa melakukan desain-desain kreatif-progressif atas nama generasi mendatang untuk 10, 20 dan 50 tahun ke depan. Kalau respon NU selalu dan hanya mengulang gaya reaktif-pasif seperti selama ini, maka bisa diprediksikan NU akan selalu terbelakang dan tetap akan berada di belakang. Nasib Syarikat Islam yang dulu besar tetapi kemudian menjadi berantakan perlu direfleksikan oleh masyarakat NU. Bukanlah sesuatu yang kasat mata, selain invasi neoliberal ini, di masyarakat NU juga menghadapi invasi kalangan Islam seperti PKS, HTI, dan sejenisnya yang sudah semakin hebat ke jantung-jantung Nahdliyin. Pertanyaan dasarnya kemudian, apakah fenomena seperti ini tidak cukup menyadarkan elit-elit masyarakat NU?. Selamat bertafakkur!


* Peresensi adalah Mahasiswa Jurusan Kependidikan Islam, Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya. Tulisan ini sudah di muat Majalah KHITTAH Jember.
read more “MEMBANGUN NU YANG KREATIF PROGRESSIF”

KIAI IHSAN; TOKOH INTELEKTUAL-SPIRITUAL ISLAM


Judul Buku : Jejak Spiritual Kiai Jampes
Penulis : Murtadho Hadi
Penerbit : Pustaka Pesantren, LKiS Yogyakarta
Cetakan : I, Januari 2008
Tebal : xii + 76 halaman
Peresensi : Anwar Nuris *

Konon, banyak ulama dan pakar bahasa Arab, termasuk ulama Al-Azhar, yang tidak segera percaya saat mereka tahu bahwa pengarang kitab Amtsilah al-Tashrifiyyah adalah Kiai Makshum Ali dari Jombang, Indonesia, yang dimaklumi tidak menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa ibu. Kitab Ilmu Tashrif (konjugasi) ini terkenal karena dapat menjelaskan proses bentukan kata dan tata matra (wazan) secara ringkas.

Begitu pula yang terjadi pada Kiai Ihsan bin Dahlan Jampes, dengan salah karya monumentalnya yang berjudul Siraj al-Thalibin sebagai kitab syarah/penjelas dari Minhaj Al-’Abidin-nya Al-Ghazali, mampu membuat penasaran para penggemar “etika al-Ghazali” di Eropa, karena mereka mengakui doktrin-doktrin Imam al-Ghazali yang begitu rumit namun dengan gamblang diuraikan Kia Ihsan. Bahkan ketika kitab Siraj terbit dan beredar di dalam maupun di luar negeri, datanglah utusan raja Faruq dari Mesir yang meminta Kiai Ihsan untuk mengajar di Universitas al-Azhar. Akan tetapi, dia lebih memilih untuk tetap tinggal di pesantrennya, menjadi teman setia santri dan mengajari mereka keluhuran akhlak. (hal. 24)

Kiai Ihsan bin Dahlan (1901-1952) lahir di Jampes, Kediri. Dia masih keturunan Raden Rahmatullah (dari Surabaya) melalui jalur nasab pihak perempuan, yaitu Nyai Isti’anah. Pertanyaannya kemudian, mengapa membaca sosok Kiai Ihsan ini atau membaca buku ini sangat menarik?, ini tidak lain karena intelektualitas paripurna dia yang ditopang oleh ketangguhan dan pengalaman-pengalaman yang unik dalam pergulatan spiritualnya.

Jadi, dengan kemakrifatan dan ketinggian ilmunya, Kiai Ihsan (begitu sapaan akrab dalam buku ini) mampu memadukan dirinya dengan pencipta dan hubungannya dengan sesama. Melalui jalan asketisnya, dia mampu menembus jalan wushul kehidupan akhirat, ditambah dengan sosok dia yang yang humoris, kreatif, dan ber-saharul lail (nyangkruk) dengan kopi dan rokok, sehingga begitu dekat dengan alam sekitarnya, terutama dengan santrinya.

Sebagai bukti kekreatifan Kiai Ihsan, dia banyak melahirkan cakrawala-cakrawala pemikirannya dalam bentuk karya tulisan. Diantaranya yang sempat terlacak adalah kitab Siraj al-Thalibin (Pelita Para Pencari), Irsyad al-Ikhwan; fi bayani hukmi qahwati wa al-Dukhan (Sebuah Risalah Tentang Kopi dan Rokok), Tashrib al-Ibarat (Kitab Falak Syarah Natijah al-Miqat-nya Kiai Dahlan Semarang), dan Kitab Manahij al-Imdad (syarah Irsyad al-Ibad-nya Kiai Zainuddin dari India-Selatan).

Pada tingkatan sastra, Kiai Ihsan telah menunjukkan betapa kuatnya dia dalam cabang yang satu ini. Hal ini diketahui dari karyanya yang berjudul Irsyad al-Ikhwan; fi bayani Qahwati wa al-Dukhan, sebuah syair-syair yang indah yang memuat tentang kopi dan rokok.

Dalam hal politik praktis, Kiai Ihsan bisa dijadikan parameter sebab sebagai sosok yang mempunyai peran luas dalam sosial kemasyarakatan, dia paham betul dengan high-politics (strategi politik tingkat tinggi) sehingga tidak lantas menjual harga diri pesantren. Hal ini tercermin dari sikapnya pada masa-masa penjajahan, revolusi fisik dan bahkan dengan partai terutama PKI saat itu.

Harus diakui, daya pikat politik telah mengubah pandangan hidup banyak kiai dalam memandang ragam pengabdian kepada masyarakat. Meskipun jika kembali mempertimbangkan faktor semangat zaman dan motivasi, tentu kita bisa memakluminya. Sebab di zaman sekarang, siapakah yang mau benar-benar senekad Jalaluddin As-Suyuthi yang mengasingkan diri dari khalayak ramai untuk benar-benar menyibukkan diri hanya untuk menulis sehingga menghasilkan lebih 600-an karya dari berbagai disiplin ilmu.

Kembali kepada term buku ini, Murtadho Hadi selaku penulis, juga mengupas pemikiran Kiai Ihsan dalam bidang tasawuf sebagaimana yang tertera dalam karya monumentalnya, Siraj al-Thalibin, baik dari grand narasinya yang merujuk pada kitab Minhaj al-‘Abidinnya al-Ghazali atau nilai-nilai sufistik yang terkandung di dalamnya.

Menurut Kiai Ihsan, terdapat tujuh upaya berat/jalan terjal (aqabah) untuk mencapai wushul kepada Rabb al-Jalil, yaitu ‘aqabtul ilmi (jalan terjal di dalam ilmu), ‘aqabatut taubah (jalan terjal di dalam taubat), ‘aqabatul awa’iq (antisipasi rintangan dan penghalang), ‘aqabatul ‘awarih (upaya menghadapi persoalan-persoalan yang sifatnya duniawi), ‘aqabatul bawa’its (upaya membangkitkan kerinduan yang mendalam kepada Sang Khaliq), ‘aqabatul qawadhih (upaya untuk mencapai kebersihan jiwa dan mencapai maqam kemurnian), dan ‘aqabatul hamdi was syukri (upaya untuk mencapai maqam syukur yang sebenarnya).

Beberapa isi pokok dalam buku “Jejak Spiritual Kiai Jampes” ini, memang sedikit banyak mengikuti apa yang pernah digeluti para sufi Islam yang lain. Seperti Wali Songo, dimana ajaran Islam merupakan sebuah gerakan, pengetahuan, dan sikap yang harus diejawantahkan dalam kehidupan masyarakat yang mempunyai sifat keberagaman hanif, toleran, dan damai.

Tak pelak lagi, buku ini penting dibaca kembali oleh siapa saja yang hendak ingin menghayati spirit kaum sufi atau nilai-nilai dasar Islam khususnya para santri di pesantren. Dan bisa dikatakan, buku ini juga termasuk bagian dari “intisari” ajaran Islam yang diyakini sebagai fitrah, yaitu proses perjalanan panjang seorang sufi untuk mencapai Rabb-nya. Seperti spirit yang sering dijalani oleh penganut agama -agama lain.

Hanya saja buku ini memiliki kelemahan tersendiri, seperti yang diakui oleh penulis sendiri bahwa buku ini lahir dari perbincangan santai dengan para sarkub (sarjana kuburan) di pojok-pojok warung kopi yang ada di sekitar kuburan yang pernah penulis ziarahi, sehingga lebih banyak mengandalkan ingatan, terutama menyangkut nama-nama dan judul-judul kitab. Jadi bisa dikatakan judul buku ini tidak bisa merepresentasikan isi buku.

Namun yang demikian itu, tetap merupakan upaya yang patut dihargai dan diapresiasikan bersama, bahwa kehadiran buku setebal 76 halaman ini bisa menjadi santapan alternatif mengingat kembali dimensi terpenting pergulatan spiritual hamba mencapai tingkatan insan kamil. Sebab uraian-uraian sufistik dalam buku ini cukup memberikan inspirasi dan pencerahan sekaligus menyimpan hikmah yang cukup mendalam. Wallahu A’lamu!.

* Mahasiswa Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya, Alumni Ponpes Nasy-atul Muta'allimin Gapura Timur Gapura Sumenep Madura, dan sekarang Nyantri di PP. Darul Arqam Surabaya. Tulisan ini sudah di muat di situs NU Online edisi 5 Mei 2008.

read more “KIAI IHSAN; TOKOH INTELEKTUAL-SPIRITUAL ISLAM”

NYANYIAN SYEH KHALIL

Judul : Surat Cinta Dari Aceh
Penulis : Syeh Khalil
Pengantar : Emha Ainun Nadjib
Penerbit : Pustaka Sastra, LKiS Yogyakarta
Cetakan : I, September 2007
Tebal : xx + 94 halaman
Peresensi : Anwar Nuris *


Membaca buku ini jangan mengandai-andai akan menemukan surat cinta Syeh Khalil kepada seorang gadis cantik (sebagaimana tertulis pada judul buku ini). Karena kata-kata nan indah yang penulis rangkai dalam antologi puisinya kali ini laksana oase di tengah hiruk-pikuk bencana dan berbagai masalah sosial yang dihadapi bangsa ini, terutama Aceh.
Bagi para penyair pada umumnya mempunyai karakteristik tersendiri. Misalnya kalau kita mengamati sajak-sajak ataupun puisi-puisi yang pernah diliris Sapardi, merupakan standar klasik keberhasilan yang bermain dengan suasana tanpa kehilangan ide. Sebaliknya, sajak-sajak Goenawan Moehammad atau Subagio Sastrowardoyo, adalah standar kepiawaian memainkan ide tanpa kehilangan suasana. Sementara untuk Chairil Anwar merupakan kiblat abadi kegeniusan dalam melahirkan efek maksimal dari rajutan kata yang minimal.
Sedangkan untuk puisi-puisi Syeh Khalil ini, meskipun dia lahir di bumi serambi mekkah yang pernah mengharu biru dengan konflik bersenjata, puisinya tidak terjebak dalam demonstrasi politis yang sarat kepentingan. Sajak yang dilahirkannya mencoba menceritakan Aceh dengan kesederhanaan bertutur dan keinginan berbagi tentang Aceh tanpa menghadapi siapapun. Bahkan, ada beberapa sajak sengaja ditujukan untuk membangkitkan Aceh dari keterpurukan yang mendera pasca perang dan tsunami.
Disamping menulis puisi, Syeh Khalil yang notabene termasuk output pondok pesantren, setiap harinya selalu bersinggungan dengan lingkungan agamis, ia juga penggiat sastra Aceh yang telah menulis sejumlah hikayat Aceh dan karya-karyanya diabadikan di museum Aceh sebagai penghargaan bagi penulis.
Buku yang berjudul Surat Cinta Dari Aceh ini merupakan antologi puisi yang kedua setelah pada tahun 2003 diterbitkan antologi puisi pertamanya dengan judul Sajak-Sajak Burung Dara. Salah satu nilai instrinsik yang perlu kita tekankan di sini serta dapat kita rasakan yaitu bahwa dia hanya ingin berbagi kisah tentang Aceh yang dicintainya dengan penggunaan bahasa yang cukup bersahaja dan menyentuh.
Hal ini bisa kita hayati pada puisinya yang berjudul Surat Cinta Dari Aceh yang sekaligus menjadi title buku ini. (hal. 1). Pada puisi Atjehku Berdenyut, Syeh Khalil berusaha mengungkapkan bahwa Aceh menyimpan berbagai keunikan, baik dari aspek alamnya yang indah meskipun tidak seperti Pulau Dewata Bali, serta kehidupan masyarakat disana yang ramah. (hal. 12). Sedangkan puisinya yang berjudul Tsunami lebih menggambarkan secara kronologis peristiwa naiknya air laut ke daratan akibat gempa Tsunami dan. (hal. 76). Ada juga diantara puisi-puisi yang lain dalam buku ini mengandung nuansa religius yang begitu kental, ini tidak terlepas dari perjalanannya dipondok pesantren dan pengembaraannya mengunjungi berbagai karakteristik kehidupan manusia.
Namun, imaji yang dia mainkan dalam puisinya bukan berarti berusaha menjual Aceh untuk mendapatkan belas kasihan, sebagaimana layaknya orang menjual penderitaan. Oleh karena itu Syeh Khalil tidak menunjukkan sebuah kecengengan dalam mengungkapkannya, melainkan dimaksudkan bukan hanya mengenal Aceh lebih dekat. Namun juga memaknai setiap peristiwa dan pengalaman yang menimpa Aceh sebagai pelajaran berharga yang tak pernah usai.
Untuk itu, bagi penggila puisi yang baik alangkah lebih etis jika tidak hanya sekadar memahami bahasa yang dikomunikasikan oleh penyair, tetapi seyogianya juga menghayati dan memaknai lambang, ungkapan, perbandingan yang terdapat dalam puisi tersebut. Jika pembaca sudah dapat mencapai tahap memaknai unsur-unsur tersebut maka sampailah ia pada apa yang dikehendakai oleh penyair. Karena puisi sendiri menyimpan idealisme yang mencerminkan sikap pandangan penyair terhadap tema yang disampaikannya. Hal itu berarti pandangan hidup sejatinya tersirat dalam sajak-sajaknya. Demikian juga, puisi-puisi Syeh Khalil dalam bukunya ini menunjukkan dan mewakili pengalaman hidup yang pernah dijalaninya.
Nilai plus buku setebal 94 halaman ini, salah satunya pada penggunaan bahasa yang bersahaja dan menyentuh. Sebagaimana dalam puisi, bahasa merupakan sarana ungkap yang di garap secara tuntas, mulai dari sudut bunyi sampai pada kemungkinan-kemungkinan yang melambangkan arti. Potensi bahasa puisi dalam buku ini dieksplorasi habis-habisan. Syekh Khalil dalam pemilihan kata-kata tidak hanya berdasarkan makna semata, tetapi juga pada jumlah suku kata, bunyi, tekanan dan lain-lain. Bahkan dalam unsur rima dan irama beberapa puisinya juga diperhatikan dan dipertimbangkannya.


* Anwar Nuris, Peresensi adalah kontributor teater ANCAKA Sumenep Madura, tinggal di Surabaya sebagai Mahasiswa Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya. Tulisan ini sudah dimuat di Koran RADAR SURABAYA, 02 Maret 2008.
read more “NYANYIAN SYEH KHALIL”

ALI MASCHAN DAN PENGARUHNYA TERHADAP NU

Anwar Nuris *
Ada yang menarik dan cukup menggelitik untuk dikaji menyambut pesta demokrasi (Pilgub) di Jawa Timur yang sudah di ambang pintu. Pasalnya harapan sebagian warga Nahdlatul Ulama agar Ketua PWNU Jawa Timur Dr. Ali Maschan Moesa MSi untuk tidak maju dalam pemilihan Gubernur Jatim hancur sudah. Ali Maschan benar-benar sudah disunting oleh Soenarjo untuk mendampinginya menjadi pasangan cagub dan cawagub Jawa Timur.
Jadi sampai saat ini sudah dua calon Gubernur yang mempunyai pasangan, Soenarjo berpasangan dengan Ali Maschan Moesa, serta Soekarwo dan Syaifullah Yusuf sebagai pasangan cagub dan cawagub. Tinggal cagub Achmadi dan cagub Sutjipto yang masih belum menemukan titik terang siapa pasangan mereka.
Dari keempat cagub tersebut, dua pada posisi di atas, yaitu Soenarjo dan Soekarwo, dan dua pada posisi di bawah, yaitu Achmady dan Sutjipto. Maka dari ini dapat kita baca bahwa calon wakil gubernur (cawagub) Jatim dipandang sangat menentukan serta besar peranannya dalam mendulang suara.
Cagub Soekarwo sudah berhasil menggandeng cawagub Syaifullah Yusuf yang kelihatannya akan membantu, dan tampaknya Soenarjo juga sudah berhasil menggaet Ali Maschan Moesa yang menambah proses pilgub nanti akan semakin hangat. Sedangkan cagub Sutjipto masih belum jelas juga siapa yang akan mendampinginya sebagai cawagub. Jadi bisa dipastikan, Jawa Timur yang notabene berbasis mayoritas Nahdlatul Ulama, cagub sejak awal sudah mulai bergerilya mencari tokoh NU atau paling tidak menjaring orang-orang yang sudah mempunyai pamor di organisasi besar tersebut.
Sosok Ali Maschan Moesa sebagai Ketua PWNU Jatim akhirnya bersedia mendampingi Soenarjo dalam pilgub nanti. Sesuai hasil Konferwil NU di Probolinggo (2-4 November 2007) kemarin, Ali Maschan terpilih secara aklamasi menjadi Ketua PWNU Jatim dengan syarat menandatangani kontrak jam’iyyah yang merupakan kontrak sosial antara beliau dengan utusan NU cabang se-Jawa Timur. Kontrak tersebut mengamanatkan Ketua terpilih tidak boleh berpolitik praktis, dan kalau tetap terjun di dalamnya, maka yang bersangkutan harus non-aktif.
Dalam menanggapi fenomena seperti ini, warga NU yang agak keberatan terhadap jalan politik yang di ambil oleh Ali Maschan harus bersikap lebih dewasa. Karena sebenarnya, kalau kembali ke AD/ART NU tidak ada larangan untuk menjadi cagub-cawagub. AD/ART hanya menyebut agar para pengurus yang mencalonkan diri menjadi cagub-cawagub untuk non-aktif. Meskipun demikian, secara kultur-psikologis, sebagian warga NU sendiri kurang menyetujui langkah Ketua PWNU Jatim ini.

Jalan Panjang Menuju Pilgub
Tulisan ini selanjutnya bukan hendak mengklaim benar atau tidak, baik atau buruk atau bahkan menghakimi dan mengadili gerakan politik cagub maupun cawagub yang akan bersaing memperebutkan Jatim I dan Jatim II tersebut, terlepas dari dilematisnya PKB sebagai parpol dan NU sebagai non-parpol dalan penentuan cagub dan cawagub, terutama dengan sosok Ali Maschan Moesa yang sejak awal sudah diperebutkan. Tulisan ini hanya sebatas refleksi terhadap wacana yang berkembang seputar pilgub Jatim, menganalisa peta politik kaitannya dengan basis massa masing-masing, apalagi ditambah dengan Ali Maschan Moesa yang sudah menyalakan lampu hijau untuk mendampingi Soenarjo.
Pertama, lebih dari 30.000 kader Partai Demokrat dan Partai Amanat Nasional (PAN) menyemarakkan deklarasi pasangan cagub dan cawagub yang mereka usung, Soekarwo dan Syaifullah Yusuf, pada minggu (17/2) kemarin di Gelora Pantjasila Surabaya. Ini menandakan bahwa mereka tinggal mempersiapkan diri bagaimana langkah dan gerakan kampanye nanti dalam rangka mendulang suara sebanyak mungkin.
Pasangan ini sudah mendapat restu dan dukungan dari sebagian Ulama PKB dan PKNU, antara lain KH. Abdullah Sahal, KH. Mahrus Malik, KH. Anwar Iskandar, KH. Imam Yahya, KH. Fahrurrozi Burhan, dan KH. Masduqi Mahfudz.
Kedua, mengenai calon wakil gubernur yang akan mendampingi Sutjipto, ketua pemenangan Sutjipto dari DPP PDI-P Jatim Ali Mudji mengatakan, bahwa penentuan cawagub masih menunggu rapat Pimpinan Wilayah PPP yang rencananya akan digelar akhir pekan ini.
Sejauh ini, nama cawagub yang muncul antara lain Ketua Umum Muslimat NU Khafifah Indar Parawansa, Ketua Kosgoro 1957 Jatim Ridlwan Hisyam dan Ketua DPW PPP Jatim Farid Al Fauzi. Meskipun sebelumnya sudah tersiar kabar bahwa PPP akan mengusung Djoko Subroto bersama partai-partai lain dan parpol non-parlemen, Ali mengatakan PDI-P dan PPP sudah bersepakat untuk membangun koalisi.
Ketiga, Ali Maschan Moesa yang kemudian berhasil disunting oleh cagub Soenarjo dapat diprediksikan, bahwa kompetisi hangat antar calon kepala daerah Jatim ini benar-benar akan menjadi kenyataan. Sebab peluang pasangan Soenarjo dan pasangan Soekarwo untuk menang diperkirakan fifty-fifty. Oleh karena itu, sejak awal Soenarjo sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menggandeng Ketua PWNU Jatim tersebut, walaupun sebelumnya Ali Maschan dikabarkan sempat dilirik oleh cagub dari PKB, Achmady.
Logikanya, seandainya Ali Maschan Moesa berpasangan dengan Achmady, sedangkan Soenarjo berpasangan dengan figur lain, maka dapat dipastikan bahwa pasangan Soekarwo dan Syaifullah Yusuf yang akan berpeluang besar memenangkan pilgub Jatim ini. Walapun tidak bisa disangkal juga kemudiaan, seandainya Achmady berhasil menggaet Ali Maschan Moesa, maka juga berpeluang besar untuk menang karena mengingat pasangan ini sama-sama berangkat dari kultur organisasi yang sama, yaitu Nahdlatul Ulama, dan ini bisa dinilai akan lebih baik untuk konsolidasi internal organisasi NU.
Namun, sudah tidak bisa dibayangkan apabila Ali Maschan Moesa memilih berdampingan dengan Soenarjo, dan ini benar-benar sudah terjadi, karena Suara massa PKB sebagai partai politik yang mengusung cagub Achmady dan NU sebagai organisasi keagamaan dan kemasyarakatan akan pecah, meskipun PKB dan NU secara kultur organisatoris adalah sama.
Hal ini mungkin akan menimbulkan semakin mengerasnya resistensi NU serta perseteruan antara PKB, PBNU, dan Gus Dur. Dan tidak menutup kemungkinan pula, NU disoroti sebagai pragmatis sempit kalau tidak secepatnya di antisipasi.
Terlepas dari keberhasilan Soenarjo menggandeng Ali Maschan, Jika Mochammad Toha menulis Mengapa Cagub Berebut Ali Maschan? (Kompas, 19/2), ini sudah jelas dan pasti karena sosok seorang Ali Maschan layak untuk diperebutkan, di samping sebagai Ketua PWNU Jatim yang notabene mempunyai basis massa kuat dan mayoritas, khususnya di tingkat Jatim, beliau juga belum pernah terkotori oleh hal-hal yang berbau politik praktis.
Kemudian, tulisan tersebut yang juga memancing ide Salahuddin Wahid untuk menulis Mengapa PKB Tidak Mengincar Ali Maschan? (Kompas, 21/2), ini tidak terlepas proses penjaringan calon di internal partai. PKB tidak menunjuk kader untuk menjadi cagub atau cawagub, tetapi membuka pendaftaran, dan yang mendaftarkan diri adalah Achmady sedangkan Ali Maschan Moesa tidak. Di samping itu, Ali Maschan Moesa dinilai bukanlah sosok yang pernah aktif secara langsung di kepemerintahan, yakni pengalaman sebagai eksekutif.
Terlepas dari fenomena tersebut, sosok Ali Maschan Moesa sebagai figur NU yang masih belum ternodai dengan hal-hal yang berbau politik birokrasi dan juga masih disegani di tingkat Jawa Timur, walaupun sudah menentukan pilihan untuk berpasangan dengan Soenarjo, masuk dalam lingkaran pertarungan pilgub Jatim 2008, ini bukan berarti hancurnya semangat untuk tetap memperjuangkan Khitthah Nahdliyyah secara kultural-subtansial.
Walaupun sebenarnya sebagian warga Nahdliyin masih mengharap agar seorang Ali Maschan tetap memilih untuk berjuang di NU, namun apalah daya nasi sudah menjadi bubur, harus diterima dengan lapang dada. Secara AD/ART NU, memang Ali Maschan memang tidak melanggar. Namun berhubung kontrak jam’iyyahnya lebih di maknai kontrak sosial, maka secara psikologis, Ali Maschan telah “melukai” sebagian warga NU khususnya wilayah Jawa Timur yang telah mengamanatinya untuk tidak membawa NU ke politik praktis.
Bagi warga NU Jatim khususnya dan warga Jatim pada umumnya, bahwa faktor ikut atau tidaknya seorang Ali Maschan Moesa di kancah pilgub Jawa Timur tetap akan mempengaruhi NU-PKB terutama di wilayah Jawa Timur itu sendiri. Kita harus merelakan apa yang sudah terjadi dan berusaha antisipatif terhadap hal-hal yang tidak di inginkan yang bakal terjadi.
* Anwar Nuris, Sekjend HMJ Kependidikan Islam Fak. Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya. Pengelola Komunitas Sastrawan-Intelektualis SENJANUARI Surabaya. Salah satu kontributor fungsionaris Ikatan Mahasiswa Sumenep (IKMAS) di Surabaya. Tulisan ini sudah dimuat di Koran SURABAYA PAGI, 25 Februari 2008.
read more “ALI MASCHAN DAN PENGARUHNYA TERHADAP NU”

KASIH SAYANG PASCA VALENTINE’S DAY

Oleh:
Anwar Nuris *
Tanggal 14 Februari 2008 sebagai perayaan hari Valentine telah berlalu, kemarin pada hari Kamis (14/2/2008) pemerintah Singapura tidak mau ketinggalan dalam momen hari kasih sayang ini, yaitu dengan menggalang perkawinan, terlebih lagi agar dari perkawinan tesebut menghasilkan keturunan. Dapat dimaklumi karena dalam beberapa tahun terakhir ini, angka kelahiran per perempuan disana hanya 1,24 persen pertahun, jauh dari angka 2,1 persen yang diperlukan untuk mempertahankan populasi Negara pulau itu.
Oleh karena itu, kemarin pemerintah menggelar “Romancing Singapore” guna mendorong pria dan perempuan bujang bertemu dan diharapkan menikah terus punya anak. Meskipun terkesan cinta yang dipaksakan, hal ini membuktikan bahwa Valentine’s Day masih mempunyai nuansa nilai tersendiri untuk menumbuhkan rasa kasih sayang dan cinta.
Secara geneologis-historis, Valentine merupakan produk budaya Nasrani, karena terambil dari nama pendeta Romawi Santo Valentine. Hari Valentine dirayakan untuk mengenang kematian sang pengasih Santo Valentine, yang mati karena telah melanggar aturan kaisar kejam saat itu yang bernama Claudius II. Kaisar membuat aturan bahwa semua pertunangan dan perkawinan di Romawi harus dibatalkan. Hal ini dilakukan kaisar karena ada kepentingan politik di sana, yaitu untuk menambah kekuatan militer. Tetapi, Santo Valentine bersama Santo Marius dan para martir Kristiani lainnya justru menikahkan pasangan Romawi secara sembunyi-sembunyi. Tindakan menentang itupun diketahui oleh Kaisar. Akibatnya, Santo Valentine di siksa dengan kejam hingga mati dan kepalanya dipenggal. Hukuman ini terjadi pada tanggal 14 Februari 270 M. Untuk mengenang jasa Santo Valentine itulah akhirnya para pastur di Romawi menetapkan tanggal 14 Februari sebagai Hari Santo Valentine.
Terlepas dari kebenaran sejarah tersebut, sejarah juga yang kemudian berubah. 14 Februari bukan hanya untuk mengenang jasa Santo Valentine, bukan lagi hari besar orang Romawi, dan tidak hanya milik umat Kristiani. Kini ia telah melintasi batas. Valentine’s Day telah dirayakan manusia sejagad, lintas Negara, suku, bangsa, ras, dan bahkan agama. Di Italia yang notabene mayoritas katholik, jelas jutaan pasangan pada tanggal 14 Februari merayakannya. Di Malaysia yang agamis, jutaan tangkai bunga berserakan, pernak-pernik warna pink serta ornamen menghiasi hari kasih saying tersebut. Dan di Negara kita, Indonesia, fenomena 14 Februari mempunyai eksistensialitas tersendiri dalam memaknai cinta, khususnya pada kaum mudanya, tak ayal malah menjadi polemik yang berkepanjangan terutama kalau dilihat dari perspektif agama.

Valentine dan Interaksi dalam kehidupan
Makna valentine secara prinsipil adalah sangat luhur, pesan moral yang ada di dalamnya adalah cinta yang dalam konteks ini adalah cinta yang bersumber dari hati nurani bukan dari hawa nafsu. Artinya bahwa, pesan cinta yang ada dalam valentine adalah cinta dalam arti kasih sayang, yang mungkin apabila lebih diorientasikan kepada nilai-nilai sosial dan kemanusiaan akan lebih bermakna. Dengan kata lain, bervalentine pada dasarnya adalah berusaha untuk mengaktualisasikan komitmen, setia dan konsisten dalam memperjuangkan dan menjunjung tinggi nilai-nilai sosial dan kemanusiaan yang berdasarkan kasih sayang.
Oleh karena itu, valentine secara esensialitas tidak harus tergantung dengan ruang dan waktu, tidak harus melihat momen 14 Februari, kapan, dimana, dan untuk siapa. Budaya Valentine dalam konteks ini tentu sangat urgen untuk dibudayakan. Karena seperti sekarang ini, bangsa Indonesia khususnya, telah dilanda krisis multidimensional. Perang saudara, sentimen keagamaan akibat banyak bermunculan aliran sempalan, tindak kekerasan mengalami eskalasi dan konflik terus melanda kehidupan kita. Kehidupan katakanlah nyaris tidak pernah damai.
Dalam kehidupan perekonomian, hanya gara-gara alasan untuk penertiban, PKL (pedagang kaki lima) di beberapa jalan di Surabaya misalnya, harus rela angkat kaki karena akan segera dilakukan pembongkaran, hal ini sudah menggambarkan bahwa setiap keputusan yang akan diambil oleh pemerintah terkadang tanpa melihat akibat yang akan ditimbulkan. Pengangguran yang berujung pada tindak kekerasan dan kriminalitas secara tak langsung telah menodai arti penting kasih sayang antar sesama.
Sistem perekonomian pasar terutama perdagangan harus lebih didasarkan pada rasa kasih sayang, artinya prinsip ekonomi yang menyebutkan bahwa bagaimana memperoleh penghasilan besar dengan pengeluaran yang kecil tidak lantas diterpakan secara membabi-buta. Dengan kondisi saat ini, bencana, kelaparan, banjir, longsor dan sebagainya harus mampu ditanggapi dengan rasa kasih sayang, rendah hati, peduli terhadap sesama dan lebih ditekankan pada memberi dari pada menerima.
Melalui perayaan Valentin kemarin, seyogianya bangsa ini lebih arif menghadapi dan mengimplementasikan dalam kehidupan rasa kasih sayang dan cinta tersebut. Sebagaimana di lansir, bahwa Valentine merupakan pemaknaan kasih sayang melalui pendekatan Kultural, artinya perayaan Valentine ini sudah saatnya diorientasikan untuk menjalin kasih sayang dan persaudaraan antar sesama umat manusia. Sehingga budaya cinta dan kasih sayang nantinya benar-benar menjadi karakter diri kita, bangsa dan Negara serta menjadi bagian yang integral kehidupan kita. Sehingga semisal budaya kekerasan dan konflik yang telah berakar kuat dalam kehidupan nantinya bisa dibasmi, paling tidak bisa diminimalisir. Penyelesaian konflik dengan metode ini tentu lebih efektif dan bertahan lama, karena penyelesaian konflik ini tidak didasarkan atas pemaksaan keamanan, melainkan atas cinta dan kesadaran.
Yang perlu kita kritisi juga disini, bahwa dalam perayaan valentine ini terkadang diwarnai oleh bentuk-bentuk penyimpangan yang telah dilakukan oleh sebagian pihak yang merayakan Valentine, dalam hal ini adalah kaum muda-mudinya. Yang mana hal ini jelas sangat bertolak belakang dengan pesan moral dan sosial hari Valentine. Bentuk-bentuk penyimpangan yang dimaksud diantaranya adalah sek bebas, pesta narkoba, minum-minuman keras dan hura-hura lainya yang masuk dalam kategori patologi sosial.
Setiap kali hari valentin tiba maka kebanyakan anak-anak muda merayakaanya dengan aktifitas-aktifitas tersebut. Dengan alasan hari kasih sayang mereka telah memaknai Valentine dengan perayaan seks bebas (free sex) dan sejenisnya. Hal-hal negatif inilah sebenarnya yang telah menjadikan makna dan fungsi esensial Valentine menjadi ternodai dan terdistorsi.
Cinta dan kasih sayang yang ada dalam semangat perayaan Valentine kemarin lebih lanjut harus dan terus menerus di implementasikan dan di manifestasikan dalam kehidupan sehari-hari tanpa melihat dan menunggu momen 14 Februari, harus kita maknai sebagai bentuk komitmen konkrit kita terhadap nilai-nilai sosial, budaya, politik, dan ekonomi, dan bahkan agama, secara komprehensip dan berkelanjutan, bukan sebagai hura-hura pelampiasan nafsu. Ia berpotensi menjadi sarana untuk membasmi budaya kekerasan, menegakkan perdamaian dan kerukunan antar sesama manusia. Maka kalau semangat valentine tidak mengarah kepada konteks ini, dan masih cenderung hedonis dan materialis, maka valentin selamanya tidak akan berguna. Maka tidaklah pantas, ketika momen Valentine 14 Februari telah berlalu, kita bergumam; Arrivederci Valentine’s Day!, selamat tinggal hari kasih sayang!.


* Anwar Nuris, Sekjend HMJ Kependidikan Islam Fak. Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya. Pengelola Komunitas Sastrawan-Intelektualis SENJANUARI Surabaya. Salah satu kontributor fungsionaris Ikatan Mahasiswa Sumenep (IKMAS) di Surabaya. Tulisan ini sudah dimuat di Koran SURABAYA PAGI, 16 Februari 2008.
read more “KASIH SAYANG PASCA VALENTINE’S DAY”

99 SAJAK, BERCERMIN KEPADA AIR

Judul Buku : Notasi Pendosa, sembilan puluh sembilan sajak
Penulis : Acep Iwan Saidi
Penerbit : Pustaka Sastra LKiS, Yogyakarta
Cetakan : I, Juni 2007
Tebal : xx + 148 halaman
Peresensi : Anwar Nuris *

Menulis puisi bukanlah pekerjaan yang iseng atau sambil lalu sehingga untuk disebut sebagai penyair yang sesungguhnya tidaklah mudah. Karena dalam puisi, potensi bahasa di eksplorasi secara tuntas, mulai dari pemilihan kata-kata, unsur rima hingga irama menjadi bahan pertimbangan dan perhatian khusus.
Puisi bukan hanya bahasa seorang pecinta, perayu, atau bahkan orang yang lagi putus cinta, tetapi dapat memiliki peran universal menurut tema yang dituangkan penyair dalam puisinya, seperti tema kemanusiaan, cinta kasih, dan sebagainya. Maka pembaca puisi yang baik tidak hanya sekedar memahami bahasa yang dikomunikasikan oleh penyair, tetapi seyogianya juga menghayati dan memahami lambang ungkapan serta perbandingan yang terdapat dalam puisi tersebut.
Jika pembaca puisi sudah dapat mencapai tahap memaknai unsur-unsur tersebut, maka sampailah ia pada apa yang dikehendaki oleh penyair. Karena, puisi sendiri menyimpan idealisme yang mencerminkan sikap dan pandangan penyair terhadap tema yang disampaikannya.
Buku yang berjudul Notasi Pendosa ini, merupakan antologi puisi milik Acep Iwan Saidi yang menunjukkan dan mewakili pengalaman hidup yang pernah digelutinya, dengan sosoknya yang kita kenal telah lama berkiprah di dunia sastra lebih dari satu dekade. Kali ini yang menjadi bidikan dalam puisi-puisinya adalah tentang kedekatan dirinya dengan air, terutama laut, yang memang banyak menyimpan keindahan dan merupakan sumber inspirasi yang tak pernah mati. Perjumpaan dan pergaulannya dengan laut menghasilkan puisi-puisi yang penuh kecerdasan imaji serta mampu menggambarkan hal ihwal bencana, nasib sajak, kota yang penuh prahara, asmara, dan akhirnya perkara dosa -merupakan tema besar buku ini- yang bermain di antara nota dan notasi.
Selain itu Acep -begitu sapaan dalam buku ini- juga mengangkat tema religius yang berkarakter kuat yang tampak menyiratkan kesan ketulusan dan kejujuran sehingga menghasilkan efek mengharukan dan menyentuh. Dan, beberapa tema yang lain yang tidak luput dari perhatiannya, seperti tema sosial, cinta dan kesedihan, luka dan kesunyian digarap begitu hangat dalam kumpulan puisinya ini.
Salah satu terobosan baru serta menarik dalam puisi Acep kali ini terletak pada imajinasi utama yang dimainkannya yaitu berkisar sekitar air, terutama laut dan sungai. Laut adalah cermin yang senantiasa memantulkan gejolak ruh sang penyair. Ada keintiman yang mengesankan dalam persenggamaan penulis dengan laut sebagai medium katarsis tempat segala pengalaman batin, terutama tentang luka dan barangkali juga dosa yang dicuci, ditransformasi, kemudian dibenahi.
Arofah (1), baik dari segi bahasa, rima dan iramanya. (hal. 121). Selain itu, pada sajak-sajak religiusnya kerap terasa perpaduan mengharukan antara ketulusan, depresi, kegilaan yang lucu dan kecerdasan imaji, seperti sajaknya yang bertajuk Doa sebelum makan : ”Tuhan, aku ingin kau masuk/ke dalam mulutku/dan aku tak kan pernah bersiwak!”. (hal. 134). Sedangkan puisinya yang bertajuk Variasi pada keheningan misalnya, serta puisi-puisinya yang lain dalam buku ini yang bertemakan luka, terutama dosa telah mampu memberikan nilai masokistis serta menggumpal dengan kedalaman yang cantik pada sajak-sajak religiusnya. (hal. 20).
Disamping kemampuan penulis menafsirkan kejadian secara menakjubkan serta mewujudkannya dalam metafor-metafor yang pas dengan rangkaian kata yang bermakna magis, juga terasa di beberapa bagian lain semacam ada kecanggungan terutama ketika penulis larut dalam sentimentalisme atas kepapaan dan isu sosial seperti carut marutnya kehidupan kota, kemerdekaan atau bencana Aceh. Ada kecanggungan antara menjelaskan dan melukiskan, antara bercerita balada dan bersajak memadatkan rasa. Mungkin ini salah satu kelemahan puisi dalam bukunya kali ini dan dapat kita amati misalnya pada sajaknya yang bertajuk Gadis kecil dalam tenda, Di gerbang Mall, Di dekat bengkel, Doa menjelang lebaran, dan lain sebagainya.
Namun terlepas dari beberapa kecanggungan di atas, buku ini sangat cocok dibaca dan dihayati oleh para penggila sastra terutama puisi, serta patut di acungi jempol karena antologi puisi milik Acep Iwan Saidi ini mempunyai daya kekuatan yang mampu mengajak pembaca bertualang dalam dunia imajinasi serta makna tematik, simbolik dan estetiknya.
Nilai plus buku ini adalah kegeniusan penyair dalam kepenulisan puisi yang melahirkan efek maksimal dari rajutan kata yang minimal, seperti dalam beberapa puisi serta catatan-catatan pendosa macam Acep ini yang hadir sebagai ketulusan religius yang nakal namun diperlukan, bahkan menurut I. Bambang Sugiharto, pengantar buku ini, mengatakan bahwa agar religiusitas tidak menjadi formalitas menyesatkan, maka selain hafal 99 nama Tuhan (asma’ al-husna), ada baiknya pembaca menghayati 99 catatan pendosa milik Acep ini.
Refleksi akhir bahwa, Acep dengan Notasi pendosa-nya maka dia ada, sejajar dengan ungkapan Zainal Arifin Toha, Aku menulis maka aku ada, atau bahkan Rene Descartes dengan sabdanya aku berfikir maka aku ada. Selamat Membaca!.

* Peresensi adalah Mahasiswa Jurusan KI Konsentrasi MP Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya. Salah satu kontributor fungsionaris Ikatan Mahasiswa Sumenep (IKMAS) di Surabaya. Tulisan ini sudah dimuat di Koran OPSI NASIONAL, 15 Januari 2008.
read more “99 SAJAK, BERCERMIN KEPADA AIR”

TESAURUS-NYA WARGA NU

Judul Buku : Antologi NU; Sejarah-Istilah-Amaliah-Uswah
Penulis : H. Soeleiman Fadeli dan Mohammad Subhan, S.Sos
Pengantar : K.H. Abdul Muchith Muzadi
Editor : A. Ma'ruf Asrori
Penerbit : Khalista, Surabaya
Cetakan : I, Juni 2007
Tebal : xvii + 322 halaman
Peresensi : Anwar Nuris *
Kalau bahasa Indonesia mempunyai kamus "Tesaurus" sebagai buku referensi ontemporer yang isinya kompleks, terdiri dari sinonim-sinonim kata atau kelompok kata yang tersusun secara sistematis maka mungkin tidak berlebihan jika buku yang berjudul Antologi NU, sejarah, istilah, amaliyah uswah ini disejajarkan dengan kamus Tesaurus tersebut, sebab dari beberapa ulasan dan pembahasannya yanag kompleks tidak hanya memberikan sumbangsih besar bagi kaum Nahdliyin sendiri tetapi juga oleh banyak pihak luar NU yang ingin tahu dan mendalami tentang NU.Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa berdirinya organisasi NU tidak terlepas dari pemikiran keagamaan dan politik dunia Islam. Setelah Raja Ibnu Saud dikabarkan akan mengadakan muktamar yang mengundang perwakilan organisasi Islam sedunia yang didalamnya akan dibahas tentang penerapan asas tunggal yakni madzhab Wahabi dengan melarang semua bentuk amaliah kegamaan ala ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah, maka keinginan tersebut mendapat respon miring dari umat Islam sedunia, termasuk di Indonesia yang diwakili oleh kaum modernis (Muhammadiyah) serta kaum tradisionalis (Pesantren). Namun dari kedua kubu ini sendiri malah terjadi perselisihan dan perbedaan dari segi keorganisasian formal. Dari perbedaan tersebut, akibatnya kalangan pesantren tidak dilibatkan sebagai delegasi ke Muktamar yang akan berlangsung nanti.
Didorong oleh semangat yang gigih untuk menciptakan kebebasan bermazhab serta peduli terhadap pelestarian warisan peradaban, maka kalangan pesantren terpaksa membuat delegasi sendiri yang dinamai dengan Komite Hijaz, yang diketuai oleh K.H. Wahab Hasbullah. (hal. 69-70).
Alhasil, perjuangan Komite Hijaz di muktamar tersebut yang didukung oleh organisasi Islam yang lain dari segala penjuru di dunia, maka Raja Ibnu Saud mengurungkan niatnya dan hingga saat ini di Mekkah bebas dilaksanakan ibadah sesuai dengan mazhab mereka masing-masing.
Dari perjuangan komite Hijaz tersebut berdirilah organisasi yang di beri nama Nahdlatul Ulama pada tanggal 31 Januari 1926 M/16 Rajab 1344 H di Surabaya. Sebagai jam’iyah diniyah ijtima’iyah (organisasi keagamaan dan sosial) yang menganut faham Ahlussunah wal Jama'ah (Aswaja). Secara sederhana Aswaja-nya NU ini dalam bidang teologi mengikuti pemikiran Abu Hasan al-Asy'ari dan Abu Mansur Al-Maturidi. Dalam bidang fiqh mengikuti salah satu dari empat Madzhab, Hanafi, Maliki, Syafi'i, atau Hambali. Sementara dalam bidang tasawuf, mengembangkan metode Al-Ghazali dan Junaid Al-Baghdadi. Sedangkan pendekatan kemasyarakatan NU dapat dikategorikan menjadi tiga bagian yaitu tawassuth dan I’tidal (moderat), tasamuh (toleran), tawazun (seimbang).
Sejauh menapaki sejarah, NU telah memberikan kontribusi besar bagi bangsa, negara dan agama, baik sekop nasional maupun internasional, baik ketika masih berbentuk jam’iyah ijtima’iyah diniyah Mahdlah (organisasi sosial keagamaan murni) atau setelah menjadi partai politik.
Dengan terbentuknya komite Hijaz di atas yang hasilnya benar-benar mewarnai dunia Islam. NU mendeklarasikan Resolusi Jihad, untuk membakar semangat Arek-arek Suroboyo sebelum peristiwa perang 10 Nopember di Surabaya. Pasca peristiwa G 30 S/PKI 1965, NU adalah organisasi pertama kali menuntut pembubaran PKI. Setelah itu, disaat pemerintah dinilai lamban dan tidak serius menanganinya, fraksi NU mengeluarkan Resolusi Nuddin Lubis (1966). Pada tahun 1967, disaat ketua MPRS dijabat oleh jenderal AH Nasution, NU kembali menggulirkan gebrakan besar. Di tengah Sidang Umum MPRS, muncullah Resolusi Djamaluddin Malik.
Tidak saja dalam perjuangan fisik dan politik NU berperan, namun juga dalam penegakan agama Islam yang Rahmatan lil ‘alamin, yaitu dengan cara mengembangkan dan mengamalkan ajaran Islam Aswaja, sehingga di bidang budaya dan amaliyah NU tetap toleran, bahkan melestarikan sepanjang tidak bertentangan dengan syariat Islam.
Gagasan kembali ke khittah pada tahun 1985, merupakan momentum penting untuk menafsirkan kembali ajaran Ahlussunnah wal Jamaah, serta merumuskan kembali metode berpikir, baik dalam bidang fikih maupun sosial. Serta merumuskan kembali hubungan NU dengan negara. Gerakan tersebut berhasil kembali membangkitkan gairah pemikiran dan dinamika sosial dalam NU. Peran penting diatas tidak lepas dari kreativitas para tokohnya sebagai pengendali NU sekaligus sebagi uswah (teladan) bagi umatnya.
Dalam buku ini, terangkum dalam empat bab. Pertama membahas Nahdlatul Ulama itu sendiri, baik sejarah, unsur eksternal dan internal organisasi. Kedua, istilah-istilah organisasi. Ketiga, budaya serta amaliyah warga NU. Keempat, pemaparan singkat biografi 49 tokoh NU, mulai dari pemberi restu, pendiri, pejuang, penegak, pembaharu, hingga pelestari.
Gaya penulisan buku yang tersusun sistematis layaknya sebuah kamus begitu pula pemberian judul yang sebelumnya ditawarkan oleh responden utama –K.H. Abdul Muchith Muzadi- dengan judul Primbon NU di rubah menjadi Antologi NU oleh editor –A. Ma’ruf Asrori- menjadikan buku ini lebih “menggigit” serta membuat penasaran bagi orang yang melihatnya.
Setelah saya baca keseluruhan buku ini terasa agak “janggal” sebab ternyata rujukan buku ini tidak mengambil langsung dari beberapa buku atau kitab yang sifatnya referensial, melainkan hanya merujuk pada beberapa literatur yang sudah di-Indonesia-kan, misalnya saja al-Qanun al-Asasi li jam’iyah Nahdlatil Ulama karangannya K.H. Hasyim Asy’ari selaku pendiri NU tidak dicantumkan dalam daftar rujukan.
Namun terlepas dari “kejanggalan” tersebut, terobosan yang dilakukan oleh penulis, editor serta para responden ini secara tidak langsung telah membuka lembaran baru khazanah keilmuan di NU dan patut kita acungkan jempol. Bisa jadi kehadiran buku ini memberikan nuansa baru bagi mereka yang masih berkutat di NU maupun di luar NU.
Mungkin sebagai nilai plus buku ini, disana terpampang foto-foto bersejarah sehingga membuat para pengkaji seolah-olah bersentuhan langsung dengan sejarah. Buku semacam ini sangat dibutuhkan, bukan saja oleh kaum Nahdliyin sendiri, tetapi oleh banyak pihak luar NU yang ingin tahu tentang NU. NU tidak hanya dipahami sekilas saja, tapi bagaimana warga NU benar-benar tahu terhadap seluk beluknya NU. Wa Allah A’lamu.

* Anwar Nuris, Mantan Pengurus IPNU ANCAB Gapura Sumenep, Alumnus PP. Nasy'atul Muta'allimin Gapura Sumenep Madura. Dan sekarang tercatat sebagai Mahasiswa Jurusan Kependidikan Islam KI/MP Fak. Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya dan sekaligus salah satu Kontributor Ikatan Mahasiswa Sumenep (IKMAS) di Surabaya. Tulisan ini sudah di muat di Majalah AULA, Juli 2007.
read more “TESAURUS-NYA WARGA NU”

EKSPRESI CINTA YANG BERADAB

Judul Buku : Takut Pacaran Berani Menikah
Penulis : Badai Fisilmikaffah
Penerbit : Lafal Indonesia, Yogyakarta
Cetakan : I, 2007
Tebal : 168 halaman
Peresensi : Anwar Nuris *

Buku ini berangkat dari keprihatinan dan kegelisahan penulis atas fenomena pacaran yang marak dewasa ini. Banyak yang salah kaprah dalam pemaknaan cinta di kalangan remaja. Hamil di luar nikah, aborsi, dan sebagainya, selalu saja mengatas namakan cinta. Padahal jika cinta dipahami secara menyeluruh, maka cinta akan menjadi mahkota yang akan membawa sang pecinta naik pada hakekat cinta itu sendiri, dengan cinta akan tercipta kedamaian, keharmonisan dan kesantunan seperti yang pernah dicelotehkan Kahlil Gibran.
Sebagaimana kita ketahui bahwa istilah remaja, cinta, dan pacaran merupakan tiga komponen yang saling berkaitan. Ketika anak manusia sudah menginjak masa pubertas dan sudah di landa cinta terhadap lawan jenisnya, dia akan berusaha menjalani sebuah ritual khusus ala remaja, yaitu pendekatan dengan mencari perhatian dari lawan jenisnya. Setelah ada rambu-rambu bahwa perasaan cintanya akan diterima maka sang remajapun akan pasang kuda-kuda untuk melancarkan jurus yang selanjutnya, menembak, dan mengungkapkan perasaan cinta. Setelah cintanya mendapat lampu hijau, maka istilah pacar menjadi status dan legalisasi bagi keduanya serta halal untuk melakukan apa saja sebagai wujud cinta yang mereka rasakan. Inilah yang dilarang dalam Islam.
Dengan judul yang cukup menggelitik, Takut pacaran berani menikah, mencintai adalah sebuah dosa, buku ini menjelaskan bahwa dalam Islam tidak ada yang namanya pacaran dan legalisasi halal melakukan apa saja terhadap pacarnya, di mana perilaku yang mengatasnamakan cinta suci itu sebenarnya adalah perilaku zina. Dan ini sesuai dengan realitas aktifitas pacaran yang cenderung melampaui batas norma agama mulai dari khalwat (berduaan), zina mata, zina lisan, zina hati, zina tangan, zina kaki, bahkan zina kemaluan.
Namun perlu digaris bawahi antara pacaran dan cinta, karena tak ada yang salah dengan cinta, sebab cinta adalah fitrah, anugerah terindah pemberian Allah. Tapi dengan pacaran sebagaimana gambaran di atas, perjalanan cinta telah menyesatkan banyak manusia. Esensi cinta yang sejatinya fitri menjadi kabur dan bahkan bergelimang dosa dikarenakan jalan cinta yang mereka tempuh salah. Cinta akan menjadi penyakit hati jika hati kosong dari kecintaan kepada Allah.
Mengutip perkataan Ibnu Qayyim al-Jauziyah bahwa gejolak cinta yang menerpa seseorang merupakan jenis penyakit hati yang perlu penanganan khusus karena berdasarkan kriterianya, cinta dibagi menjadi dua. Pertama, cinta syahwati, yaitu perasaan cinta seseorang yang di dalamnya terdapat keinginan untuk memiliki orang yang dicintai disertai nafsu syahwat uang penuh bujuk rayu setan. Kedua, cinta imani, yaitu perasaan cinta yang memotifasinya untuk meningkatkan kepada Allah SWT, seiring keadaan fitah manusia sebagai hamba Allah.
Penulis juga menjelaskan, meskipun Islam tidak mengenal istilah pacaran sebagai ekspresi cinta mayoritas kaum remaja, namun Islam memberi jalur lain yang lebih aman dan insya Allah penuh keberkahan bagi mereka yang ingin membangun rumah tangga. Yaitu dengan memperbolehkan terjadinya proses perkenalan (ta'aruf) sebelum menikah dengan rambu-rambu khusus yang harus dipatuhi.
Perbedaan hakiki antara pacaran dan ta'aruf adalah dari tujuan dan manfaatnya. Tujuan pacaran lebih pada kenikmatan sesaat, zina dan maksiat. Sedangkan ta'aruf untuk mengetahui kriteria calon pasangan sebagai pintu gerbang menuju pernikahan. Karena pernikahan merupakan ekspresi cinta yang beradab dan menikah adalah sebuah Mitsaqan Ghalizhan, perjanjian yang sangat berat maka banyak konsekuensi yang harus dijalani suami istri dalam berumah tangga.
Jadi, jangan pernah mengambil keputusan untuk menikah hanya karena ‘ingin’, sementara banyak faktor yang belum kita persiapkan, baik faktor materi maupun naon-materi. Jika memang masih belum siap menikah maka alangkah lebih baiknya kaum remaja untuk berpuasa karena puasa merupakan salah satu yang dianjurkan Nabi demi menjaga dan mengendalikan diri dari perbuatan maksiat yang dilarang oleh agama.
Dengan bahasa yang cukup sederhana, lugas, dan cocok bagi kaum remaja yang sedang dilanda kasmaran, buku setebal 168 halaman ini telah memberikan terobosan baru tentang media ekspresi cinta yang baik selain pacaran. Di dalamnya penulis mengupas tuntas mulai dari permasalahan cinta, fenomena pacaran di kalangan remaja, hingga ta’aruf sebagai media alternatif yang baik yang mampu menjaga kesucian cinta.
Nilai plus buku ini, penulis memaparkan kisah-kisah para pelaku ta'aruf yang menawan dan menggetarkan hati, ta'aruf sebagai media syar'i bagi mereka yang takut pacaran tapi berani menikah. Selain itu, di bagian akhir buku ini terdapat risalah berani menikah, didalamnya terdapat konsep, persiapan, dan tujuan menikah. Sungguh sangat menggugah hati kaum remaja yang sedang dilanda kasmaran.

* Peresensi adalah Pimred Bulletin OBHUR Ikatan Mahasiswa Sumenep (IKMAS) di Surabaya. Tulisan ini sayang sekali selalu di tolak oleh media massa.

read more “EKSPRESI CINTA YANG BERADAB”